[CERPEN] Menggambar Mimpi

 “Apa yang sedang kamu gambar?”

“Mimpiku.”

“Tapi tidak ada apapun disana!”

“Memang seperti itulah mimpiku,”

“Maksudmu, di dalam mimpimu tidak ada apa-apa?”

“Bukan begitu. Aku hanya tidak pandai menggambar.”

“Kalau begitu apa yang sedang kamu lakukan sebenarnya?”

“Aku sedang berpura-pura menggambar. Membayangkan sedang menggambarkan mimpiku di kertas kosong ini.”

“Jadi bagaimana sebenarnya mimpimu?”

“Jadi begini… sebentar, apakah kamu pandai menggambar?”

“Yah… lumayan.”

“Nah, kalau begitu bagaimana kalau kamu saja yang menggambarkan mimpiku.”

“Boleh saja. Sekarang ayo cepat ceritakan mimpimu.”

“Aku bermimpi sedang berada di puncak sebuah bukit dengan hamparan padang rumput yang hijau. Sebuah pohon yang begitu rindang tumbuh disana. Aku berbaring di bawah pohon itu. Menatap langit biru yang membentang luas. Cahaya matahari yang bersinar terik berusaha menerobos di antara celah-celah dedaunan pohon itu. Angin yang berhembus sepoi-sepoi membuatku mengantuk. Ketika aku memejamkan mataku. Tiba-tiba seekor zebra bertanduk berlari melompatiku.”

“Zebra bertanduk? Kamu yakin itu bukan kuda. Bukannya biasanya kuda yang bertanduk, seperti dalam cerita-cerita dongeng.”

“Bukan. Itu jelas bukan kuda. Aku yakin itu bukan kuda. Badannya kecil dan dipenuhi loreng-loreng. Tunggu… setelah kuingat-ingat, loreng badannya sepertinya memang bukan hitam putih tapi oranye hitam!”

“Berarti itu harimau!?”

“Bukan bukan. Itu bukan harimau. Badannya benar-benar seperti zebra, kuda yang kecil tapi bukan keledai. Harimau tidak mungkin punya badan seramping itu. Lagi pula itu kan hanya mimpi kenapa pula dipermasalahkan.”

“Oke oke. Jadi kamu bermimpi berada di atas bukit, berbaring di bawah sebuah pohon kemudian seekor zebra bertanduk dengan loreng harimau melompatimu. Lalu?”

“Lalu zebra aneh itu menghilang entah kemana. Kemudian aku tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi…”

“TUNGGU SEBENTAR! Jadi kamu bermimpi dalam mimpimu!?”

“Hmm…yah sepertinya begitu.”

“Dan kamu yakin kita tidak sedang dalam mimpimu yang lain?”

“Yaahh… mungkin juga. Tapi bukannya itu tidak penting. Bukankah bisa saja kehidupan ini sebenarnya hanyalah sebuah mimpi yang panjang dan kita akan benar-benar terbangun saat kita mati nanti. Atau bahkan mungkin saja kita ini hanya sekedar karakter yang muncul dalam tulisan seseorang.”

“Masuk akal juga. Jadi, bagaimana kemudian mimpi dalam mimpimu itu?”

“Dalam mimpiku itu aku berada di sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang badut. Di sana semuanya tampak kacau balau. Bagaimana tidak, rajanya sendiri sebenarnya tidak mempunyai kemampuan untuk memimpin negeri. Ia tidak punya visi sama sekali mengenai masa depan kerajaannya. Sebenarnya ia menjadi raja bukan demi kesejahteraan rakyatnya, melainkan untuk memenuhi ambisinya pribadi. Kemudian ia mengangkat sahabat-sahabatnya untuk mengisi jabatan-jabatan penting di istana meskipun sebenarnya orang-orang itu sama sekali tidak memiliki kompetensi yang sesuai untuk mengisi jabatan itu. Orang-orang itu tentu saja dengan senang hati menerima jabatan-jabatan itu, karena dengan begitu mereka semua bisa menikmati segala kenikmatan dan kemewahan yang hanya bisa diterima anggota kerajaan. Semuanya itu dilakukan hanya berdasarkan kepentingan dan keuntungan pribadi.

