[CERPEN] Sebelum Lilin Padam

Malam telah semakin larut, entah siapa yang mengaduknya. Matahari telah lama terbenam, pergi menghilang di ujung barat cakrawala. Kegelapan yang pekat perlahan mulai menguasai tempat ini. Awan mendung yang tebal masih menggantung di langit, menutupi sang rembulan yang berusaha membagikan sinarnya. Tentu saja secara teknis itu bukanlah sinarnya sendiri, melainkan sinar dari sang Mentari yang berusaha dipantulkannya ke bumi. Bagaikan cermin ia hanya bisa memantulkan cahaya, tanpa pernah memiliki cahayanya sendiri. Namun seberapapun kerasnya usahanya untuk meneruskan cahaya itu, tidak ada seberkas pun dari cahaya itu yang mampu menembus tebalnya awan hitam yang melingkupi tempat ini. Untungnya riuh tetesan air hujan diselingi dengan hembusan angin kencang dapat memecahkan keheningan di malam yang gelap ini.

Dalam gelapnya malam, hanya nyala api dari sebatang lilin yang menerangi tempatku berteduh saat ini. Tempat ini merupakan sebuah pondokan kecil yang terletak di suatu tempat antah berantah namun pemandangannya cukup indah. Ada hutan dengan berbagai jenis pepohonan yang rindang, bukit dan lembah dengan padang rumput yang hijau, juga sungai-sungai dengan air yang mengalir jernih. Tentunya aku pergi ke tempat ini dengan niat untuk menenangkan diri. Melepaskan diri dari segala hiruk pikuk kehidupan duniawi. Tapi sayangnya aku datang ke tempat ini pada waktu yang tidak tepat. Bukannya menikmati suasana alam yang menyegarkan, sekarang aku harus terjebak di pondokan yang kecil ini, sendirian, di tengah kegelapan malam dalam cuaca buruk yang entah kapan akan berakhirnya.

Pondok ini benar-benar kecil dan sederhana. Luasnya hanya sekitar 3x3 meter. Dilengkapi dengan toilet kecil di salah satu sudutnya. Perabotannya hanya terdiri dari seperangkat meja dan kursi kayu juga sebuah sofa tua yang merangkap sebagai tempat tidur. Meskipun begitu, tempat ini tentu saja dapat dibilang tempat yang sangat nyaman untuk berlindung dari terjangan hujan badai yang sedang melanda.

Aku duduk di kursi kayu, menatap pada nyala api dari sebatang lilin di atas meja. Lilin itu adalah lilin satu-satunya yang kumiliki sebagai penerangan di pondok ini. Sebenarnya bisa saja aku mematikan lilin itu dan pergi tidur. Berjalan-jalan di alam mimpi, menunggu hingga pagi datang. Berharap esok pagi badai telah berlalu dan matahari kembali bersinar cerah. Namun sayangnya aku belum mengantuk. Jadi aku hanya duduk diam. Termenung menatap nyala lidah api itu.

Lidah api kecil itu menari-nari dengan riang. Hembusan angin yang menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi pondok membuat lidah api kecil itu menari dengan lebih bersemangat lagi. Entah sudah berapa lama aku tidak melihat tarian lidah api, tapi setiap melihatnya aku selalu merasa kagum. Spektrum warnanya yang begitu indah, juga gerakannya yang dinamis, membuat lidah api itu terlihat seolah-olah sebagai sesuatu yang benar-benar hidup.

Mungkinkah ini yang membuat api menjadi salah satu elemen yang penting bagi manusia. Karena ia adalah bentuk nyata dari energi yang dapat dilihat dan dirasakan.

Bahkan mungkin hampir setiap orang pada masa kecilnya memiliki ketertarikan terhadap api. Memandang api sebagai sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang magis. Sesuatu yang indah namun juga berbahaya pada saat yang sama.

Untuk beberapa lama aku termenung menatap tarian lidah api itu. memikirkan berbagai filosofi mengenainya. Sampai tiba-tiba aku dikagetkan oleh suatu suara di belakangku.

