Posts

[CERPEN] Berlatih Hidup Tanpa Kepala

Image
Kira-kira dimana aku harus menaruh kepala ini? Haruskah aku meletakkannya di atas meja ini. Bukankah tempatnya cukup strategis, tepat di tengah ruangan, sangat mencolok dan mudah dijangkau dari mana saja. Jadi seharusnya ini tempat yang cocok. Tapi tunggu dulu… kepala ini kan bukan untuk dijadikan pajangan. Lagi pula kalau dari tengah meja ini bagaimana caraku mengawasi seluruh ruangan? Kan tidak ada sepasang mata lagi di belakang kepalaku. Apalagi kepalaku tentunya tidak bisa memutar dirinya sendiri. Belum lagi kalau si Hitam datang, bisa-bisa kepalaku malah dijadikannya mainan. Dia kan sering naik ke atas meja ini. Ah, kalau begitu digantung saja di gantungan lampu di atas! Tidak, tidak, itu ide yang bodoh. Memang gerakan akan jadi lebih bebas dan sudut pandang akan jadi lebih luas. Tapi dengan keadaan digantung seperti itu pasti akan sangat tidak nyaman dan kepalaku akan cepat pusing karena mudah berputar-putar atau bergoyang-goyang tanpa terkendali.  Bagaimana dengan bufet itu?...

[CERPEN] Penghuni Kamar Ketiga

Image
Seumur hidup tidak pernah sekalipun aku membayangkan kalau kehidupanku akan berakhir seperti ini. Bahkan memimpikannya dalam mimpi terburuk pun tidak pernah. Lagi pula bagaimana bisa aku membayangkan kalau kehidupanku yang selama ini berjalan normal dan aman akan berakhir di tempat ini. Dalam takdir yang begitu kacau ini.  Jadi, selagi ingatanku masih tersisa aku akan berusaha menceritakan kisahku. Kisah yang akan aku ceritakan ini mungkin akan terasa begitu aneh, kacau dan sulit diterima nalar bagi siapapun yang membacanya. Nemun semua ini benar-benar aku alami. Tentang berbagai peristiwa yang telah aku alami hingga akhirnya semuanya berakhir seperti ini. Bahkan, kalau kuingat kembali, segalanya berawal dari suatu hal yang benar-benar normal. Hanya saja, sepertinya saat itu kebetulan yang mengerikan dari takdir yang kejam sedang menunjuk ke arahku. Semuanya bermula saat aku diterima bekerja sebagai laboran di laboratorium kimia sebuah universitas yang berada di luar daerah. Tentu ...

[CERPEN] Sesuatu yang Ada di Dalam Kegelapan Gua

Image
Ada yang mengatakan rasa penasaran bisa membunuhmu. Memang terdengar berlebihan, tapi bisa saja itu benar. Mungkin aku memang seharusnya tidak mengikuti rasa penasaranku. Mungkin sebaiknya aku bersikap masa bodoh dan menerima saja apa yang dikatakan orang-orang. Dengan begitu maka sekarang aku pasti sedang asik bersantai, tidur-tiduran di kamarku yang nyaman menikmati hari libur yang berharga ini. Bukannya malah menelusuri gua yang gelap, lembap, dan sempit ini. Tapi, seandainya aku tidak memuaskan rasa penasaranku, apakah aku bisa dikatakan hidup? Bukankah itu hakikat hidup manusia? Bukankah itu alasan otak manusia berevolusi? Bukankah itu alasan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat sampai ke titik ini? Untuk mencari tahu. Untuk menyingkap segala misteri yang ada di alam semesta ini. Untuk mengenal Tuhan. Untuk mengenal diri sendiri. Oleh karena itu, dari pada bersantai di rumah aku lebih memilih menghabiskan liburanku dengan menelusuri gua ini bersama Yandi. Ia adalah sahabat...

[CERPEN] Seorang Anak dan Orang dengan Lubang di Dadanya

Image
Anak itu berlari dengan riang. Tentu saja, karena ini adalah pertama kalinya ia pergi ke pasar malam. Selama ini ia hanya bisa membayangkan betapa menyenangkannya suasana pasar malam dari dalam kamarnya yang sempit. Membayangkan berbagai macam permainan yang seru, wahana dan atraksi yang menegangkan juga berbagai jenis makanan, minuman, dan barang-barang lain yang dijual disana. Jadi ketika kesempatan itu akhirnya datang, ia tidak mau menyia-nyiakannya. Ia mencoba berbagai jenis wahana, bianglala, komidi putar, kora-kora. Menonton atraksi tong setan yang mendebarkan dan sulap jalanan yang mengagumkan. Menguji nyalinya dalam rumah hantu yang ternyata hantunya menurutnya lucu bukannya menyeramkan. Memainkan berbagai jenis permainan meskipun hanya memenangkan satu buah gelang kecil. Dan tentunya tidak lupa mencoba berbagai jenis makanan dan minuman yang dijajakan disana. Ia bahkan telah mengantri hingga hampir satu jam hanya demi membeli cumi bakar besar yang menurut orang-orang sangat le...

