[CERPEN] Pelajaran dari Laba-laba
Nara menjejakkan kakinya, langkah demi langkah melalui jalan setapak pada suatu taman di tepi danau. Daerah tepian danau itu memang banyak dikunjungi orang untuk berkegiatan. Sekedar melepas penat dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari atau berolahraga demi kebugaran jasmani. Begitu pula keadaannya pada sore itu. Beberapa orang tampak duduk berjejer di pinggir danau – sedang memancing. Beberapa pasangan pemuda pemudi dan juga keluarga duduk bersantai di sebuah tanah lapang menikmati indahnya pemandangan danau. Pedagang asongan hilir mudik menjajakan dagangannya. Sekelompok anak-anak tampak sedang bermain bola, ada juga yang berusaha menerbangkan layang-layang. Bukan hanya di tepi danau, di tengah danaupun tampak beberapa orang sedang mengayuh perahu mengelilingi danau.
Namun berbeda dengan keadaan disekelilingnya, Nara tampak terisolasi dari hiruk pikuk orang-orang disekitarnya. Matanya tidak memperhatikan pemandangan disekitarnya, hanya berfokus pada langkah kakinya, pada jalan setapak yang dilaluinya. Beberapa pengunjung yang berolahraga beberapa kali melewatinya nemun tidak dihiraukannya.
“Empat puluh satu, empat puluh dua, empat puluh tiga…,” entah sejak kapan ia mulai menghitung langkah kakinya. Ia masih terus melanjutkan hitungannya hingga akhirnya ia melihat sebuah bangku panjang. Bangku itu terletak di salah satu sudut yang terlindungi oleh pohon-pohon rindang di sekitarnya. Dilihatnya bangku itu masih kosong, kemudian ia mempercepat langkahnya kesana, takut kalau tempat itu lebih dahulu diambil seseorang.
Sesampainya disana, dihempaskannya tubuhnya ke bangku itu. Ia menatap keatas. Birunya langit tampak dari celah-celah dedaunan diatasnya. Awan bergerak perlahan. Matahari mulai condong ke barat. Kemudian perlahan diarahkannya pandangannya ke permukaan danau. Kilauan cahaya matahari yang terpantul sedikit menyilaukan matanya. Dilihatnya orang-orang yang sedang beraktivitas di sekitar danau, para pemancing yang sedang merenung menantikan umpannya disambar ikan. Tampak pula beberapa burung terbang rendah mendekati permukaan danau. Sebenarnya pemandangan itu adalah pemandangan yang indah, namun entah kenapa ia tidak dapat menangkap keindahannya. Pikirannya melayang jauh entah kemana.
Tiba-tiba ia menghela napasnya. Bukankan tujuannya datang kesini setelah hampir tiga bulan mengurung diri dikamarnya adalah untuk mencari inspiras – mencari ‘sesuatu’ untuk ditulis. Tapi kenapa inspirasi itu tidak kunjung datang juga. Bahkan birunya langit, putihnya awan, kilauan air danau yang bagaikan kristal, hijaunya dedaunan, riuhnya kicauan burung dan berbagai bunyi serangga masih belum memberikan inspirasi baginya. Tidak pula orang-orang yang berkeliaran di sekitar danau ini.
Orang-orang…
Kenapa pula selama ini ia menyembunyikan dirinya dari orang-orang. Apakah karena kenyataan bahwa sampai saat ini dirinya belum mendapatkan pekerjaan setelah memutuskan untuk keluar dari kantor lamanya? Kenapa juga ia memutuskan untuk keluar dari kantor lamanya?
Ya. Pertanyaan itulah yang sering ditanyakan orang kepadanya, dan pertanyaan itu pulalah yang dihindarinya. Bukan karena ia tidak punya jawabanya, melainkan lebih karena meskipun ia menjelaskan alasannya orang-orang toh tetap tidak akan mau mengerti dan malah menghakiminya, menganggapnya malas, tidak bersyukur dan lain sebagainya.
“Kenapa keluar? Bukannya pekerjaannya bagus? Lantas sekarang kerja dimana?”
Sekarang kerja dimana? Itulah pertanyaan yang sampai sekarang belum ada jawabannya. Sedangkan untuk alasannya meninggalkan pekerjaan lamanya sebenarnya jawabannya cukup klise namun kompleks. Tidak cocok dengan lingkungan kerjanya. Suatu realita yang baru ia sadari ketika telah memasuki dunia kerja.
Salah satu keuntungan bekerja kepada orang lain adalah tidak perlu pusing memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan uang. Cukup kerjakan apa yang sudah ditetapkan perusahaan ataupun perintah atasan. Namun ini jugalah kekurangannya. Untuk bisa bertahan dalam pekerjaan itu, maka mau tak mau ia harus menuruti pimpinan, apapun perintahnya, meskipun itu tidak sesuai dengan perinsip dirinya, meskipun harus berbuat ‘tidak jujur’. Sejak kecil ia selalu dididik untuk hidup jujur, tidak menipu orang lain demi keuntungan pribadi. Namun apa yang dikatakan orang tuanya ketika ia menceritakan niatnya untuk keluar dari tempat itu, “dijalani saja dulu nak, yang sabar. Sekarang susah mencari kerja.” Bahkan orang tuanya yang sejak dulu mengajarkannya untuk hidup jujurpun berkata seperti itu.