“Uhk ekhm ekhm!”

Suaranya seperti ada seseorang yang sedang berdeham. Aku mencoba menajamkan telinga.

Mungkinkah pikiranku sedang mempermainkanku? Tidakkah itu hanya suara angin atau hujan di luar?

Tapi suara itu terdengar lagi. Kali ini benar-benar nyata, dan asalnya tepat dari belakangku.

Badanku menegang. Jantungku berdegup semakin kencang. Keringat dingin mulai membasahi punggungku.

Mungkinkah ada orang lain selain aku di pondok ini?

Beranikah aku menoleh ke belakang?

Aku mencoba mengumpulkan keberanianku dan perlahan-lahan menengok ke belakang. Tapi ternyata tidak ada apapun disana. Tidak ada orang lain. Yang terlihat hanya bayanganku di tembok. Bayangan hitam pekat yang menari-nari dengan gerakan yang tampak mengerikan.

Aku menghembuskan nafas lega. Pasti itu tadi hanya khayalanku saja, Terjebak sendirian di sebuah pondok kecil dengan penerangan seadanya, di tempat antah berantah dalam cuaca yang buruk pasti telah membebani mental dan pikiranku.

“Uhuk uhuk! Cuacanya buruk sekali ya.”

Apa!? Suara itu lagi!

Mungkinkah suara itu berasal dari bayangan di depanku ini?

Bayangan itu jelas-jelas merupakan bayanganku sendiri. meskipun saat ini aku sedang duduk diam tidak bergerak, tertegun menatap bayangan itu, namun bayangan gelap itu justru malah bergerak dengan gerakan yang mengerikan. Seolah-olah mengikuti tarian sang lidah api yang diiringi oleh irama yang dilantunkan hujan dan angin kencang di luar.

“Halo! Halo! Kamu bisa dengar kan? Ya kan? Kan?” kata suara itu lagi.

AHAHAHA. Gila! Aku pasti sudah gila! Tapi apakah terjebak sendirian di tempat ini dalam kondisi begini benar-benar bisa membuatku gila? Tidak. Harusnya tidak. Tapi kalau begitu kenapa aku mendengar suara-suara yang seharusnya tidak aku dengar? Apakah itu hantu? Apakah hantu itu ada? Apakah memang ada sosok yang menghantui tempat ini? Atau suara itu hanya berasal dari dalam pikiranku?

“Apakah memang bayangan ini yang berbicara padaku?” gumamku setengah bertanya pada diriku sendiri.

“Siapa lagi? Kan cuma ada kita berdua disini,” jawabnya. “Yah... Mungkin tiga kalau kita menghitung lilin itu. Enam, kalau kita menghitung cicak di dinding. Atau mungkin puluhan kalau kita menghitung tikus-tikus yang bersembunyi di langit-langit.”

“AHAHA. Kalau begitu aku benar-benar sudah gila.”

“Hmm? Memangnya kenapa kalau gila? Bukannya semua orang juga punya kegilaannya masing-masing?

“…” aku tidak menjawabnya.

“Lagi pula bukankah membosankan berada di pondokan ini sendirian di tengah malam yang gelap dalam cuaca buruk seperti ini,” lanjutnya. “Jadi dari pada cuma menatap api lilin itu semalaman, lebih baik kita mengobrol saja sampai lilin itu padam.”

Aku masih tidak menanggapinya. Tapi sepertinya bayangan itu tidak peduli dan tetap melanjutkannya.

“Jadi kenapa kamu datang ke tempat ini?” tanyanya.

Haruskah aku menjawabnya? Kalau yang berbicara ini memang bayanganku atau suara dalam otakku bukankah seharusnya ia sudah tahu jawabannya?

“Untuk menyegarkan pikiran dari kejenuhan tentu saja. Kadang-kadang kita perlu menjauh dari kehidupan sehari-hari yang menjemukan,” jawabku memilih untuk mengikuti permainannya.

