[CERPEN] Manusia Pohon

“Kalau makan buah pelan-pelan. Jangan sampai bijinya tertelan, nanti bisa tumbuh di dalam perutmu.” Suara neneknya yang merdu dan berwibawa itu terdengar di telinganya. Entah kenapa Taru tiba-tiba mengingat nasihat neneknya itu. Namun terlambat, akibat terlalu rakus ia telah menelan biji buah itu. Yah, tak apalah. Lagipula apa yang dikatakan neneknya dulu itu tentunya hanyalah mitos. Mana mungkin biji buah yang tertelan itu bisa tumbuh dalam perut. Sungguh sangat tidak masuk akal. Walaupun mungkin biji buah itu bisa menyebabkan radang usus buntu, tapi itupun juga belum terbukti secara medis. Biarlah perutnya nanti yang akan mengurus semua itu, pikirnya.

Taru tidak tahu apa nama buah yang ia makan, yang jelas buah yang ditemukannya di hutan ini benar-benar sangat nikmat. Meskipun bijinya lumayan banyak, namun rasa manisnya benar-benar membuatnya mengabaikan semua itu. Mungkin itulah sebabnya ia sampai kalap menelan biji buah itu, selain juga karena kelaparan setelah seharian tersesat di hutan ini.

Tapi sayangnya perutnya sekarang mulai terasa tidak enak. Mungkinkah buah itu beracun? Ia memang tidak tahu buah apa itu dan dengan asal memetik buah itu. Namun tampilan dan aroma manis buat itu sangat menggodanya sehingga dengan nekat ia melahap buah itu. Apakah mungkin buah yang rasanya sangat manis itu benar beracun? Bukankah buah yang beracun biasanya rasanya sangat tidak enak. Ataukah bukan buahnya yang beracun melainkan biji buah yang ditelannya itu.

Benar juga, ia pernah membaca kalau ada beberapa buah yang bijinya mengandung racun yang berbahaya bagi makhluk hidup apabila dikonsumsi. Meskipun memang kandungan dalam satu biji buah umumnya tidak membahayakan apabila tidak sengaja terkonsumsi, namun apabila tertelan dalam jumlah banyak tentu saja bisa membahayakan. Tapi ia merasa tidak terlalu banyak menelan biji buah itu. lalu kenapa perutnya malah terasa panas dan semakin tidak enak. Apakah ini hanya perasaannya saja karena memakan buah yang asing baginya? Atau bisa jadi dalam biji buah tadi memang mengandung racun yang berbahaya bagi makhluk hidup, sementara tampilan, rasa, dan aromanya yang mengairahkan itu hanyalah perangkap agar makhluk lain memakannya dan kemudian mati seketika sehingga bisa menjadi nutrisi bagi pohon itu.

Pikirannya menjadi liar, begitu pula rasa tidak nyaman pada perutnya. Jantungnya berdegup kencang, badannya bergetar, keringat dingin mulai mengalir membasahi seluruh tubuhnya.

“Apakah aku akan mati? Sepertinya disinilah aku akan menemui ajalku,” Taru meringkuk di bawah pohon itu. Perutnya terasa semakin panas dan sakit, kepalanya mulai terasa berat dan berputar-putar. Dunia perlahan memudar dari pandangannya. Taru menutup matanya, “Selamat tinggal dunia.”

**

Taru membuka matanya. Perlahan ia memperoleh kesadarannya kembali. Ia masih tergeletak di bawah pohon misterius itu. Entah sudah berapa lama ia terbaring disana, tapi yang jelas ia tidak mati. Ia masih hidup! Benar-benar masih hidup. Tampaknya biji buah itu memang mengandung racun tapi tidak mematikan. Atau mungkin memang daya tahan tubuhnya cukup kuat sehingga bisa menahan efek dari racun itu. Entahlah, ia juga tidak yakin. Tapi yang pasti dirinya memang benar-benar masih hidup setelah memakan buah dari pohon misterius ini.

