[CERPEN] Lumbung Terbakar

Desa Sukatani adalah desa yang sangat makmur. Para penduduknya yang kebanyakan petani adalah orang-orang yang sangat giat dan ulet dalam bekerja. Selain itu, tanah pertanian di daerah Desa Sukatani dikatakan merupakan tanah yang paling subur dan produktif di seantero negeri. Daerah mereka juga tidak pernah mengalami kekeringan. Hampir setiap tahun, air melimpah, sumur-sumur pun tidak pernah kering. Karena itulah apapun yang ditanam di lahan pertanian Desa Sukatani selalu tumbuh subur dan akan menghasilkan panen yang berlimpah.

Untuk menyimpan dan mengelola hasil panen yang berlimpah tersebut, para penduduk Desa Sukatani membangun sebuah lumbung yang begitu besar. Lumbung itu dapat menampung berton-ton beras juga hasil bumi lain yang dihasilkan oleh seluruh lahan pertanian desa. Karena kemegahannya, lumbung itu menjadi lambang kemakmuran dan kesejahteraan di desa mereka. Semua hasil panen yang disimpan disana tidak semata-mata hanya digunakan untuk kepentingan pribadi warga desa, tetapi juga digunakan untuk membantu siapapun yang membutuhkan. Hal ini dilakukan sebab para warga desa beranggapan bahwa tanah yang subur dengan segala hasil panen yang dihasilkannya adalah suatu berkah dari Sang Pencipta, sehingga segalah hasilnya harus digunakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Lumbung itu selalu terbuka bagi siapapun yang membutuhkan, dan setiap orang yang membutuhkan pun selalu hanya mengambil sejumlah yang diperlukannya mereka tidak pernah mengambil bagian yang bukan merupakan haknya.

Tidak hanya manusia, hasil panen yang tersimpan di lumbung itu juga boleh digunakan oleh makhluk lain yang membutuhkan. Pernah suatu ketika, lahan pertanian warga desa dikacaukan oleh datangnya segerombolan burung-burung yang kelaparan. Para petani kewalahan menghalau serbuan para burung itu. Mereka kemudian melaporkan hal ini kepada Pak Jaya, kepala desa mereka. Pak Jaya akhirnya turun tangan mengatasi keadaan tersebut. Menurutnya para burung itu menyerang lahan pertanian karena mereka kelaparan, jadi ia kemudian mengambil sejumlah beras yang tersimpan di dalam lumbung dan memberikannya kepada para burung tersebut.

“Wahai para burung, kalau kalian memang kelaparan dan butuh makanan, kalian bisa meminta pada kami. Kami memilliki persedian makanan yang berlimpah dan kami akan dengan senang hati membaginya kepada kalian. Kalian boleh mengambil yang kalian perlukan dari lumbung itu, tapi tolong jangan mengambil berlebihan. Ambillah seperlunya karena ada juga orang lain yang membutuhkannya. Kemudian jangan mengganggu lahan pertanian ini, karena kalau lahan pertanian itu rusak dan menyebabkan gagal panen maka bukan hanya kalian saja yang nantinya akan kelaparan, para penghuni desa ini juga akan menderita sama seperti kalian,” kata Pak Jaya kepada para burung itu.

Para burung itupun mengerti dan dengan senang hati mengambil pemberian Pak Jaya dan warga desa. Mereka tidak lagi menyerbu dan merusak lahan pertanian. Tidak hanya itu saja, bahkan karena merasa berhutang budi, para burung itu sampai ikut membantu para petani menjaga lahan pertanian dari serbuan hama belalang. Hubungan yang harmonis inilah yang menjadi penopang lahan pertanian itu sehingga selalu bisa memberikan kesejahteraan bagi siapapun yang membutuhkan.

Sampai suatu ketika datanglah segerombolan tikus yang kelaparan. Mereka datang ke Desa Sukatani untuk meminta bantuan, karena mereka mendengar dari para burung bahwa Desa Sukatani adalah desa yang makmur dan penduduknya murah hati. Merekapun dengan memelas datang meminta bantuan makanan. Para penduduk yang merasa iba, dengan diwakili oleh Pak Jaya mereka mempersilahkan para tikus untuk mengambil yang mereka perlukan dari lumbung itu. Pak Jaya mengingatkan para tikus agar hanya mengambil secukupnya saja, sesuai dengan jumlah yang mereka perlukan dan jangan berlebihan. Para tikus pun mengiyakan dan berterima kasih kepada warga desa.