Raja itu juga memiliki seorang pengawal yang setia. Ia tipe orang yang selalu merasa sok penting. Hanya karena ia adalah tangan kanan kepercayaan raja. Padahal sebenarnya ia tidak punya kemampuan yang istimewa. Orang itu juga adalah satu-satunya sumber informasi raja. Segala hal yang ingin disampaikan kepada raja harus disampaikan melalui orang itu. Jadi secara tidak langsung ia menjadi orang yang cukup berkuasa. Padahal pangkatnya sebenarnya hanyalah prajurit biasa. Orang itu benar-benar orang yang menyebalkan.

Kemudian, dalam pemerintahannya sang raja sering meminta rakyatnya untuk hidup hemat. Namun uang pajak yang ditarik justru malah semakin besar. Sementara ia sendiri selalu hidup dengan gaya yang bermewah-mewahan. Intinya segalanya yang dilakukannya benar-benar bertentangan dengan apa yang diucapkannya.

Belum lagi raja itu benar-benar hobi pelesir. Ia sering bepergian mengunjungi negeri-negeri lain. Sayangnya perjalanan itu bukan demi kepentingan diplomasi, melainkan hanya ajang perkenalan diri. Ia ingin dianggap sebagai orang penting dalam percaturan dunia. Namun tentu saja jati dirinya sebagai badut tak bisa mengkhianatinya. Seberapa keras pun usahanya agar terlihat gagah diantara raja-raja yang lain, tetap saja mereka melihatnya hanya sebagai badut lucu, jenaka yang mudah dimanfaatkan.

Yang lebih parahnya lagi, raja ini benar-benar membenci orang-orang yang pintar dan kritis. Ia tidak ingin ada orang yang lebih pintar dari dirinya. Ia benci mendengar kritikan yang ditujukan kepada dirinya. Oleh karena itu apabila ada orang yang pintar, lebih-lebih lagi berani mengkritisi dirinya maka ia tidak segan-segan akan langsung menjebloskan orang itu ke dalam penjara. Tuduhan yang diberikan kepada orang itu bisa bermacam-macam, mulai dari menyebarkan berita bohong, mengganggu stabilitas negeri, menentang pemerintahan, bahkan sampai dituduh sebagai mata-mata negara lain. Intinya setiap orang yang pintar dan aktif mengkritisi sesuatu yang dilakukannya akan dianggap sebagai musuhnya. Padahal orang-orang itu hanya orang yang peduli akan masa depan negerinya.

Saking alerginya ia terhadap orang-orang pintar. Ia bahkan tidak mau memprioritaskan pendidikan di negerinya. Menurutnya orang pintar susah dikendalikan. Jadi dibandingkan memberikan akses pendidikan yang layak kepada rakyatnya, ia lebih suka membagi-bagikan makanan kepada mereka.

‘Perut lapar hati bergetar, perut kenyang hati pun riang,’ itu motonya.”

“Alergi terhadap orang pintar, anti kritik, mengabaikan pendidikan itu jelas bukan hal yang baik. Tapi bukannya ia bisa dibilang raja yang dermawan kalau ia memang senang berbagi makanan?”

“Iya, kalau makanan yang dibagikan memang makanan yang berkualitas bagus. Tapi kalau makanan yang dibagikannya adalah makanan sisa, apa bisa dibilang dermawan?”

“Jadi raja itu memberikan makanan sisa kepada rakyatnya?”

“Tadi kan sudah kuceritakan kalau raja itu orang yang suka hidup bermewah-mewahan. Nah raja itu juga suka sekali berpesta. Ia suka mengadakan pesta makan-makan di istana bersama dengan para pejabat yang merupakan sahabat-sahabatnya seperti yang sudah kuceritakan tadi. Segala jenis makanan dan minuman berkualitas tinggi dari seluruh negerinya lengkap tersaji dalam pesta itu. Setiap hari mereka melahap semuanya dengan rakus. Tapi tentu saja seberapapun laparnya mereka, tetap saja tidak bisa menghabiskan semuanya. Sisa-sisa makanan itulah yang kemudian dibagikan kepada rakyat-rakyatnya.”

