[CERPEN] Pesta Pora Para Pendusta

Denting suara gelas, piring dan garpu saling beradu, berpadu dengan riuhnya suara tawa, senda gurau, racauan para pendusta bergema memenuhi dinding pualam ruangan besar itu. Makanan dan minuman beraneka ragam, beraneka rupa, beraneka rasa memenuhi meja-meja bundar tempat para pendusta saling duduk bercengkrama menikmati segala kenikmatan dunia. Lampu-lampu kristal menyala terang benderang menyinari seluruh sudut, membuat menara gading itu tampak berkilau agung di tengah negeri yang sedang gelap gulita.

Dalam sebuah ruangan di puncak menara gading inilah para pendusta menyelenggarakan pestanya. Tua, muda, pria, wanita berbaur menjadi satu. Masing-masing dari mereka sibuk mencicipi berbagai hidangan yang tersedia. Daging, sayur, kue, manisan, asinan, berbagai macam, berbagai rupa. Segala kenikmatan dunia seolah tersedia disana. Air nira yang manis serta anggur yang memabukkan tak henti-hentinya membasahi kerongkongan mereka. Beberapa pria dan wanita berdansa dengan asiknya, menyanyi dan menari mengikuti irama lagu. Lantunan musik yang mengalun merdu itu menutup telinga mereka dari segala hiruk pikuk yang terjadi di luar.

Di antara gegap gempita para pendusta yang menikmati pesta itu, seorang pemuda tampak canggung, bingung, hatinya bimbang. Haruskah ia ikut menikmati pesta ini? Bukankah tujuannya masuk ke tempat ini berbeda dengan orang-orang yang menikmati pesta ini? Bukankah tujuannya masuk ke tempat ini adalah untuk melanjutkan perjuangan. Mengubah sistem yang busuk ini. Menghancurkan Menara gading ini dari dalam. Lalu pantaskah ia ikut menikmati pesta ini?

Di tengah lamunannya, seorang pria datang dan menepuk pundaknya. “Hei, kenapa? Jangan tegang begitu. Ayo nikmati pestanya,” kata pria itu sambil menawarkan segelas minuman. Ia mengenali pria ini. Pria dihadapannya ini adalah orang yang dulu juga menyatakan perlawanan. Orang yang ingin mengubah sistem dari dalam seperti dirinya. Bukan hanya pria ini saja, pak tua yang sedang asik makan itu, wanita yang sedang asik bernyanyi itu juga dulu adalah orang-orang yang lantang menyerukan perubahan. Reformasi. Bagaimana bisa mereka yang dulu menyatakan perlawanan, menyerukan perubahan sekarang justru malah menikmati segala kenikmatan dalam pesta ini.

“Bagaimana bisa saya menikmati pesta ini, kalau di luar sana saudara-saudara kita sedang menderita,” jawab pemuda itu dingin.

“Menderita? Tidak mungkin mereka menderita. Lihatlah segala kemewahan ini. Ini adalah tanda kalau negeri ini masih makmur sejahtera. Bukankah kita disini bekerja demi mereka. Bagaimana bisa kita bekerja dengan baik tanpa segala kemewahan ini. Justru segala kemewahan di sini dibutuhkan juga demi kebaikan mereka.”

Baru saja pemuda itu akan membalas, tiba-tiba pintu besar di ruangan itu terbuka. “Sang Ketua” pemimpin dari segala pendusta memasuki ruangan, diikuti oleh para pengawal setianya.

“Para hadirin sekalian, terima kasih banyak saya ucapkan karena atas kerja keras saudara-saudara semua, kita saat ini dapat berkumpul kembali di sini,” ucap Sang Ketua dengan suara lantang, diikuti oleh riuh tepuk tangan seisi ruangan.

“Ketua!” seseorang berseru menginterupsi. Rupanya ia adalah si pemuda tadi. “Kita semua bisa berada di sini menikmati segala kenikmatan ini adalah karena orang-orang diluar sana. Tidakkah seharusnya kita disini untuk membalas kebaikan mereka?”

Sang Ketua sedikit terkejut mendengar perkataan si pemuda. Tapi Ketika ia melihat pemuda yang berbicara itu, mau tak mau ia jadi berusaha menahan tawanya. Pemuda itu tentunya orang baru, wajar saja ia berkata seperti itu. Sambil sedikit menenangkan dirinya, ia kemudian berkata, “Hadirin sekalian. Benar sekali bahwasanya kita bisa berada disini berkat orang-orang diluar sana. Oleh karena itu mari kita membagikan kebahagiaan kita dengan mereka semua,” Sang Ketua menjentikkan jarinya. Dalam sekejap muncul pelayan-pelayan yang mengambil semua sisa makanan dan minuman di atas meja. “Kita akan memberikan makanan dan minuman ini kepada mereka semua!” seru Sang Ketua sambil mengepalkan tangannya ke udara. Senyum licik menghiasi bibirnya.

Gestur ini disambut meriah oleh semua yang hadir di tempat itu. Mereka bersorak, bertepuk tangan dan mengelu-elukan nama sang ketua. Ada juga yang ikut mengepalkan di udara sambil sedikit tertawa-tawa.

“Tidak lupa pula kita harus berterima kasih kepada saudara kita yang sudah mengingatkan kita semua akan peran orang-orang diluar sana,” lanjut Sang Ketua dengan nada sedikit mengejek, sambil menunjuk ke arah si pemuda. Tepuk tangan dan sorak-sorai semua orang sekarang beralih kepada pemuda itu.