Ketika mereka masuk ke dalam lumbung untuk mengambil makanan yang mereka perlukan, mereka begitu terpukau melihat betapa luasnya lumbung itu juga betapa banyaknya hasil panen yang tersimpan disana.

“Betapa banyaknya persediaan beras yang dimiliki para petani di sini. Belum lagi yang ada di lahan pertanian,” pikir tikus itu kagum. “Pak Jaya memang mengatakan untuk mengambil sejumlah yang kami perlukan saja. Tapi kalaupun kami mengambil sedikit lebih banyak, tentunya tidak akan ada yang tahu.”

Awalnya para tikus hanya melebihkan sedikit lebih banyak dari apa yang sebenarnya mereka perlukan. Lama-kelamaan rasa rakus dan serakah mereka berkembang. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan apa yang mereka ambil. Sampai akhirnya mereka berniat untuk menguasai lumbung itu beserta segala isinya. Dengan jumlah mereka yang banyak, akhirnya mereka berhasil menguasai lumbung itu. Para tikus itu tidak ingin berbagi isi lumbung dengan siapapun, mereka bahkan menyerang semua orang yang mendekati lumbung itu. Termasuk Pak Jaya yang berniat untuk mendiskusikan masalah ini mewakili warga desa.

Hal ini tentunya membuat gerah para petani. Mereka tidak terima hasil kerja keras yang selama ini mereka kerjakan, sekarang justru malah dikuasai para tikus itu. Apalagi tidak seperti para burung yang ikut membantu petani, para tikus itu sama sekali tidak melakukan hal apapun yang berguna bagi tanah pertanian. Satu-satunya hal yang bisa para tikus itu lakukan hanyalah menggerogoti hasil panen yang merupakan hasil kerja keras dan jerih payah para petani. Ini tentunya dipandang sebagai sesuatu yang tidak adil bagi para petani, apalagi para tikus itu awalnya justru malah ditolong oleh para petani tersebut tapi sekarang mereka malah seolah menusuk para petani dari belakang. Mengkhianati kebaikan yang telah diberikan para petani.

Para petani terus berusaha untuk mengusir para tikus itu dari lumbung mereka. Namun sayangnya berbagai usaha yang dilakukan oleh para petani itu tidak ada yang berhasil. Para tikus seolah-olah makin kuat, jumlah mereka semakin hari semakin bertambah. Bahkan kucing-kucing yang tinggal di desa juga kewalahan menghadapi para tikus itu.

“Kita tidak bisa terus membiarkan para tikus itu berbuat seenaknya seperti ini. Sekarang mereka mungkin hanya menguasai lumbung kita, tapi lama kelamaan mereka bisa saja akan menguasai dan menghancurkan ladang kita juga. Kalau itu terjadi, bayangkan berapa banyak orang yang menderita,” ujar Joko yang merupakan salah satu petani dalam pertemuan yang mereka lakukan untuk mendiskusikan masalah itu.

“Itu memang benar. Tapi apa lagi yang bisa kita lakukan? Bukankah semua usaha yang telah kita kerjakan untuk mengusir tikus-tikus itu tidak ada yang berhasil,” timpal petani yang lain.

“Untuk itulah kita berkumpul disini,” ujar Joko lagi. “Sekarang hanya ada satu cara yang bisa kita lakukan, yaitu mengorbankan lumbung kita!