“WOW! Aku ingin berkomentar tapi kehabisan kata-kata. Lalu bagaimana nasib kerajaan itu selanjutnya?”

“Nah ini dia bagian menariknya! Suatu hari saat sedang mengadakan pesta makan-makan di istana, terjadi kebakaran hebat yang membakar seluruh bangunan istana. Mereka semua berusaha menyelamatkan diri namun tidak ada yang bisa bergerak karena perut mereka sudah terlalu buncit akibat kekenyangan. HAHA lucu sekali pemandangan itu.”

“Sebentar! Kenapa istana itu bisa terbakar?”

“Dapurnya meledak.”

“Meledak!?”

“Iya. Tabung gasnya meledak. Tampaknya salah seorang pekerja di dapur tidak percaya kalau LPG itu bentuknya cair. Mereka berdebat kemudian saling berusaha membuktikan pendapatnya. Lalu terjadi kecelakaan dan BOOMM!! Tamatlah sudah.”

“Wah kacau sekali. Jadi kamu ingin aku menggambarkan situasi ini?”

“Tepat sekali.”

“Oke, oke. Jadi aku harus menggambarkan raja dan bawahannya terjebak dalam istana yang terbakar dan tidak bisa lari karena perut mereka membuncit kekenyangan.”

“Benar sekali. Oh dan jangan lupa menggambarkan raja itu sebagai badut. Dan mereka semua berperut buncit karena kekenyangan. Oh iya satu lagi, gambarkan juga seseorang yang hanya berdiri diam disana.”

“Siapa orang itu?”

“Anak dari raja terdahulu.”

“Raja terdahulu? Bukannya raja itu turun temurun?”

“Di kerajaan lain iya. Tapi di kerajaan ini tidak. Di kerajaan ini ada banyak keluarga tuan tanah yang kaya raya. Pada zaman dahulu mereka selalu berperang untuk memperebutkan kekuasaan sehingga membuat kondisi negeri tidak stabil. Kemudian akhirnya disepakati kalau yang berhak menjadi raja adalah perwakilan salah satu keluarga tuan tanah yang dipilih oleh rakyat.”

“Jadi raja ini dipilih oleh rakyat. Lalu kenapa mereka memilih badut?”

“Entahlah. Mungkin mereka butuh hiburan. Walaupun pada akhirnya malah menjadi kekacauan.”

“Lalu apa yang dilakukan anak raja terdahulu itu disana?”

“Aku juga tidak tahu. Ia hanya diam saja. Tidak melakukan apa-apa.”

“Baiklah, aku sudah selesai menggambarkannya. Aku sudah menggambarkan dirimu yang tertidur di puncak bukit yang hijau bersama kuda zebra bertanduk dengan belang harimau. Kemudian ini gambar kedua, raja badut bersama bawahannya yang kekenyangan terjebak dalam kebakaran di istana.”

“Wow bagus sekali. Benar-benar persis dengan apa yang kulihat dalam mimpi. Kamu memang benar-benar berbakat.”

“Lalu kemudian, bagaimana akhir mimpimu? Bagaimana nasib kerajaan itu?”

“Tidak tahu, Mimpiku berakhir disitu, Kemudian aku bangun.”

“Dan kamu bangun di dunia ini?”

“Tidak. Aku terbangun di sebuah menara kembar yang sangat tinggi. Aku harus mendaki beribu-ribu anak tangga untuk bisa mencapai puncaknya. Di puncak Menara itu terdapat ruang observasi yang dilengkapi dengan teropong untuk mengamati pemandangan sekitar. Aku mencoba mengintip melalui teropong itu, dan aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat.”

“Jadi apa yang kau lihat?”

“Aku melihat sebuah bukit yang hijau. Di puncaknya terdapat pohon yang rindang. Aku sedang tertidur di bawah pohon itu dan kemudian seekor zebra bertanduk dengan loreng harimau datang dan melompatiku.”

Tamat.


Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia

[CERPEN] “Dunia Aku“

[CERPEN] Lorong