[CERPEN] Babi Ngepet
Di tengah kegelapan malam, hewan itu terus berlari. Menghentakkan kakinya sekuat tenaga menjauhi para pengejarnya. Tidak jauh dibelakangnya terdengar riuh suara derap langkah kaki, sorak-sorakan, juga kilatan lampu senter yang menyilaukan berusaha mengikuti jejak langkahnya. Hewan itu tidak punya pilihan selain terus menggerakkan kakinya, berusaha fokus menghindari halangan serta rintangan yang bisa menghalangi jalannya. Karena sekalinya ia gagal berlari, apalagi sampai tersandung maka para pengejarnya akan berhasil menangkapnya, yang mana berarti tamat sudah riwayatnya.
Sambil berlari, matanya awas memperhatikan lingkungan sekitarnya. Berusaha mencari tempat untuk sembunyi karena tentunya ia tidak bisa terus menerus berlari. Ia harus bisa kabur meninggalkan para pengejarnya secepat mungkin, atau mencari tempat untuk bersembunyi menunggu hingga keadaan tenang sebelum akhirnya kembali ke tempat asalnya. Namun sayangnya yang tampak disekitarnya hanyalah bangunan berdinding bata berbalut semen, rumah-rumah penduduk, tidak ada tempat untuk berlindung dan bersembunyi.
Suara para pengejarnya masih terdengar riuh dibelakangnya, bahkan terdengar semakin ramai. Mungkin karena orang-orang di sekitar rumah yang ia lewati mulai keluar dan ikut memburunya. Kakinya yang sejak tadi dipaksanya berlari kini terasa mulai lelah dan berat. Ia sudah tidak kuat lagi berlari. Untungnya saat ini ia sudah mencapai daerah yang lebih lapang, bebas dari rumah-rumah penduduk. Di ujung tanah lapang ini tampak daerah yang dipenuhi dengan rerimbunan pohon dan juga semak belukar yang cocok untuk dijadikan tempat berlindung. Ia memaksakan kakinya untuk bergerak sedikit lagi. Diterangi seberkas cahaya bulan yang menerobos celah-celah awan ia berusaha secepatnya menyeberangi tanah lapang itu. Sayangnya berkas cahaya bulan yang menyorotinya ini membuat para pengejarnya semakin mudah menemukannya. Teriakan dan sorakan mereka semakin riuh terdengar. Tapi ia tidak gentar. Begitu ia mencapai rerimbunan pohon itu, maka keuntungan akan berada dipihaknya. Akan ada banyak tempat untuk bersembunyi di antara bayang-bayang pepohonan itu.
Ketika akhirnya ia mencapai rerimbunan pepohonan itu, betapa leganya ia karena sesuai dugaannya ada banyak tempat untuk bersembunyi disana. Ia segera menyusup ke salah satu rerimbunan semak yang terlindung oleh bayangan pohon besar, berusaha menyembunyikan badannya. Ditengah kegelapan itu setidaknya ia bisa beristirahat, menarik napas, dan melemaskan kakinya sejenak. Namun ia tetap waspada karena riuh suara pengejarnya masih terdengar berusaha menemukannya. Sekarang sepertinya mereka telah sampai ke daerah dengan rerimbunan pohon itu.
Ia masih tidak habis pikir kenapa para manusia itu sampai semarah itu dan memburunya. Padahal ia hanya sekedar tidak sengaja memasuki wilayah manusia ketika sedang mencari makanan. Kenapa mereka jadi begitu marah saat melihatnya? Memangnya apa salahnya? Bukankah para manusia itu juga sering dengan sengaja masuk ke hutan yang merupakan habitatnya, apalagi kemudian mereka dengan seenaknya merusak dan merambah hutan itu demi kepentingan mereka sendiri. Lalu apa salahnya kalau ia sekarang pergi ke wilayah manusia untuk mencari makan karena hutannya sendiri sudah diambil alih?
“Ternyata benar manusia memang semengerikan itu,” pikirnya. Bahkan harimau yang ditakutinya pun bisa takluk oleh manusia-manusia itu. Padahal harimau itu hanya ingin melindungi wilayahnya. Tapi kenapa malah diburu bahkan pada akhirnya dimusnahkan oleh manusia-manusia itu. Sepertinya sekarang ia juga akan bernasib sama seperti sang harimau.
Tiba-tiba seberkas cahaya jatuh menyoroti matanya. Diikuti dengan suara teriakan dan derap langkah kaki. Ia sudah ketahuan. Ia berusaha untuk lari, namun matanya silau oleh cahaya itu. Ia tidak dapat melihat dengan jelas keadaan disekitarnya, tapi sepertinya ia telah terkepung. Sebagai bentuk perlawanan terakhirnya ia berusaha menerjang kedepan, namun suara letusan senjata yang memekakkan telinga diikuti dengan rasa sakit yang luar biasa dikakinya menggagalkan usahanya. Ia tersungkur jatuh. Terkapar tak berdaya. Para pengejarnya sekarang menyerbu kearahnya.
