[CERPEN] Lorong

Lorong yang panjang ini tampak tak berujung. Seperti akar dari sebuah pohon yang menjalar dalam tanah. Belokan, percabangan, persimpangan, terus muncul tanpa ada habisnya. Tidak ada sorot lampu, hanya cahaya bulan yang berpendar kemerahan satu-satunya sumber penerangan untuk membantu menerangi jalan.

Entah sudah berapa lama aku berjalan menyusuri lorong ini. Entah sudah berapa belokan dan persimpangan pula yang telah kulalui. Namun ujung dari lorong ini masih belum juga terlihat. Sejauh mata memandang, di kiri dan kanan yang tampak hanya dinding-dinding rumah. Sesekali diselingi oleh pagar tanaman. Tidak ada satupun petunjuk jalan.

Lorong ini benar-benar seperti labirin. Labirin! Ya, itu dia kata yang sejak tadi aku cari untuk menggambarkan tempat ini. Sebuah jalan yang menyesatkan. Penuh cabang dan lika-liku yang membingungkan.

Lagi pula memangnya kemana arah yang mau aku tuju? Lalu, apa pula yang sebenarnya aku cari di tempat ini? Semuanya aku sudah tidak tahu lagi. Tidak ingat. Mungkin itu lebih tepatnya. Bagaimana bisa sampai di sini pun juga aku sudah tidak ingat. Saking lamanya aku sudah berputar-putar di lorong ini.

Sekarang lorong di depanku bercabang menjadi dua. Ada yang ke kiri dan ke kanan. Lagi-lagi aku harus memilih jalan yang harus kulalui. Masa bodoh, yang manapun yang kupilih ujung-ujungnya akan sama saja. Toh aku tidak tahu kemana tujuanku. Pikirku sambil melanjutkan langkahku ke kanan. Kemudian lorong itu bercabang lagi menjadi tiga. Lurus. Aku mengambil jalan lurus. Kemudian belok ke kiri, belok ke kanan, kiri lagi, lurus. Begitu terus tidak ada habisnya.

Pada belokan yang selanjutnya aku dikejutkan oleh suatu suara yang terdengar begitu keras di tengah lorong yang sunyi sepi ini. Suara itu adalah suara gonggongan anjing. Aku berusaha mencari sumber suara itu melalui bantuan cahaya merah bulan yang remang-remang. Di tengah jalan, tampak seekor anjing yang berdiri menghadang. Anjing itu besar dan bulunya berwarna hitam legam. Tapi ada satu hal yang aneh. Anjing itu tidak berkepala. (lalu bagaimana caranya ia bisa menggonggong?)

Aku menjadi ragu. Haruskah aku tetap melalui jalan itu? Menerobos melalui anjing hitam yang menghalangi jalan itu. Tidakkah nanti ia akan menerkamku? Tunggu dulu… kalaupun ia menerkamku, bukankah ia tidak akan bisa menggigitku karena ia tidak memiliki kepala. Jadi apa yang mesti aku takutkan dari anjing itu. Kataku meyakinkan diri.

Tapi anjing itu menggonggong semakin keras. Seolah-olah berusaha mengusirku dari tempat itu. Atau mungkin mencegahku agar jangan mengambil jalan itu. mencegahku agar jangan sampai mengusik daerah teritorinya. Melihat keteguhan anjing itu, aku menyerah. Mengalah dan memilih untuk mengambil jalan yang satunya.

Ketika aku menelusuri lorong yang satunya, dari kejauhan tampak sesosok siluet manusia. Setitik harapan mulai muncul di hatiku. Mungkin aku bisa menanyai orang itu. Siapa tahu ia bisa memberi petunjuk tentang jalan yang harus aku ambil. Oleh karena itu, secepatnya aku berusaha mendekati sosok itu.

Sosok itu ternyata adalah seorang wanita tua. Badannya bungkuk dan kurus sekali. Saat kudekati nenek itu tampak sedang kebingungan. Ia celingukan menengok ke arah rumah-rumah seperti mencari sesuatu. Belum sempat aku menyapanya, ia menoleh ke arahku. Tampaknya ia sudah lebih dahulu mengetahui kedatanganku.