“Saat ini, semua tikus itu sedang berkumpul di lumbung. Tidak ada satupun dari mereka di ladang. Jadi apabila kita membakar lumbung itu, maka kita bisa memusnahkan semua tikus itu sekaligus. Memang kita mungkin akan kehilangan persediaan beras kita, hasil kerja keras kita selama ini. Tapi setidaknya kita masih punya ladang. Padi yang kita tanam sebentar lagi sudah siap dipanen. Kita juga masih mempunyai hasil pertanian yang lain. Jadi meskipun lumbung itu kita bakar, kita masih tetap aman. Tapi apabila kita melewatkan kesempatan ini, maka bayangkan, hasil panen yang kita kumpulkan dalam lumbung itu tentunya akan habis dimakan para tikus. Kalau itu terjadi maka selanjutnya yang mereka incar adalah ladang kita. Mereka akan menghancurkan ladang kita sampai tidak ada lagi yang tersisa bagi kita. Jadi inilah kesempatan kita satu-satunya untuk memusnahkan para tikus rakus itu! Jadi Pak Jaya, saudara-saudaraku sekalian, mari kita lakukan rencana ini!”

Terdengar sorakan riuh para petani yang menyetujui rencana itu. Tapi Pak Jaya bergeming. Ia juga sebenarnya memiliki pemikiran yang sama dengan Joko. Untuk melindungi tanah pertanian, maka mengorbankan lumbung yang sudah digerogoti tikus itu memang tidak terhindarkan. Namun bagi Pak Jaya yang berhati lembut dan anti dengan kekerasan itu, untuk menyelesaikan suatu konflik maka komunikasi dan diskusi lah yang seharusnya diutamakan. Sayangnya para tikus itu menutup pintu untuk melakukan diskusi. Mereka menolak mendengarkan perkataan dari para petani, bahkan tak segan menyerang siapapun yang datang untuk berdiskusi. Kalau begitu, mau bagaimana lagi. Mereka sendiri yang akhirnya memilih jalan seperti ini, pikir Pak Jaya. Akhirnya Pak Jaya menganggukkan kepalanya, tanda ia juga menyetujui rencana itu.

Pada malam harinya, rencana membakar lumbung akhirnya dilaksanakan. Para petani berjaga dan mengepung lumbung. Para tikus harus tetap dibiarkan berada dalam lumbung, jangan sampai ada satupun yang lolos. Namun sepertinya para petani tidak perlu sampai repot seperti itu. Karena di dalam lumbung semua tikus sedang asik berpesta. Mereka sibuk menikmati kemewahan dan kenikmatan hasil panen didalamnya. Sama sekali tidak menyangka kalau di luar, sebuah rencana untuk memusnahkan mereka sedang dijalankan.

Begitu memastikan kalau situasi sudah aman dan tidak ada satupun tikus yang lolos, para petani segera bersiap-siap. Mereka menyiramkan minyak di sekeliling lumbung. Beberapa mulai menyulut api pada obor yang mereka bawa. Lalu dengan sebuah teriakan aba-aba, para petani serentak melemparkan obor yang mereka bawa, membakar lumbung dengan segala isinya.

Api menjalar dengan cepat, melalap lumbung yang terbuat dari kayu dan jerami. Para tikus yang tadinya asik berpesta, seketika menjadi kacau balau saat mengetahui lumbung sudah terbakar. Mereka berusaha melarikan diri namun sayangnya tidak ada jalan keluar. Api telah dengan ganasnya membakar seisi lumbung itu.

Pak Jaya melihat pemandangan itu dari kejauhan. Lumbung yang telah mereka bangun dengan darah, keringat, dan air mata itu kini terbakar sudah. Perlahan lenyap menjadi abu, bersama para tikus-tikus rakus didalamnya. Meskipun merasa prihatin terhadap nasib tikus-tikus itu, namun itu sudah sepantasnya mereka dapatkan karena telah menjadi terlalu rakus dan serakah merebut hasil jerih payah dan hak orang lain sehingga membuat banyak orang menderita.

Para petani sekarang mungkin kehilangan lumbung dan hasil panen yang telah mereka kumpulkan selama bertahun-tahun. Tapi setidaknya mereka tidak kehilangan tanah yang subur ini. Selama masih ada tanah ini, mereka masih bisa membangun semuanya kembali. Para petani memandang lumbung mereka untuk terakhir kali. Lumbung terbakar itu sekarang seakan menjadi pengingat kepada seluruh penghuni desa, bahwa ketamakan dan keserakahan hanya akan membawa seseorang menuju penderitaan dan kehancuran.


Comments