**
Babi ngepet itu akhirnya berhasil ditangkap. Sekarang babi itu sedang diikat dan akan diarak menuju balai desa. Sorak sorai warga yang berhasil menangkap babi itu masih riuh terdengar. Sebelumnya beberapa warga bahkan menyempatkan diri untuk memukuli dengan kayu atau melempar dengan batu babi yang sudah tidak berdaya itu. Sehingga membuat kondisi babi itu saat ini terlihat sangat mengenaskan.
Pak Darman hanya bisa mengamati peristiwa itu. Hatinya miris melihat kondisi babi yang malang itu serta perlakuan para warga terhadap babi itu. Ia merasa yakin bahwa babi itu bukanlah babi ngepet seperti yang diyakini warga desa, melainkan hanya sekedar babi hutan yang tersesat untuk mencari makanan. Ia dan Pak Kades bahkan sudah berusaha meyakinkan warga desa, namun apa daya, warga desa mereka sepertinya masih lebih mempercayai takhayul.
Kalau ditilik kembali, keributan ini awalnya bermula ketika pada suatu malam Pak Banu, salah seorang warga desa melihat seekor babi yang tengah melintas di kebun belakang rumahnya. Dimana menurut kesaksian Pak Banu, babi ini tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak ketika akan dikejar.
Setelah heboh berita penampakan babi ini, kemudian disusul pula dengan laporan beberapa warga yang menyatakan kehilangan sejumlah uang ataupun barang. Sepeti Bu Yus yang mengaku kehilangan beberapa perhiasan dan Bu Ida yang mengaku kehilangan sejumlah uang. Hal inilah yang membuat warga sepakat mengaitkan kasus kehilangan dan kemunculan babi misterius ini dengan fenomena babi ngepet.
Sebagaimana diketahui, babi ngepet ini adalah suatu ilmu mistis yang dipelajari oleh seseorang demi memperoleh kekayaan. Dimana orang yang mempelajari ilmu babi ngepet ini dikatakan dapat menjelma menjadi seekor babi dan berkeliaran di sekitar rumah penduduk pada malam hari untuk mencuri uang atau harta benda. Dikatakan pula bahwa siapapun yang ingin mempelajari ilmu babi ngepet ini harus mempersembahkan tumbal.
Bagi Pak Darman yang merupakan akademisi, semua peristiwa yang disebutkan tadi itu menurutnya hanyalah kebetulan belaka. Bahkan dapat dijelaskan dengan logika. Seperti misalnya babi yang muncul tiba-tiba itu bisa saja hanya merupakan babi yang tersesat saat berusaha mencari makanan. Karena toh desa mereka memang terletak tidak jauh dari wilayah hutan. Bahkan kasus kehilangan yang dialami oleh Bu Yus dan Bu Ida pun juga sebenarnya bisa saja kalau ingin dilogikakan. Untuk kasus Bu Yus, Pak Darman berdasarkan keterangan anaknya mengetahui bahwa anak Bu Yus saat ini sedang kecanduan judi online bahkan tak jarang terlihat bolak-balik rumah pegadaian. Sementara untuk kasus Bu Ida, memang sudah menjadi rahasia umum bahwa meskipun selalu tampil berkecukupan bahkan cenderung mewah, akhir-akhir ini kediaman Bu Ida sering didatangi rentenir untuk menagih hutang. Jadi bisa saja kehebohan ini dimanfaatkan oleh Bu Ida sebagai alasan agar dapat menunda kewajibannya untuk membayar hutang. Seperti itulah kiranya Pak Darman memandang kasus kali ini.
Namun berbeda halnya dengan pemikiran warga desa. Meskipun ada juga beberapa warga yang memiliki pemikiran seperti Pak Darman, ternyata ada lebih banyak lagi yang mempercayai bahwa kasus kali ini memang benar ulah babi ngepet. Sampai-sampai permasalahan ini akhirnya dibahas di forum desa.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, harap tenang! Mari kita diskusikan permasalahan ini dengan kepala dingin,” Pak Kades berusaha menenangkan warganya dalam forum desa yang diadakan di balai desa kala itu. Para warga ricuh, saling berebut melontarkan pendapat. Bahkan tak jarang ada pula yang melemparkan tuduhan kepada “si A” atau “si B” sebagai dalang pelaku pesugihan babi ngepet tersebut. “Tenang bapak ibu. Belum tentu kasus ini ada kaitannya dengan babi ngepet. Bisa saja babi itu hanya seekor babi hutan yang tersesat ketika ingin mencari makan,” lanjut Pak Kades.