Tidak hanya orang tuanya. Respon rekan-rekan kerjanya Ketika ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keputusan pimpinan juga sama seperti itu. “Sabar saja, itu hal yang biasa. Dimana-mana juga kerjanya begitu. Apalagi sekarang susah cari kerja, sudah syukur kita bisa diterima disini.”
Itulah yang membuat mereka tetap bertahan. Itu pulalah yang membuat perusahaan bisa berbuat semena-mena kepada mereka. Memanfaatkan kondisi sulitnya mencari pekerjaan, perusahaan membuat seolah-olah para pekerja harus berterima kasih kepada mereka karena sudah diterima bekerja, sehingga mereka bisa menggaji seadanya kemudian memberi beban kerja sesuka hatinya. Toh kalaupun pekerja tak terima, mereka tidak akan semudah itu berpikir untuk keluar karena susanya mencari pekerjaan.
Inilah satu hal lagi yang tidak dapat diterimanya. Hal inilah yang ditentangnya dan membulatkan tekadnya untuk mengundurkan diri dari tempat kerjanya itu. Ia ingin bekerja dengan jujur, mencari kerja dengan jujur. Tapi adakah perusahaan yang sesuai dengan kriterianya itu? Ia mencoba mengirim lamaran ke berbagai perusahaan yang menurutnya sesuai dengan kriterianya. Namun sayangnya sampai saat ini belum ada yang memberikan jawaban.
Kemudian ia berpikir, apakah ini adalah sebuah petunjuk dari alam. Apakah alam menginginkan ia mencari uang dengan jujur, dengan kemampuannya sendiri. Kalau iya, maka pekerjaan apa yang bisa ia kerjakan. Satu-satunnya cara yang terpikir oleh dirinya untuk memperoleh uang secara jujur adalah dengan membuat karya. Tapi karya apa yang bisa ia buat? Ia tidak mempunyai darah seni. Tidak ada darah seni setitikpun dalam dirinya. Melukis ia tidak bisa. Membuat ilustrasi atau karikaturpun sama. Memahat, mematung apalagi.
Hanya menulis yang mungkin bisa dilakukannya. Ia ingat pada saat sekolah dulu ia pernah membuat tulisan yang mampu menghibur teman-temannya. Mereka berebutan membaca karyanya, saling merekomendasikan kepada yang lain. Gurunyapun turut memujinya. Meskipun itu hanya sebuah cerita sederhana, pengalamannya ketika dikejar anjing. Itupun ia meniru gaya penulisan dari novel yang penah ia baca. Tapi bagaimanapun itu merupakan salah satu prestasinya yang paling membanggakan.
Haruskah ia mencoba menulis lagi? Bukankah saat itu ia menulis hanya karena itu adalah tugas sekolah. Masih mampukah ia membuat sebuah tulisan setelah sekian lama tidak menulis?
Akhirnya ia mencoba menulis kembali dan berhasil menghasilkan beberapa karya tulisan. Tulisannya itu kemudian ia coba kirimkan ke berbagai media populer. Namun sama seperti lamarannya, tulisan-tulisan itupun masih belum mendapat tanggapan hingga saat ini.
Oleh karena itulah hari ini ia memutuskan mencoba keluar dari zona nyamannya – kamarnya yang terlindungi. Mencoba membuka diri ke tepi danau ini. Berusaha mendapatkan inspirasi untuk ditulis. Tapi apabila ia tidak juga mendapatkan inspirasi dan tulisan-tulisannya benar-benar tidak diterima apakah itu artinya alam memintanya untuk menyerah? Atau mungkinkah alam menyuruhnya untuk tidak menyerah dan justru sedang berusaha menguji keteguhan hatinya untuk menjadi penulis?
Saat sedang merenungkan pertanyaan ini, seekor kupu-kupu putih kecil terbang melintas di depannya. Matanya beralih memperhatikan kupu-kupu itu. Alangkah senangnya menjadi kupu-kupu, pikirnya. Tidak perlu repot-repot memikirkan pekerjaan, uang, dan pendapat orang. Setelah keluar dari kepompong, ia bisa terbang bebas mengikuti arah angin, mencari nektar di bunga yang indah, berkembang biak, dan kemudian mati.
Mati…
Begitu singkatnya kehidupan kupu-kupu itu. Bahkan kehidupan kupu-kupu kecil inipun mungkin malah lebih singkat lagi. Entah sudah berapa lama sejak ia menetas dari kepompongnya. Sudahkah ia sempat berkembang biak? Namun sayangnya disini ia malah hendak menyambut kematiannya. Kupu-kupu kecil itu dengan ceroboh telah terbang menuju sebuah jaring laba-laba. Sekarang ia tersangkut di jaring itu.
