CERPEN : “Dunia Aku“
“Nak, bagaimana kamu memandang dunia? Apa yang kamu lihat dari dunia ini? Keindahan? Keburukan? Kebaikan? Kejahatan? Kebahagiaan? Penderitaan?”
Pertanyaan yang aneh. Tapi itulah kata-kata yang diucapkan kakekku sebelum beliau pergi meninggalkan dunia ini. Tubuhnya yang lemah terbaring di tempat tidurnya, matanya menatap kosong ke langit-langit. Entah apa yang dipandanginya disana. Setelah menarik nafas sejenak beliau melanjutkan kembali.
“Ada orang yang memandang dunia ini sebagai tempat yang indah. Mereka hidup dengan melihat berbagai keindahan. Gunung yang tinggi menjulang, lembah yang hijau, danau yang berair jernih, sungai yang mengalir indah, pantai dengan pasir putih dan deburan ombak yang medu, lautan yang terhampar luas. Berbagai keindahan alam. Juga menikmati berbagai jenis kenikmatan dunia. Ada juga yang memandang dunia sebagai tempat yang menakutkan. Mereka begini karena melihat berbagai jenis penderitaan hidup, keburukan, kemiskinan, wabah penyakit, kejahatan dan peperangan.”
“Apapun itu, manusia memandang dunia dengan caranya masing-masing. Dengan matanya sendiri. Setiap orang punya perspektifnya masing-masing dalam melihat dunia. Segalanya tergantung dari apa yang dilihat mata, yang didengar telinga, dibaui oleh hidung, diraba kulit dan dikecap lidah. Kemudian disimpan setiap saraf yang menyatu dan membentuk otak. Itulah apa yang dirasakan oleh tubuh. Segala pengalaman itu terakumulasi menjadi satu, membetuk suatu persepsi. Persepsi akan keberadaan diri sendiri. Kesadaran.”
“Kesadaran inilah yang membuat manusia menjadi manusia. Kesadaran yang membuat manusia mengenali dirinya sebagai individu. Sebagai suatu pribadi yang berbeda dengan manusia lain. Sesuatu yang membatasi manusia dengan manusia. Manusia dengan hewan, tumbuhan dan makhluk lainnya. Juga manusia dengan Penciptanya. Kesadaran inilah yang membuat kamu menjadi dirimu. Yang membedakan dirimu dengan kakek, juga dengan orang-orang lain.”
“Tapi satu hal yang perlu kamu ingat nak. Kesadaran yang seperti itu adalah kesadaran yang semu. Sebuah ilusi yang diciptakan dunia ini. Untuk melihat kebenaran, Kamu harus mengetahui dirimu sendiri. Disanalah kamu akan menemukan kesadaran sejati. Ketika kamu menemukannya kamu akan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.”
Setelah itu kakek diam. Matanya mulai terpejam. Aku memperhatikan dada dan perutnya yang masih bergerak naik turun. Meskipun gerakannya lemah, tapi aku tahu saat itu kakek masih bernafas. Beliau mungkin hanya sedang lelah dan ingin beristirahat setelah meracau sejenak. Aku masih tidak mengerti apa maksud perkataan kakek, dan kenapa beliau berbicara seperti itu. Tapi ada satu pertanyaan yang sejak tadi kutahan. Kupikir saat itulah saat yang terbaik untuk menanyakannya.
“Apa kakek takut mati?” tanyaku pelan berbisik di telinganya.
Untuk sejenak aku melihat beliau menarik nafas lebih panjang. Namun kemudian beliau tersenyum. Masih sambil memejamkan matanya beliau menjawab.
“Tidak. Dulu mungkin kakek takut mati. Tapi sekarang tidak. Karena toh kakek tidak akan pergi kemana-mana. Kakek tidak pernah pergi. Kakek ada dimana-mana. Kakek selalu ada, baik di masa lalu, di masa kini, ataupun di masa depan.”
Itulah kata-kata terakhir kakekku. Setelah itu kakek tidak berkata apa-apa lagi. Beliau menutup matanya. Kemudian saat pagi menjelang, beliau sudah meninggalkan dunia ini.
Saat itu aku masih belum mengerti apa maksud perkataan kakek. Apa yang ada di pikiran beliau ketika menyampaikan pesan itu kepadaku. Benarkah pesan itu sebenarnya ditujukan kepadaku? Atau mungkinkah itu hanyalah sebuah perkataan yang diucapkannya kepada diri sendiri?
Bagaimana beliau memandang dunia ini saat akhir hayatnya? Apakah kakek melihat dunia ini sebagai suatu tempat yang indah? Ataukah beliau melihatnya sebagai tempat yang menakutkan?
Bagaimana kakek menjalani kehidupannya selama ini? Puaskah beliau dengan kehidupannya?
Apa yang beliau maksud dengan kesadaran sejati?
Lalu, apa maksud kata-kata terakhir kakek itu?
Kakek tidak pernah pergi. Kakek ada dimana-mana. Kakek selalu ada, baik di masa lalu, di masa kini, ataupun di masa depan.
Kemudian sedikit demi sedikit aku mulai merenungkan wejangannya itu. Bagaimana diriku memandang dunia ini?
Apakah aku memandang dunia ini sebagai sesuatu yang indah? Ya. Aku sering melihat keindahan dunia. seperti kata kakek. Gunung-gunung yang tinggi. Lembah yang hijau. Sungai, danau, lautan, bahkan langit yang biru, matahari yang terang juga bintang-bintang yang berkelap kelip indah di malam hari. Aku juga hidup dengan menikmati berbagai kenikmatan dunia. tempat tinggal yang bagus. Pakaian yang layak. Serta dapat menikmati makanan yang lezat.