“Kalau hanya itu bukannya ada tempat yang lebih baik dan sesuai. Kenapa harus memilih datang ke tempat yang seterpencil ini? (meskipun pemandangan dan suasana di tempat ini memang indah sih)”

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin mencari tempat yang indah dan tenang. Dan pada akhirnya langkahku membawaku sampai ke tempat ini.”

“Jadi apakah menurutmu tempat ini sesuai dengan apa yang kamu cari?”

“Yah, kira-kira begitu. Ada hutan dengan berbagai jenis pepohonan yang indah, ada bukit dan lembah dengan padang rumput yang hijau, juga ada sungai-sungai dengan air yang mengalir jernih.”

“Ah, tapi sayangnya kamu kesini justru malah di waktu yang tidak tepat. Kamu tiba justru di saat badai datang,” katanya dengan nada menyesal. Ia diam sejenak sebelum kemudian melanjutkan kembali. “Menurutmu badai ini akan segera reda?”

“Tentu saja. Seperti kata pepatah, badai pasti berlalu,” aku mengangguk yakin.

“Apakah kamu yakin akan bisa menikmati keindahan alam seperti yang kamu katakan tadi setelah badai ini reda?”

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

“Yah… katakan saja setelah badai ini berlalu dan pagi menjelang, awan-awan telah hilang, langit kembali biru, matahari bersinar cerah. Tapi, bagaimana kalau badai malam ini ternyata telah memporak-porandakan segalanya. Angin menumbangkan pohon-pohon, sungai meluap dan airnya menjadi keruh, kemudian bukit dan lembah yang hijau itu longsor karena tanahnya tidak stabil. Apa yang akan kamu lakukan seandainya pemandangan seperti itu yang menantimu setelah badai ini reda? Apakah kamu akan tetap di sini atau akan kembali ke tempat asalmu?”

Sial! Benar juga dia. Aku belum pernah memikirkan kemungkinan seperti itu. Sejak tadi aku selalu berpikir kalau besok setelah hujan badai ini reda aku akan bisa bebas menikmati suasana alam yang indah di luar sana. Tapi, kekacauan dan bencana! Semuanya benar-benar tidak pernah ada dalam bayanganku. Sial!

Selama beberapa saat aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa, karena aku memang tidak tahu apa yang akan kulakukan seandainya memang itu yang terjadi. Hanya keheningan yang ada di antara kami.

Hening?

Apakah di luar badai sudah reda?

“Sepertinya sebentar lagi lilin itu akan padam,” kata bayangan itu tiba-tiba memecah keheningan.

Aku menatap lilin yang telah hampir habis. Lidah api itu sudah semakin kecil, tariannya melemah. Lelehannya telah banyak menggenangi meja bahkan hingga menetes ke lantai.

“Lalu apa yang akan terjadi padamu saat lilin ini padam?” tanyaku.

“Apa yang terjadi padamu saat lilin ini padam?” Tanyanya balik. Tapi ia tidak memberiku kesempatan untuk menjawab, karena ia langsung melanjutkan. “Bagimu saat lilin ini padam yang ada hanya kegelapan. Kamu tidak akan bisa melihat apa-apa, tapi tentunya kamu tahu dan sadar kalau dirimu ada. Kamu bahkan tahu kalau meja, kursi, pondok, hutan, sungai dan lainnya itu ada. Kamu hanya tidak dapat melihatnya karena saat itu segalanya diliputi kegelapan. Bukankah begitu?”

Aku mengangguk.

“Apa kamu tahu aku ini apa?” lanjutnya.

“Bayangan?” jawabku tidak yakin.

“Kamu tahu kan bayangan itu apa?”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk.

“Kalau begitu tentunya kamu tahu apa yang akan terjadi padaku saat lilin ini padam,” balasnya sambil tertawa.

Tepat ketika itu, lilin itu mencapai batasnya. Sang lidah api yang semakin kecil dan lemah akhirnya padam dan tidak akan menari kembali. Kegelapan dan kesunyian yang pekat sekarang menguasai tempat ini.


Comments

Popular posts from this blog

[CERPEN] Menggambar Mimpi

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia