[CERPEN] Burung Perkutut Pak Dono

Sabtu sore yang cerah itu, Pak Dono memutuskan untuk berkunjung ke rumah Pak Rahman, sahabatnya. Selain karena tidak ada kegiatan yang ia kerjakan saat itu, sudah lama pula ia tidak berkunjung ke rumah Pak Rahman. Ia ingin menantang sahabatnya itu bermain catur.

Sesampainya di rumah Pak Rahman, selain disambut oleh sang pemilik rumah, Pak Dono juga disambut oleh merdunya kicauan burung-burung peliharaan Pak Rahman. Sebagaimana diketahui orang-orang, Pak Rahman memang terkenal hobi memelihara burung kicau.

“Wah, dilihat-lihat sepertinya bertambah lagi nih koleksinya pak,” komentar Pak Dono kagum melihat koleksi burung sahabatntya.

“Yah, cuma nambah tiga ini Pak Don. Tapi yang ini,” Pak Rahman menunjuk salah satu burung koleksi barunya. “Yang ini baru istimewa. Baru menang kontes,” tambah Pak Rahman bangga. Pak Dono hanya bisa berdecak kagum melihatnya.

“Kalau boleh tahu, harganya berapa pak?” tanya Pak Dono penasaran.

Sebelum menjawab, Pak Rahman melirik dengan waspada kesekitarnya seolah-olah takut ada yang mendengarnya, kemudian membisikkan jawabannya kepada Pak Dono.

“ENAM JUTA!” Pak Dono berseru kaget mendengar jawabannya.

“Sttt… Jangan keras-keras Pak Don, takut ketahuan istri saya.” pak Rahman menjadi was-was.

“Apanya yang enam juta pak?” tiba-tiba Bu Rahman, istri Pak Rahman muncul dari dalam rumah membawa kopi dan cemilan. Pak Rahman yang kaget hampir saja terlonjak karena istrinya tiba-tiba muncul ditengah percakapan yang berbau rahasia itu, untungnya ia bisa menahan diri.

“Ah tidak. Ini bu, Pak Dono tadi tanya, itu motor lama kita mau dijual atau tidak. Jadi bapak bilang, kalau Pak Dono memang berminat motor itu bisa ditebus seharga enam juta saja,” kilah Pak Rahman.

“Oh itu toh. Iya Pak Dono, kebetulan motor itu memang sudah jarang dipakai. Kasihan juga kan kalau dibiarkan menanggur begitu padahal mesinnya masih bagus. Silahkan sambil diminum kopinya pak,” kata bu Rahman sembari meletakkan cangkir-cangkir kopi dan cemilan di atas meja tamu teras. Setelah itu, ia berlalu kembali ke dalam rumah meninggalkan kedua sahabat itu melanjutkan obrolannya. Pak Rahman menjadi lega setelah melihat istrinya menerima begitu saja alasannya yang dibuat dengan spontan itu. Kemudian ia mengajak pak Dono untuk menikmati kopi dan cemilan, juga menerima tantangan Pak Dono untuk bertanding catur.

Ditengah pertandingan catur itu. suasana hati Pak Dono terasa tenang karena ditemani oleh merdunya kicauan burung-burung peliharaan Pak Rahman. Seketika ia ingin juga memelihara burung kicau seperti itu. “Wah sepertinya enak juga ya duduk-duduk begini di teras sambil ditemani kicauan burung,” pikir Pak Dono. “Sepertinya aku juga harus coba untuk memelihara burung kicau. Lumayan bisa menghilangkan penat setelah selesai bekerja.”

**

Minggu pagi keesokan harinya, Pak Dono mengajak Danu, anaknya untuk menemaninya pergi membeli burung. Kebetulan di dekat rumah mereka ada pasar burung. Danu, anak Pak Dono yang masih duduk di kelas 3 SD itu sangat bersemangat saat mengetahui ayahnya hendak membeli burung, seolah-olah ayahnya itu sedang mengajaknya membeli mainan baru.

“Loh, mau kemana? Kok tumben pagi-pagi sudah pada rapi?” tanya bu Dono heran melihat suami dan anaknya sudah rapi hendak bepergian.

“Ini bu, bapak katanya mau beli burung,” jawab Danu polos.

“Ada apa pak, kok tumben mau beli burung?”

 “Ya, pingin saja bu. Kan enak kalau pulang kerja disambut kicauaan burung, bisa menghilangkan penat.”

“Kalau cuma mau dengar kicauan burung kenapa harus repot-repot beli toh pak. Kan setiap hari sudah banyak burung mampir ke rumah kita.”

Memang rumah Pak Dono terletak agak dipinggir kota, dimana masih banyak sawah, kebun, dan tanah lapang di sekitar lingkungan tersebut. Karena lingkungannya yang masih asri inilah banyak burung yang sering datang ke rumah pak Dono. Apalagi di halaman depan rumah Pak Dono tumbuh beberapa pohon rindang, seperti pohon mangga dan rambutan yang menjadi tempat berkumpulnya burung-burung liar itu.

“Tapi kan beda kicauannya bu kalau burung liar,” kilah Pak Dono.

“Ya sudah terserah bapak saja, yang penting jangan yang mahal-mahal ya pak,” pesan Bu Dono, membiarkan suami dan anaknya melaksanakan niat mereka.

Setelah mendapatkan izin, tanpa membuang-buang waktu Pak Dono segera mengajak Danu ke pasar burung dekat rumah mereka dengan mengendarai sepeda motor kesayangannya.

Sesampainya disana ternyata ada banyak sekali pilihan burung kicau. Pak Dono sampai bingung memilihnya. Para pedagang burung dengan bersemangat menawarkan dagangannya kepada Pak Dono. Karena masih pemula dalam dunia burung kicau, Pak Dono mencoba bertanya-tanya kepada salah satu penjual yang tampak ramah.

“Kalau yang ini harganya dua ratus ribu pak,” kata bapak itu menjelaskan harga salah satu burung yang ditunjuk Pak Dono. “Memang suaranya bagus pak, tapi kalau mau yang lebih bagus lagi lebih baik yang ini pak. Harganya juga tidak terlalu mahal, cuma tujuh ratus ribu.”

Karena merasa harganya masih terlalu mahal untuk dirinya yang masih pemula, Pak Dono memutuskan untuk melihat-lihat burung-burung yang lain. Setelah puas melihat, bertanya-tanya, dan melalui proses tawar menawar panjang, akhirnya Pak Dono memutuskan untuk membeli seekor burung perkutut lengkap dengan sangkar dan segala perlengkapannya seharga empat ratus ribu rupiah.

 “Lumayan untuk pemula,” pikir Pak Dono, ia menyukai bunyi kicauan burung itu. Danu juga terlihat senang memikirkan akan memelihara burung tersebut.

“Pegang baik-baik Nu!” perintah Pak Dono ketika mereka akan mengendarai sepeda motor hendak pulang ke rumah. Danu mengangguk, satu lengannya memeluk erat sangkar burung itu sementara lengan lainya berpegangan pada ayahnya.

Sesampainya di rumah, Pak Dono segera menggantungkan sangkar burungnya di atas teras rumahnya. Pak Dono dan Danu sangat senang mendengar kicauan burung itu, bahkan mereka sampai bersiul-siul mengikuti kicauannya. Bu Dono hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan suami dan anaknya.

Setelah memiliki burung perkutut itu, Pak Dono selalu menyempatkan diri mendengar kicauannya sambil menikmati kopi ataupun hanya sekedar duduk duduk santai di teras rumahnya. Kegiatan itu selalu ia lakukan pada pagi hari sebelum berangkat kerja dan sore hari setelah pulang kerja. Kiacuan burung itu seolah-olah memberikan energi ekstra pada Pak Dono untuk menjalani hari.

Pak Dono bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta. Dimana hari-harinya selalu disibukkan dengan bekerja di dalam ruangan. Memang ruangan itu sebenarnya cukup besar dan sejuk karena dilenghkapi pendingin ruangan, tapi dengan banyaknya orang yang bekerja disana maka membuat ruangan itu terasa sempit. Belum lagi harus bekerja di depan komputer selama berjam-jam. Hal ini tentunya membuat Pak Dono selalu merasa penat setelah selesai bekerja. Namun semenjak memiliki burung perkutut itu, Pak Dono merasa bisa menghilangkan kepenatannya setiap pulang kerja dengan bersantai di teras rumahnya mendengarkan kicauan burung itu.

