[CERPEN] Menanti Senja di Tanah Nestapa

Di suatu sudut dari sebuah tanah yang hampir terlupakan. Matahari yang mulai condong ke barat, masih berusaha memberikan sinarnya. Menerobos tirai awan kelabu yang melingkupi tempat ini.

Melalui suasana yang muram ini aku melangkahkan kaki dengan perlahan. Langkah demi langkah menuju puncak suatu bukit. Namun ini bukanlah bukit biasa. Bukit ini merupakan bukit yang terbentuk dari sisa-sisa peradaban manusia. Benda-benda yang telah usai digunakan, tidak bernilai dan dilupakan. Limbah. Sampah. Suatu jejak yang ditinggalkan manusia, kepada alam, dan untuk manusia lain di generasi selanjutnya.

Dalam sebuah lubang yang luas ini, berbagai jenis sampah dibiarkan menumpuk. Lubang ini dulunya merupakan sebuah bukit, yang kemudian digali karena keserakahan manusia. Setelah habis semua isinya dan tidak dapat dimanfaatkan lagi, kemudian ditinggalkan. Dijadikan tempat untuk membuang sampah-sampah yang mungkin berasal dari seluruh negeri. Karena yang jelas, tempat ini sejatinya tidak akan memproduksi sampah sebanyak ini. Namun pada kenyataannya, sampah-sampah ini sekarang menggunung, dan ironisnya sekarang membentuk suatu bukit baru, yang tentunya jauh dari kata alami, indah, estetik ataupun asri. Bau yang menyengat menusuk hidung. Bukan hanya dari sampah yang membusuk, mungkin juga berasal dari bangkai hewan atupun manusia-manusia yang terabaikan dan terkubur di dalam sini.

Di puncak salah satu bukit sampah ini, tampak seorang pria yang sedang duduk. Pandangannya kosong menatap langit sore yang muram. Tangannya kotor, dipenuhi bekas tanah yang mulai mengering.

“Habis mengubur anakku,” katanya dengan nada yang datar. Menjawab pertanyaannku.

Pria itu Bernama Irsam. Ia adalah penduduk asli di tempat ini. Ia telah tinggal di tempat ini sejak lahir, dan menjadi saksi hidup yang melihat berbagai perubahan yang terjadi di tanah tempat tinggalnya ini. Sekarang ia duduk disini, meratapi nasibnya, keluarganya, dan tanah kelahirannya ini.

“’Akhirnya sekarang aku bisa menyusul ibu ke surga,’ itu kata-kata yang diucapkan anakku sebelum pergi” kata Irsam, matanya berkaca-kaca mengenang anak dan istri yang pergi mendahuluinya.

“Semoga surga itu benar-benar ada. Kasihan anakku, sejak lahir ia sudah melihat neraka. Padahal tempat ini dulunya sering disebut tanah surga. Tanahnya subur, airnya jernih, dan kekayaan alamnya juga melimpah. Sejak zaman nenek moyangku dulu, kami disini selalu hidup harmonis dan berkecukupan. Semua kebutuhan kami bisa dipenuhi oleh alam. Tidak pernah ada yang hidup menderita atau kekurangan. Oleh karena itu kami senantiasa menjaga kelestarian alam di tempat ini.

“Tapi semua yang kami bangun, semua yang kami pertahankan perlahan berubah. Semenjak kedatangan para orang-orang rakus nan serakah itu. Mereka yang mengaku penguasa, beserta elit-elit disekitarnya itu datang kemari dengan penuh senyuman, janji-janji manis. Memuja-muji tanah yang subur dan kaya ini. Mereka bilang, apa yang mereka lakukan adalah demi kemajuan negeri. Demi kesejahteraan kami yang tinggal di tanah ini. Tapi tentunya itu semua hanya kepalsuan. Sebenarnya mereka melakukan semua ini hanya demi merampas kekayaan di tanah ini untuk digunakan bagi kepentingan sendiri.

“Setelah mereka mulai menggali bukit-bukit ini. Tidak ada satupun dari janji mereka yang akhirnya ditepati. Kami yang menuntut hak atas apa yang ada di tanah kami malah ditindas, dipersalahkan, seolah-olah kami adalah maling di tanah sendiri. Kami semua dibiarkan bodoh, terpinggirkan, tidak diberi pendidikan yang layak, agar mereka bisa sebebasnya menggembalakan kami.