Meski begitu, tubuhnya sekarang terasa kaku, dan ia merasakan rasa haus yang luar biasa. Ia berusaha bangkit untuk mencari sumber air, namun tubuhnya terasa begitu berat, badannya kaku dan sulit digerakkan. Rasa haus yang amat sangat membuatnya memaksakan diri untuk menggerakkan tubuhnya. Kakinya yang terasa berat dipaksakannya bergerak selangkah demi selangkah. Ia mendengar deru aliran sungai tak jauh dari tempatnya dan perlahan bergerak menuju tempat itu.

Aliran air sungai yang jernih benar-benar merangsang rasa dahaganya. Ia segera meraup air itu dan mengarahkannya ke mulutnya. Namun betapa terkejutnya ia ketika mulut yang seharusnya digunakan untuk meminum air itu justru tidak bisa terbuka dan malah tertutup rapat. Air itu hanya membasahi permukaan bibirnya dan mengalir ke bawah menuju leher dan badannya. Rasa panik mulai menguasai dirinya. Bagaimana caranya ia bisa menghilangkan rasa haus ini kalau mulut yang seharusnya digunakannya untuk minum justru malah tidak bisa digunakan.

Taru mencoba meraba bibir dan wajahnya. Seketika suatu sensasi yang aneh muncul. Bukan hanya bibirnya, namun seluruh wajahnya terasa keras seperti ukiran kayu. Tidak hanya itu, tangannya pun juga terlihat aneh. Itu bukan lagi terlihat seperti tangan manusia normal melainkan bagaikan sebuah dahan pohon bercabang lima. Jari-jarinya terlihat kurus dan runcing. Diujung jarinya tampak muncul tunas yang akan tumbuh.

Dengan bantuan air sungai ia berusaha melihat bayangan wajahnya. Lagi-lagi ia terkejut karena bayangan yang terpantul bukanlah bayangan manusia. Melainkan sebuah batang pohon dengan ukiran wajah manusia. Di atas kepalanya tumbuh pucuk batang pohon dengan cabang dan daun yang mulai lebat. Begitu pula dari lubang telinganya, muncul tunas yang akan membentuk cabang baru.

Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah perkataan neneknya itu benar dan ia sekarang telah berubah menjadi pohon? Apakah ini hanya mimpi? Ataukah ini hanyalah halusinasi efek dari racun pada biji buah yang ia telan? Bagaimanapun, rasa haus yang ia rasakan saat ini benar-benar nyata.

Lalu bagaimana caranya ia bisa menghilangkan rasa haus yang ia rasakan dengan kondisi seperti ini? Dipandanginya kakinya yang sekarang telah berubah bentuk menyerupai akar. Mungkinkah ia bisa minum dengan organ baru ini? Ia mencoba mencelupkan kakinya ke dalam aliran air sungai. Seketika rasa segar menyeruak ke seluruh tubuh Taru. Air sungai yang segar itu terasa mengalir dalam setiap sel tubuhnya. Akhirnya ia bisa merasakan perasaan nyaman setelah sejak tadi berusaha menggerakkan tubuhnya yang kaku dan berat. Ia membiarkan perasaan nyaman itu mengalir dalam setiap organ tubuhnya. Dahaganya pun perlahan mulai lenyap.

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh bunyi langkah kaki di belakangnya. Gemeresik suara dedaunan dan ranting kayu kering yang terinjak langkah kaki itu bergerak perlahan menuju ke arahnya. Taru berusaha menolehkan kepalanya untuk melihat pemilik langkah kaki itu, namun sayang lehernya terasa terlalu kaku untuk digerakkan. Orang itu sekarang telah berdiri dibelakangnya. Melalui bayangan yang terpantul di permukaan air, ia bisa melihat sosok orang itu. sosok orang itu tampak seperti orang tua dengan penampilan layaknya orang yang sudah lama tinggal dalam hutan.