Kalau begitu apakah aku juga melihat dunia sebagai sesuatu yang menakutkan? Ini pun juga iya. Aku juga melihat dunia sebagai sesuatu yang menakutkan. Aku melihat berbagai jenis kematian. Wabah penyakit. Bencana alam. Kerusakan lingkungan. Kejahatan antar manusia. Kekerasan, Penyiksaan, dan perang. Semua itu juga terjadi di dunia ini. Meskipun aku tidak mengalaminya secara langsung. Tapi aku dapat melihat fenomena itu dimanapun.
Jadi bagaimana sebenarnya aku melihat dunia?
Aku tidak yakin. Tapi entah kenapa yang selalu ada dalam pikiranku ketika membahas tentang dunia adalah manusia. Manusia yang bermacam-macam. Manusia dengan berbagai sifat dan karakternya. Manusia dengan egonya masing-masing. Seperti kata kakek. Setiap manusia memandang dunia dengan cara yang berbeda beda. Mungkinkah begitu caraku memandang dunia. Sebagai sekumpulan ego-ego manusia. Mereka lahir sebagai individu. Diciptakan sebagai pribadi yang berbeda-beda. Masing-masing memiliki ego. Keakuan. Dunia yang dipenuhi keakuan.
Meskipun aku sudah memikirkannya dalam-dalam, tetap saja aku tidak dapat memahami maksud sesungguhnya dari perkataan kakek saat itu. Hingga suatu ketika jawaban itu akhirnya muncul tepat di depan mataku. Melalui sebuah pengalaman sehari-hari yang tidak begitu istimewa. Tiba-tiba saja aku melihat dunia dengan cara yang begitu berbeda.
Suatu hari aku pergi mengunjungi pasar malam. Suasana disana begitu ramai. Aku melihat berbagai macam orang juga berbagai macam wahana. Ada sekelompok anak muda yang berlari ketakutan keluar dari rumah hantu. Ada pasangan-pasangan muda-mudi yang asik bermesraan di komidi putar. Anak kecil menangis karena gagal mendapatkan hadiah dari sebuah permainan, ada juga anak yang tertawa bahagia karena dibelikan gulali oleh orang tuanya. Ada badut yang sedang menunjukkan atraksi sulap. Juga pengemudi motor yang melajukan motornya dengan kencang dalam tong setan.
Dari berbagai atraksi dan wahana itu. Aku tertarik pada salah satu wahana yang tampak unik. “Istana Cermin” itu namanya. Di pintu masuknya tampak penjaga yang mengenakan topeng dan berpakaian aneh. Karena penasaran, aku segera membeli tiket dan memasuki wahana itu.
Sesuai namanya, tempat itu benar-benar dipenuhi cermin. Mulai dari dinding, lantai dan langit-langitnya semuanya terbuat dari cermin. Aku berjalan menelusuri tempat yang seperti labirin cermin itu.
Karena semuanya dipenuhi cermin. Kemanapun aku memandang yang terlihat hanyalah bayanganku. Bayangan-bayangan yang tak berujung. Semua yang ada disana adalah aku. Ada begitu banyak aku di dalam dunia cermin itu. Disana aku dapat melihat diriku dalam berbagai sisi yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Semakin jauh kedalam, cermin-cermin itu makin beragam bentuknya. Menciptakan bayangan diriku dalam berbagai rupa, berbagai wujud yang aneh dan tampak tak nyata. Dalam dunia cermin itu yang ada hanya aku. Aku, aku dan aku.
Labirin istana cermin itu kini mencapai ujungnya. Ilusi yang sempurna itu sekarang akan menuju akhirnya. Begitu aku melangkahkan kaki ke luar. Aku merasakan ada yang berbeda dari dunia ini. Sang penjaga Istana Cermin itu sekarang telah melepas topengnya. Ternyata selama ini yang ada di balik topeng itu adalah aku. Bukan hanya penjaga itu saja. Semua orang sekarang telah menjadi aku. Anak-anak muda yang memasuki rumah hantu itu, pasangan pemuda-pemudi yang bermesraan di komidi putar, anak kecil yang menangis, anak kecil yang berbahagia bersama orang tuanya. Badut yang sedang bermain sulap. Pengendara motor dalam tong setan. Semuanya adalah aku. Aku, aku, aku. Dunia ini sekarang dipenuhi dengan aku.
Di dunia yang penuh dengan aku ini aku melihat begitu banyak aku. Aku yang menipu aku. Aku menghina aku. Aku menyiksa aku. Aku memperkosa aku. Aku membunuh aku. Aku membenci aku. Aku mencintai aku. Aku menyayangi aku. Aku yang menangis untukku. Aku yang tertawa bersamaku.
Aku yang marah. Aku yang sedih. Aku yang kecewa. Aku yang terluka. Aku yang tertawa. Aku yang gembira. Aku yang bahagia. Aku, aku dan aku. Dimana-mana ada aku.
Aku adalah kejahatan. Aku juga adalah kebaikan.
Orang itu aku. Binatang itu aku. Tumbuhan itu aku. Bunga yang indah bermekaran itu aku. Burung yang berkicau merdu itu aku. Makhluk menjijikkan yang bermain dalam kotoran itu aku. Kotoran itu aku. Air itu aku. Tanah itu aku. Udara itu aku. Api yang panas itu aku.
Semua yang ada di dunia ini aku.
Dunia ini sendiri adalah aku.
Bumi ini aku.
Langit ini aku.
Bulan juga aku
Matahari pun aku
Semua planet yang mengitarinya adalah aku.
Semua bintang-bintang di alam semesta ini aku
Semesta ini aku
Aku aku aku.
Segalanya adalah aku.
Comments
Post a Comment