“Tidak puas hanya dengan apa yang ada di perut bumi, mereka juga berusaha merebut hutan kami. Hutan yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan kami. Tentunya kami tidak ingin tinggal diam. Kami ingin mempertahankan hutan kami. Hutan yang selama ini selalu berbaik hati menjaga dan melindungi kami. Namun apa daya. Mereka diikuti pengawal bersenjata. Orang-orang yang berusaha menentang proyek ini demi menjaga kelestarian hutan, sekali lagi justru malah ditindas, dikriminalisasi, dianggap pengkhianat bahkan dituduh melawan negeri sendiri. Padahal kami hanya ingin menjaga peninggalan leluhur kami. Hutan dan alam, yang sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri.

“Lalu sekarang setelah semua hasil bumi yang berharga habis. Setelah semua bukit-bukit ini porak-poranda digali. Mereka pergi begitu saja, tanpa berusaha memperbaiki semua kerusakan yang telah terjadi. Kemudian, ketika akhirnya bencana melanda tanah ini. semua kekayaan tidak bisa diambil lagi bahkan pohon-pohonpun enggan tumbuh kembali. Mereka semua tidak peduli. Seolah-olah semua yang terjadi di tanah ini bukan akibat dari apa yang mereka lakukan, yaitu perbuatan mereka yang rakus, serakah dan tidak menghargai alam. Bukannya sadar, mereka justru lepas tangan dan malah balik menyalahkan alam atas semua yang terjadi.

“Di tanah yang sudah tidak memiliki apa-apa ini. Kami diabaikan, tidak diacuhkan, seolah-olah kami bukan bagian dari negeri yang besar ini. Seolah-olah tanah ini tidak pernah ada dalam peta negeri. Sekarang perlahan-lahan kami dibiarkan mati di tanah kami sendiri. Tanah yang dulunya merupakan surga. Yang seharusnya bisa digunakan dan dijaga bersama.

“Tapi apalah artinya itu semua bagi para orang-orang serakah itu. Bagi mereka yang terpenting hanyalah diri mereka sendiri. Pedui apa mereka dengan alam, lingkungan, dan manusia lain. Di seberang lautan ini,” lanjut Irsam, dagunya menunjuk ke ujung lautan luas yang tampak dari puncak bukit ini. “dengan membawa kekayaan yang mereka dapat dari tanah ini. Mereka membangun surga yang indah bagi diri mereka sendiri.

“Yang lebih lucu adalah, bahkan orang-orang yang datang kemari dan mengaku utusan ‘Tuhan’. Yang selalu mengumandangkan bahwa segala yang ada dunia ini adalah fana, bahwa kehidupan ini hanya sementara. Sekarang malah asik bermain-main dengan para penguasa. Menikmati surganya di dunia. Sementara kami disini kami dibiarkannya menderita. Menikmati neraka di alam yang katanya fana.

“Tapi setidaknya sekarang kami jadi tahu. Bahwa Tuhan yang mereka puja bukanlah Tuhan, Sang Maha Pencipta. Melainkan hanyalah Uang Yang Maha Kuasa.”

Irsam mengakhiri kata-katanya. Tangannya mengepal kuat. Kelopak matanya bergetar, berusaha menahan air mata yang akan mengalir. Sambil menggigit bibirnya, ia memandang ke sekitar. Dari puncak bukit sampah ini ia menatap sisa-sisa dari tanah kelahirannya.

Aku berusaha mengikuti pandangannya. Di sekitar kami selain tumpukan sampah, tampak kawah besar, lubang bekas bukit yang dikeruk sampai habis. Sebuah dataran luas yang dulunya bekas hutan, sekarang gersang, kering, tak ada pohon yang mau tumbuh disana. Sumber-sumber air yang masih mengalir telah rusak dicemari limbah. Tidak ada apapun lagi yang tersisa di tanah ini. Hanya penderitaan, kesedihan dan orang-orang yang menunggu mati.

Kemudian kami mengarahkan pandangan menuju lautan yang luas. Seperti kata Irsam, di seberang lautan sana ada surga yang dibangun dari kekayaan di tanah ini. Surga yang orang-orang serakah itu tarik dari langit ke bumi. Menyisakan neraka bagi orang-orang di tanah ini.

Matahari semakin lama semakin condong ke barat, berusaha menyembunyikan dirinya dalam batas cakrawala. Dari arah laut, angin mulai bertiup dengan ganas. Kami berdua menatap kosong ke arah cakrawala itu. Menanti senja yang sebentar lagi akan turun di tanah ini.


Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia

[CERPEN] “Dunia Aku“

[CERPEN] Lorong