“Sepertinya kau sudah memakan buah itu nak. Kalau begitu sayang sekali, sekarang sudah tidak ada jalan kembali,” kata orang tua itu sambil memandang kondisi Taru dengan prihatin.

“Apa maksud anda pak tua!?” Taru ingin membalas seperti itu, namun apa daya mulutnya sudah menjadi kaku sehingga tidak ada suara yang keluar. Kata-kata itu hanya bergema di kepalanya. Namun orang tua itu sepertinya sudah paham karena kemudian ia memberikan penjelasan kepada Taru.

“Di dunia ini ada buah-buah yang tabu untuk dimakan betapapun menggiurkan tampilannya. Begitu pula di hutan ini. Buah yang tumbuh dari pohon-pohon di hutan ini memang terlihat sangat menggurkan, namun itu hanya perangkap agar ada makhluk yang memakan dan menelan bijinya. Saat itulah biji itu akan tumbuh dalam badan makhluk yang memakannya dan mengubahnya menjadi pohon. Begitulah cara pohon-pohon di hutan ini menambah jumlah populasinya.”

Jadi begitu! Ternyata benar karena itulah kini ia menjadi pohon. Karena telah tergoda oleh kenikmatan yang tidak diketahui dari pohon yang tumbuh di hutan ini. Pohon-pohon inipun dulunya juga adalah manusia yang melakukan hal yang sama dengannya. Bahkan semak atau tumbuhan kecil yang tumbuh di sekitar sini juga mungkin adalah hewan-hewan yang telah tergiur oleh kenikmatan itu.

“Karena sekarang kau telah menjadi pohon, nak. Maka selayaknya pohon, dirimu tidak akan mendapatkan nutrisi untuk hidup dari air sungai yang mengalir itu. Mari ikutlah denganku, akan kusiapkan tempat untukmu. Kau seharusnya masih bisa menggerakkan dirimu sedikit karena belum menjadi pohon seutuhnya,” lanjut pak tua itu. Ia menuntun Taru menuju ke suatu tempat yang terlihat subur dan mendapatkan sinar matari yang cukup. Disana ia membuat sebuah lubang dimana Taru bisa tumbuh.

Dibantu oleh pak tua itu, Taru memasukkan kakinya ke dalam lubang yang kemudian ditimbun kembali. Di dalam tanah, rambut-rambut akar di kakinya bisa merasakan berbagai hal. Mulai dari berbagai unsur hara yang ada di sekitar tempat itu, juga getaran dari makhluk-makhluk yang bergerak di permukaan ataupun di dalam tanah. Selain itu anehnya ia juga bisa mengetahui dimana sumber air terdekat. Sekarang ia bisa mendapatkan nutrisi dan yang cukup untuk melanjutkan hidup.

Taru ingin mengucapkan terima kasih kepada pak tua itu, sayangnya sekarang ia tidak bisa. Untungnya pak tua itu mengerti. Ia menganggukkan kepalanya menatap Taru, kemudian pergi dari tempat itu entah kemana.

Sekarang Taru telah resmi menjadi pohon. Ia tidak tahu harus sedih atau senang dengan kondisi ini. Namun setidaknya disini ia dikelilingi oleh pohon-pohon yang senasib dengannya. Lagipula dengan menjadi pohon ia tidak perlu pusing memikirkan urusan duniawi seperti bagaimana cara mencari uang untuk makan besok. Ia toh sudah bisa membuat makanannya sendiri. Selama ada air, unsur hara dan cahaya matahari ia akan tetap hidup.

“Ah, hidup sebagai pohon ternyata tidak buruk juga,” pikir Taru. Ia sedang membayangkan akan sebesar apa nantinya hutan ini. Karena tentunya akan selalu ada makhluk yang tergoda untuk menikmati kenikmatan buah-buahnya.


Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia

[CERPEN] “Dunia Aku“

[CERPEN] Lorong