“Nah, sekarang karena kita sudah berterima kasih kepada orang-orang diluar sana, mari kita lanjutkan pesta kita!” Para pelayan kembali memasuki ruangan. Kali ini mereka membawa makanan dan minuman yang jauh lebih lezat dari makanan dan minuman yang sebelumnya. Tampak pula sebuah kue berukuran raksasa yang sedang dipotong-potong dan dibagi-bagikan kepada semua orang yang hadir.

“Saudara-saudara. Kue ini adalah hasil dari gunung emas yang kita gali tempo hari. Mari kita nikmati bersama-sama hasil kerja keras kita!” ujar Sang Ketua. Lagi-lagi suara riuh memenuhi ruangan aula itu. para pendusta bersorak-sorai. Suara denting gelas, piring dan garpu kembali beradu. Musik sekali lagi mengalun mengiringi nyanyian dan tarian para pendusta. Minuman-minuman yang memabukkan kembali membasahi kerongkongan mereka.

Pria tadi kembali menepuk pundak si pemuda. “Selamat!” katanya sambil menjabat tangan si pemuda. “Anda sudah menyuarakan suara orang-orang diluar sana. Mereka pasti sudah puas dengan apa yang kita berikan. Sekarang saatnya menikmati apa yang menjadi hak kita,” ujar pria itu. Ia menyantap kue dihadapannya dengan lahap. “Lihatlah kue ini. Begitu lezat. Begitu nikmat. Kue semacam ini tidak akan kita temukan di luar sana. Orang-orang di luar sana, mereka begitu bodoh. Mereka tidak tahu bahwa saat ini beginilah dunia bekerja. Kita tidak bisa merubah sistem! Tidak mungkin kita bisa melawan dunia! Kita hanya bisa mengikuti arus. Oleh karena itu selagi kita berada disini kita harus menikmati semua yang kita bisa. Jangan terlalu memikirkan orang-orang diluar sana. Kita hanya harus berpura-pura peduli dengan memberikan sesuatu kepada mereka, seperti yang anda lakukan tadi.”

Pria itu sepertinya sudah mabuk, karena sekarang ia meracau tidak jelas. Si pemuda memandang sekitarnya. Orang-orang sedang menyanyi, menari, makan, minum sepuas mereka. Menikmati segala jenis kenikmatan duniawi. Pria itu benar. Pikir si pemuda. Ia seorang diri tentu tidak akan bisa mengubah semua ini. Ia tentu tidak akan bisa menghancurkan menara gading ini. Jadi, mumpung ia sudah ada di sini, kenapa ia tidak nikmati saja segala kenikmatan ini. Toh tadi ia sudah memperjuangkan hak orang-orang yang ada di luar sana. Mereka seharusnya mengerti dan sudah puas dengan semua itu. oleh karena itu tidak ada salahnya untuk mencicipi kue ini.

Si pemuda akhirnya mulai mencicipi kue itu. Begitu satu suapan kue itu masuk ke dalam mulutnya, suatu sensasi kenikmatan yang belum pernah dirasakannya mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. “Persetan mereka semua!” gumam pemuda itu. Ia segera melahap kue yang lezat itu dan menenggak habis minuman dihadapannya. Segala kenikmatan duniawi ini begitu memabukkan. Membawanya tenggelam kedalam euforia pesta pora para pendusta.

***

Dinding tebal menara gading itu membuat orang-orang didalamnya terisolasi dari dunia luar. Di luar, orang-orang tampak masih menderita. Mereka yang menyerukan perlawanan, yang berusaha menerobos masuk ke dalam menara gading itu satu persatu tewas diinjak-injak sepatu lars para penjaga. Suara protes, teriakan dan tangisan tidak ada yang mampu menembus tebalnya dinding menara gading itu. Apa yang diberikan oleh orang-orang di dalam sana jelas sekali tidak cukup untuk mengatasi penderitaan mereka yang ada diluar.

Namun pesta pora itu tetap berlanjut. Para pendusta yang ada di dalam sana bahkan tidak sadar bahwa akibat perbuatan mereka, saat ini padi dan kapas mulai rontok berguguran. Sang banteng yang dahulu gagah berani, kini berlari tanpa arah, kehilangan tanduknya. Pohon beringin yang dulu berdiri kokoh, sekarang kering, layu, hilang rindangnya. Mata rantai yang menghubungkan hati orang-orang perlahan putus, hancur dimakan karat. Bahkan matahari, bulan dan para bintang enggan menunjukkan sinarnya. Negeri ini diliputi kegelapan. Namun para pendusta itu tidak peduli. Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka pikir mereka akan tetap aman dan terlindung dalam menara gading buatan mereka itu. Mereka tidak sadar bahwa ketika kegelapan dan kehancuran melanda negeri, di dalam menara gading itu mereka justru akan membusuk perlahan-lahan. Tanpa ada seorangpun yang peduli. Tanpa ada jalan untuk lari.

Sang burung yang agung, yang sedari tadi bertengger di puncak menara mengawasi semua yang terjadi kini mengepakkan sayapnya yang lebar. Terbang tinggi, menghilang di tengah kegelapan. Meninggalkan negeri yang tengah ditelan kebusukan ini.


Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia

[CERPEN] “Dunia Aku“

[CERPEN] Lorong