“Halo nak, kamu tahu dimana rumahku? Aku sedang mencari rumahku,” katanya.

Aku tertegun. Bukan hanya karena pertanyaannya, namun juga karena wajahnya. Wajah nenek itu begitu kurus dan pucat, sampai-sampai tulang pipi dan dahinya tampak mencuat. Namun yang lebih mengagetkan lagi adalah matanya. Ia tidak memiliki bola mata! Hanya ada lubang kosong disana. Lubang kosong yang gelap dan dalam.

Aku hanya menggelengkan kepalaku, tidak sanggup menjawab.

“Ohh begitu,” ia tampak mengerti. “Aku harus segera menemukan rumahku sebelum badai datang,” lanjutnya sambil meneruskan pencariannya. Aku yang tidak punya tujuan hanya bisa mengikutinya.

Ia terus berjalan sambil sesekali menengok kepada setiap rumah yang dilewatinya. Aku yang berusaha mengikutinya tanpa sadar juga ikut menoleh ke arah rumah-rumah itu. Baru kusadari ternyata selama ini rumah-rumah itu ada penghuninya. Selama ini aku hanya berjalan saja tanpa memperhatikan kondisi rumah-rumah yang telah kulewati.

Melalui cahaya remang-remang yang muncul dari tiap jendela aku dapat melihat sosok para penghuni rumah. Dari salah satu rumah tampak sosok pria tua. Di rumah lain tampak sosok anak perempuan. Di rumah lainnya tampak sosok remaja. Ada pula ibu-ibu dan bapak-bapak berbagai rupa. Semuanya kurus kering kerontang dan pucat. Mereka juga hanya berdiri diam di depan jendela. Melihat dengan pandangan kosong ke luar jendela (mungkin tidak tepat dikatakan melihat atau memandang karena toh mereka semua tidak memiliki bola mata).

Akhirnya sang nenek berhenti di sebuah rumah yang tampak kosong.

“Sepertinya disini rumahku,” katanya. Ia tampak menggenggam sebuah anak kunci. Entah sejak kapan anak kunci itu ada di tangannya. Ia melangkah maju menuju pintu rumah itu. memasukkan anak kunci yang ada di tangannya ke lubang kunci yang ada pada pintu kemudian memutarnya. Anak kunci itu berputar dengan mulus. Sang nenek mengangguk dengan puas. Ia menoleh kepadaku dan mengucapkan selamat tinggal.

Sekarang lagi-lagi aku sendiri menyusuri lorong ini. Di salah satu tembok pagar rumah, aku melihat seekor kucing. Sama seperti anjing tadi, kucing itu juga berwarna hitam dan tidak memiliki kepala. Aku memutuskan untuk mengikuti kucing itu. Aku berjalan melalui puluhan bahkan ratusan tikungan. Entah untuk mencari apa. Tapi entah kenapa aku merasa harus tetap melangkahkan kakiku. Hingga tanpa kusadari kucing itu menuntunku berhenti tepat di sebuah percabangan yang besar.

Kali ini jalan itu tidak hanya bercabang tiga atau empat. Melainkan pecah menjadi delapan bagian yang menuju ke masing-masing arah mata angin. Tepat di tengah-tengah persimpangan itu tumbuh sebuah pohon yang sangat besar. Mungkin itu sebuah pohon beringin atau sejenisnya, karena daunnya begitu rindang dan sulurnya amat banyak. Kucing itu tiba-tiba menghilang entah kemana.

Kulihat seseorang sedang duduk bersila di bawah pohon itu. Orang itu kelihatan aneh. Lebih aneh dari orang-orang yang kulihat tadi. Orang itu juga begitu kurus seperti orang-orang tadi, namun kaki, tangan dan jari-jarinya begitu panjang. Selain itu aku juga tidak dapat mengetahui apakah orang itu adalah laki-laki atau perempuan. Tubuhnya hanya ditutupi selembar kain putih dan yang paling penting ia tidak memiliki wajah! Tidak ada alis, mata, hidung, mulut, bahkan telinga. Wajahnya benar-benar mulus seperti tembok yang baru diplester. Hanya tulang dahi, pipi dan dagunya saja yang tampak mencuat.