“Tidak mungkin pak kades! Kita sudah bertahun-tahun tinggal disini, tapi selama itu belum pernah ada babi hutan yang tersasar sampai kemari,” sanggah Pak Banu diikuti dengan sorakan persetujuan dari warga yang mendukung.
“Memang benar bapak ibu, tapi saya juga setuju dengan pendapat Pak Kades. Apalagi kita semua tahu kalau beberapa waktu yang lalu dilakukan pembukaan lahan di wilayah hutan dekat sini. Mungkin saja hewan itu merasa terusik dan karena area mencari makannya berkurang dia akhirnya tersasar disini saat berusaha mencari makan,” Pak Darman berusaha membantu Pak Kades menenangkan warganya.
“Biarpun begitu pak, mau itu babi ngepet atau bukan, kita harus segera menangkap babi itu agar tidak merusak kebun-kebun milik warga,” kata salah satu warga mencoba bersikap netral.
Begitulah akhirnya disepakati untuk meredakan huru-hara yang terjadi, maka dibentuk kelompok-kelompok yang akan melakukan ronda setiap malam untuk menangkap babi itu.
Hingga akhirnya sampailah puncaknya pada malam ini. Babi yang dianggap meresahkan itu akhirnya berhasil ditangkap. Dan seperti halnya penangkapan pencuri, babi yang malang itu juga menjadi bulan-bulanan warga.
Babi yang sudah tidak berdaya itu sekarang sedang diarak warga menuju ke balai desa, dengan posisi digantung terbalik. Keempat kakinya diikat pada sebatang bambu. Melihat kondisinya, sepertinya sudah tidak ada harapan lagi melihat babi itu hidup. Apalagi warga yang memburunya tadi tampaknya tidak memiliki niatan untuk melepaskan babi itu kembali ke habitat asalnya. Mereka sudah menganggap bahwa babi itu memang makhluk jadi-jadian.
“Betapa malangnya nasib babi itu,” pikir Pak Darman. “Sudah tempat tinggalnya dirambah oleh manusia, sekarang dia bahkan dihakimi dengan semena-mena. Diadili meskipun tanpa bukti. Apa pula buktinya kalau babi itu memang babi ngepet. Pada akhirnya semua ini dilakukan hanya berdasarkan kepercayaan dan kesemena-menaan para warga desa saja.”
Lagipula, menurut Pak Darman. Kalaupun memang babi ngepet yang mencuri uang warga ini dianggap sangat meresahkan sampai-sampai pantas diadili seperti itu, bukankah sebenarnya ada yang lebih meresahkan lagi dibanding babi ngepet, yaitu “Tikus Ngepet”. Para tikus berdasi yang menggerogoti kekayaan negeri ini demi keuntungan pribadi. Bukankah para tikus ngepet ini jauh lebih merugikan, jauh lebih meresahkan. Kalau babi ngepet yang mencuri ‘uang kecil’ warga pantas diarak, dipukuli, dan disiksa sampai mati seperti ini, maka seharusnya para ‘tikus ngepet’ yang merugikan negara, merampas hajat hidup orang banyak ini seharusnya pantas mendapatkan hukuman yang lebih kejam lagi.
Namun ternyata, ilmu para ‘tikus ngepet’ ini jauh lebih sakti. Meskipun sudah jelas terbukti melakukan korupsi, tapi tetap saja masih bisa hidup dengan nyaman. Mendapat masa hukuman yang singkat. Sel tahanan yang ‘mewah’. Bahkan setelah bebas dari tahanan pun masih bisa hidup tenang karena tidak perlu mengganti kerugian negara.
Memang sakti betul ternyata ilmu pesugihan tikus ngepet ini. Tapi kalau benar bahwasanya untuk menjalankan ilmu pesugihan itu diperlukan adanya tumbal, maka tumbal apa yang dipersembahkan oleh pelaku pesugihan tikus ngepet ini? Tentunya harus sesuatu yang besar.
Tiba-tiba Pak Darman tersentak dan bergidik ngeri ketika akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan ini. Ya, demi memperkaya dirinya sendiri, para ‘tikus ngepet’ ini rela mengorbankan negerinya sendiri, para rakyat kecil, bahkan kelestarian alamnya. Mereka tidak peduli kalau negeri ini perlahan-lahan hancur, rakyatnya menderita, alamnya rusak, selama mereka bisa memperoleh kekayaan yang berlimpah. Kenikmatan duniawi yang bahkan tidak akan dibawa mati. Memang biadab betul para ‘tikus ngepet ini. Merekalah yang seharusnya benar-benar dibasmi.
Comments
Post a Comment