[CERPEN] Sang Penunggu Pohon Tua

Image
Sang penunggu pohon tua duduk termenung. Matanya menatap jauh ke hiruk pikuk yang sedang terjadi di seberang jalan. Alat-alat berat tampak sibuk bekerja, mengeruk dan meratakan tanah. Beberapa truk besar pengangkut pasir dan tanah juga tampak berlalu lalang tak kalah sibuknya. Entah bangunan macam apa lagi yang akan mereka bangun disana. Sejak beberapa tahun yang lalu pembangunan mulai marak dilakukan di desa tempat sang penunggu pohon tua tinggal. Bangunan-bangunan villa, hotel, penginapan, cafĂ© dan restoran mulai banyak bermunculan disana. Belum lagi ruko-ruko yang sekarang telah berjejer rapi di sepanjang jalan utama desa. Hal ini tentunya banyak merubah wajah desa, membuatnya tampak semakin maju dan modern. “Desa ini sekarang sudah benar-benar berubah. Mungkin ini yang dinamakan perubahan zaman,” renung sang penunggu pohon tua. Saat sedang asik mengamati kesibukan yang terjadi di seberang jalan, seorang anak perempuan tampak berjalan menuju ke arahnya. Ia sangat mengenal anak it...

[CERPEN] Sebelum Lilin Padam

Image
Malam telah semakin larut, entah siapa yang mengaduknya. Matahari telah lama terbenam, pergi menghilang di ujung barat cakrawala. Kegelapan yang pekat perlahan mulai menguasai tempat ini. Awan mendung yang tebal masih menggantung di langit, menutupi sang rembulan yang berusaha membagikan sinarnya. Tentu saja secara teknis itu bukanlah sinarnya sendiri, melainkan sinar dari sang Mentari yang berusaha dipantulkannya ke bumi. Bagaikan cermin ia hanya bisa memantulkan cahaya, tanpa pernah memiliki cahayanya sendiri. Namun seberapapun kerasnya usahanya untuk meneruskan cahaya itu, tidak ada seberkas pun dari cahaya itu yang mampu menembus tebalnya awan hitam yang melingkupi tempat ini. Untungnya riuh tetesan air hujan diselingi dengan hembusan angin kencang dapat memecahkan keheningan di malam yang gelap ini. Dalam gelapnya malam, hanya nyala api dari sebatang lilin yang menerangi tempatku berteduh saat ini. Tempat ini merupakan sebuah pondokan kecil yang terletak di suatu tempat antah ber...

[CERPEN] Menggambar Mimpi

Image
 “Apa yang sedang kamu gambar?” “Mimpiku.” “Tapi tidak ada apapun disana!” “Memang seperti itulah mimpiku,” “Maksudmu, di dalam mimpimu tidak ada apa-apa?” “Bukan begitu. Aku hanya tidak pandai menggambar.” “Kalau begitu apa yang sedang kamu lakukan sebenarnya?” “Aku sedang berpura-pura menggambar. Membayangkan sedang menggambarkan mimpiku di kertas kosong ini.” “Jadi bagaimana sebenarnya mimpimu?” “Jadi begini… sebentar, apakah kamu pandai menggambar?” “Yah… lumayan.” “Nah, kalau begitu bagaimana kalau kamu saja yang menggambarkan mimpiku.” “Boleh saja. Sekarang ayo cepat ceritakan mimpimu.” “Aku bermimpi sedang berada di puncak sebuah bukit dengan hamparan padang rumput yang hijau. Sebuah pohon yang begitu rindang tumbuh disana. Aku berbaring di bawah pohon itu. Menatap langit biru yang membentang luas. Cahaya matahari yang bersinar terik berusaha menerobos di antara celah-celah dedaunan pohon itu. Angin yang berhembus sepoi-sepoi membuatku mengantuk. Ketika aku memejamkan mataku...