Melihatku datang, orang itu tiba-tiba bangkit dari duduknya.

“Anda datang dari mana?” tanyanya. (Meskipun ia tidak memiliki mulut untuk berbicara, entah kenapa aku bisa mendengar suaranya.)

 “Tidak tahu. Tidak ingat,” jawabku.

“Kenapa anda bisa sampai disini?” lanjutnya

“Entahlah,” jawabku lagi.

“Apa yang anda cari disini?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Melihatku diam, orang itu juga tetap diam. Seolah-olah menunggu jawaban dariku.

Tidak tahan dengan keheningan yang mencekam ini, aku akhirnya berkata,

“Rumah. Mungkin aku mencari rumah.”

“Untuk apa anda mencari rumah?”

“Orang-orang bilang badai akan datang,” kataku.

“Menurut anda badai akan datang?”

Aku memandang ke langit. Langit tampak cerah. Bulan yang berwarna merah itu memancarkan sinarnya yang redup. Bintang-bintang juga tampak berkilauan. Tidak ada awan. Hanya angin yang kadang bertiup sepoi-sepoi.

Aku menggeleng.

“Meski begitu anda tetap ingin mencari rumah?”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu mari kita mencari rumah anda.”

Ia berjalan mendahuluiku menelusuri salah satu dari delapan cabang yang ada. Aku mengikuti di belakangnya.

Sambil berjalan aku menanyakan sesuatu kepadanya, “Anda ini sebenarnya siapa?”

“Sama seperti anda, aku sendiri juga tidak tahu,” jawabnya.

“Ini sebenarnya tempat apa?” lanjutku.

“Itu juga aku tidak tahu,” jawabnya lagi. Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan lagi. “Anda lihat orang-orang yang ada di dalam rumah itu?” katanya sambil menunjuk para pemilik rumah yang sedang berdiri diam menatap kosong ke luar jendela. “Mereka sama seperti kita. Mereka adalah orang-orang yang mencari sesuatu. Dan akhirnya menemukan sesuatu.”

“Lalu kenapa mereka semua berdiri diam memandang ke luar jendela?” aku penasaran melihat itu semua.

“Mereka menunggu datangnya badai. Oleh karena itu mereka mencari rumah. Untuk berlindung dari badai yang entah kapan datangnya.” Lagi-lagi ia diam sejenak, sebelum kemudian suaranya kembali terdengar.

“Mereka menemukan rumahnya tapi pada akhirnya tidak mengetahui siapa dirinya. Ada pula yang memilih untuk tidak mencari rumahnya namun berusaha untuk mengetahui siapa dirinya.”

Untuk sejenak aku merenung mendengar apa yang dikatakannya.

Kami melanjutkan perjalanan. Melewati puluhan bahkan ratusan percabangan lainnya. Sampai akhirnya kami menemukan sebuah rumah yang kosong.

“Mungkin ini rumah yang anda cari. Anda seharusnya memiliki kuncinya,” katanya.

Entah sejak kapan di dalam genggaman tanganku sudah ada anak kunci. Aku berjalan menuju pintu rumah itu. Memasukkan anak kunci itu ke dalam lubang kuncinya. Sebelum memutar anak kunci itu, hatiku tiba-tiba dipenuhi keraguan. Aku mengingat semua yang dikatakan orang tanpa wajah itu. Merenungi setiap kata-katanya.

Melihat keraguanku, orang itu tiba-tiba berkata.

“Jadi apa yang sebenarnya anda cari? Rumah atau diri anda sendiri?”

Entahlah, Aku juga tidak tahu.


Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia

[CERPEN] “Dunia Aku“

REVIEW KAMEN RIDER SABER : MEMPERINGATI 15 EPISODE KAMEN RIDER SABER