**

Pada suatu pagi di hari Minggu, seminggu setelah membeli burung perkututnya, Pak Dono seperti biasa sedang bersantai menikmati secangkir kopi panas di teras rumahnya mendengarkan merdunya kicauan burung itu. Karena pagi itu sedang cerah, Pak Dono berpikiran untuk menggantungkan sangkar burungnya pada salah satu ranting pohon manga yang tumbuh di depan rumahnya. Harapannya agar burungnya mendapatkan udara segar dan sedikit sinar matahari pagi.

Setelah digantungkan di pohon manga, burung itu melompat-lompat, mecoba terbang dalam sangkarnya yang kecil, seolah-olah sangat kegirangan melihat hijaunya rimbunan daun dan birunya langit pagi hari. Tak beberapa lama muncul burung-burung liar yang ikut berkicau-kicau dan bertengger di ranting-ranting pohon mangga itu. Burung perkutut Pak Dono tampak semakin bersemangat melihat banyak temannya datang dan ikut bernyanyi.

Pak Dono mengamati pemandangan itu sambil merenung. Betapa kontrasnya keadaan burung peliharaannya dengan burung-burung liar itu. Burung-burung liar itu bisa dengan bebas terbang kemana saja mengepakkan sayap mereka, sementara burung peliharaannya terkurung dalam sangkar yang sempit, tidak bisa terbang bebas meskipun ia mempunyai sayap. Kira-kira bagaimana perasaan burung peliharaannya melihat burung-burung liar itu. Irikah dia melihat mereka yang bisa terbang dengan bebas? Tidakkah ia juga ingin mengepakkan sayapnya dengan bebas diluar sana?

Memang di dalam sangkar ini semua kebutuhannya seperti makanan dan minuman terpenuhi. Tapi tentunya ia ingin bebas juga, mengepakkan sayapnya, terbang bebas di langit luas. Sama halnya seperti orang yang terkurung dipenjara, meskipun makanan dan minuman terpenuhi, namun tetap saja akan lebih merindukan kebebasan.

Pak Dono bahkan mulai merenungkan kehidupannya sendiri. Bukannya dia sendiri juga selalu merasa penat dan tersiksa setelah terkurung seharian di ruangan tempat kerjannya. Lalu sekarang, kenapa pula hanya demi memuaskan keegoisaannya sendiri, ia tega mengurung burung yang malang itu dalam sangkar sempit berhari-hari.

Pak Dono jadi merasa bersalah pada burung peliharaannya. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu sangkar itu. Ia tidak langsung melepaskan burung itu, melainkan membiarkan burung itu membuat pilihan. “Kalau burung itu tidak keluar berarti ia memang nyaman dan meneriama keadaannya di dalam sangkar tapi kalau ia menginginkan kebebasan, makai ia bebas untuk keluar,” pikir Pak Dono.

Tak beberapa lama setelah menyadari pintu sangkarnya dibuka, burung perkutut itu akhirnya memilih untuk terbang keluar dari sangkarnya dan bergabung dengan burung-burung liar lainnya di alam bebas.

“Ah hilang sudah empat ratus ribuku,” ujar Pak Dono dalam hati. Tetapi anehnya ia tidak merasa kecewa. Ia justru merasa lega karena melihat burungnya akhirnya bisa mengepakkan sayapnya dengan bebas. Ia juga berharap agar lingkungan di sekitar rumahnya tetap terjaga keasriannya agar habitat burung-burung liar itu tidak rusak dan tetap bisa bermain dan berkicau di halaman rumahnya. Bu Dono yang sejak tadi mengamati tingkah laku suaminya dari jendela hanya tersenyum.

 Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki berlarian dari dalam rumah. Ternyata itu Danu yang berlari tergopoh-gopoh setelah melihat ayahnya melepaskan burungnya.

“Pak kok burungnya dilepaskan!?” ujarnya heran.

“Ya kan kasihan Nu kalau dikurung terus. Memangnya kamu mau dikurung dikamar terus setiap hari,” jawab Pak Dono tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala anaknnya.

Danu hanya bisa melongo mendengar jawaban ayahnya itu.


Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia

[CERPEN] “Dunia Aku“

[CERPEN] Lorong