Ia meronta-ronta sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari jeratan yang menahannya. Sang laba-laba – pemilik jaring tersebut hanya mengamatinya. Entah kenapa ia tidak langsung menghabisi mangsanya itu. Mungkinkah ia menghargai kegigihan mangsanya itu dan membiarkannya berusaha melepaskan diri hingga akhirnya tak berdaya lagi.
Haruskah ia menyelamatkan kupu-kupu itu? Pikir Nara. Tentu ia bisa saja menolongnya. Tapi kalau ia menolongnya bukankah ia akan bertindak tidak adil pada laba-laba itu karena telah merebut mangsanya. Jadi apakah sebenarnya takdir dari kupu-kupu kecil itu? Ia tidak bisa menemukan jawabannya sehingga akhirnya ia hanya mengamati kejadian itu.
Kupu-kupu kecil itu masih berusaha sekuat tenaga melepaskan dirinya, sementara si pemilik jaring masih siaga mengamatinya meronta, menunggu hingga akhirnya mangsanya akan menyerah kehabisan tenaga.
Namun ternyata bukan hanya Nara yang melihat kejadian itu. Seorang gadis kecil juga melihatnya. Gadis kecil itu segera berlari memanggil ayahnya. Tak beberapa lama ia kembali bersama ayahnya, dan membebaskan kupu-kupu kecil itu.
Jadi itulah takdir si kupu-kupu kecil itu, pikir Nara. Meskipun ia memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, alam ternyata tetap membantu kupu-kupu kecil itu. Sang alam mungkin meerasa iba melihat perjuangan kupu-kupu itu membebaskan diri sehingga memberikan pertolongan melalui gadis kecil itu.
Lalu apa yang dilakukan laba-laba itu? Laba-laba itu sempat menyingkir ketika ayah si gadis kecil berusaha membebaskan kupu-kupu itu, tapi setelah mereka pergi, ia kembali, kemudian dengan perlahan mulai memperbaiki bagian jaringnya yang rusak.
Apakah laba-laba itu menaruh dendam pada ayah gadis kecil itu karena telah merebut mangsanya? Bisa jadi, bahkan mungkin saja saat ini ia sedang mengutukinya. Tapi apa yang bisa ia lakukan, manusia itu jauh lebih besar daripada dirinya. Kalau ia mencoba melawannya, bisa-bisa dirinya yang mati. Jadi ia hanya bisa bersabar melihat ada manusia yang merebut mangsanya.
Sabar…
Itulah yang dilakukan laba-laba itu selama ini. Ia selalu bersabar dan pasrah terhadap kehendak alam. Kenapa pula cerita-cerita menggambarkan laba-laba sebagai hewan yang jahat hanya karena penampilannya yang mengerikan. Padahal pada kenyataannya laba-laba pembuat jaring ini adalah wujud kesabaran, ketekunan, kegigihan, dan penyerahan diri yang sejati kepada kehendak alam. Alam hanya memberikannya kemampuan untuk membuat jaring, jadi ia memanfaatkan kemampuan itu sebaik-baiknya untuk bertahan hidup. Ia berusaha sebaik mungkin mencari tempat yang ideal untuk mengembangkan jaringnya dan kemudian dengan ketekunan ia merajut jaring itu sepenuh hati hingga menjadi suatu kesatuan struktur yang kokoh. Kemudian setelah selesai bekerja keras ia hanya tinggal menyerahkan hasilnya kepada alam untuk memberikan hadiah atas jerih payahnya.
Bukankah ia bisa belajar dari laba-laba itu, pikir Nara. Apa yang terjadi pada laba-laba itu kurang lebih mirip dengan dirinya sekarang. Seperti laba-laba yang hanya bisa membuat jaring, ia juga hanya bisa menulis. Karena alam sudah menganugerahkan kemampuan itu kepadanya , maka ia hanya harus terus menulis dan belajar menulis. Mengembangkan kemampuan menulisnya. Mungkin saja tulisannya ditolak karena memang kurang bagus. Jadi ia hanya harus membuat tulisan yang lebih baik lagi. Bukankah dengan semakin banyak menulis kemampuannya juga akan semakin berkembang. Suatu saat pasti akan ada yang membaca dan menghargai tulisannya. Lagipula dengan menulis ia juga bisa meninggalkan sesuatu pada kehidupan ini.
Dalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada laba-laba itu dan mendoakannya agar dapat segera memperoleh pengganti dari kerugiannya hari ini. Ternyata tidak sia-sia ia datang ke tempat ini. Sang Alam rupanya sedang memberinya suatu inspirasi luar biasa yang sayang sekali kalau tak ditulis.
Comments
Post a Comment