[CERPEN] Pesta Topeng

“Topeng macam apa ya yang harus kupakai?” pikirku dalam hati. Aku berpikir keras dalam kamarku. Benakku tidak tenang memikirkan hal ini. Beberapa hari lalu, pimpinan perusahaan tempatku bekerja memutuskan akan mengadakan pesta topeng untuk memperingati hari jadi perusahaan.

Kenapa harus pesta topeng? Akupun tak tahu. Memang ada-ada saja ide dari bapak pimpinan itu. Tahun lalu diadakannya peta kostum yang membuatku mau tidak mau harus mengenakan kostum badut. “Pilihlah kostum yang mencerminkan diri anda sendiri,” katanya, dan entah saran dari siapa yang kuturuti pada saat itu. “Sepertinya kamu cocok kalau memakai kostum badut,” kata salah satu rekan kerjaku itu sambil tertawa. Mungkin saja itu hanya olok-olok belaka, tapi toh pada akhirnya kuturuti juga saran itu. Tak tahu karena sudah terlalu malas berpikir atau memang dalam hati kecilku aku mengakui bahwa kecerobohan, kebodohan dan kekonyolan yang sering kulakukan di tempat kerja itu memang sudah selayaknya badut. Maka begitulah, aku akhirnya benar-benar menjadi badut, pusat hiburan, olok-olok, dan banyolan dalam pesta itu. Orang-orang benar-benar mentertawakan semua kekonyolanku.

Jangan salah sangka. Aku bukannya tidak menyukai keadaan itu. Meskipun awalnya terpaksa, namun lama kelamaan aku toh terbiasa juga. Membuat orang terhibur meskipun menjadi olok-olok ternyata cukup menyenangkan juga.

Kalau begitu kenapa pula aku harus pusing, bukankah dalam pesta topeng nanti aku bisa menggunakan topeng badut juga. Meskipun itu pilihan yang mudah, namun sayangnya untuk kali ini aku tidak ingin menjadi badut. Cukup sekali itu saja untukku menjadi badut. Aku tidak mau kesan badut itu terlalu menempel pada diriku apalagi di tempat kerja.

“Lantas topeng apa yang harus kupakai?” pertanyaan itu masih tetap bercokol dalam kepalaku. Kali ini Pak Pimpinan lagi-lagi mengatakan, “pilihlah topeng yang unik dan mencerminkan diri sendiri.” Tapi kalau begitu topeng apa yang kira-kira mencerminkan diriku sendiri, selain dari pada topeng badut tentunya.

Ah kalau mau gampang aku bisa saja menggunakan topeng karakter pahlawan super seperti yang ada dalam film-film. Tapi tentunya akan banyak temanku yang menggunakan topeng karakter semacam ini. Bahkan tahun lalupun ada banyak dari mereka yang mengenakan kostum macam ini. Apa lagi sepertinya aku sama sekali tidak cocok menjadi pahlawan super. Karakterku tidak sesuai. Sifatku bisa dikatakan jauh dari kata pemberani, gagah perkasa ataupun pembela kebenaran dan keadilan. Tapi lain halnya dengan topeng monster atau karakter penjahat yang biasa menjadi musuh dari pahlawan super, kalau itu mungkin masih bisa menjadi pertimbangan.

Atau aku mungkin bisa menggunakan topeng hewan. Itu mudah didapat sekarang ini, apalagi harganya juga murah meriah. Kalau aku mementingkan sisi kemudahan dan ekonomisnya mungkin ini merupakan pilihan yang tepat. Tapi hewan apa yang kira-kira cocok untukku. Anjing? Sayangnya aku tidak terlalu penurut apalagi setia seperti anjing. Kuda? Jauh sekali, aku bukan pekerja keras seperti karakter kuda yang biasa digambarkan dalam cerita-cerita. Kucing? Mungkin cocok, karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur, apalagi kalau ada waktu luang. Monyet? Orang Utan? Babi? Mungkin salah satu ada yang cocok, tapi aku tidak yakin.

Kalau aku ingin menonjolkan nilai seni, estetika dan budaya, topeng tradisional daerah yang sering digunakan dalam pertunjukan dan sendratari itu tentunya juga bisa menjadi pilihan. Apalagi jenis topeng tradisional semacam itu tentunya memiliki berbagai jenis karakter. Ada topeng keras, yang menunjukkan karakter yang keras dan pemarah. Ada juga yang disebut topeng tua untuk menggambarkan karakter orang yang sudah tua. Ada lagi topeng panji yang menunjukkan karakter kepahlawanan. Atau bahkan topeng raksasa yang menggambarkan sifat buas keraksasaan, dan masih banyak lagi. Tentunya topeng trasional ini dapat memberikanku lebih banyak pilihan untuk mengekspresikan diri.

Dari berbagai macam karakter itu, kira-kira manakah yang paling menggambarkan diriku? Ah, aku jadi semakin pusing.

**

 Keesokan harinya, di kantin tempatku bekerja, pada jam istirahat makan siang kulihat para rekan-rekan sekerjaku juga sibuk membicarakan mengenai pesta topeng itu. Di salah satu meja kulihat beberapa wanita rekan-rekan kerjaku sedang membicarakan hal itu dengan Ibu Kepala Bagian tempatku bekerja. Mereka membicarakan hal tersebut sambil bersenda gurau. Sekali-sekali sedikit puja puji dipersembahkan kepada Ibu Kepala Bagian tersebut. “Kalau ibu sih menggunakan topeng apapun juga pasti tetap cantik,” kata salah satu dari mereka. yang lain mengiyakan. Kemudian dibalas pula dengan pujian serupa oleh si Ibu Kepala Bagian itu. Mereka saling melempar pujian selama beberapa waktu sampai akhirnya Ibu Kepala Bagian itu kembali ke ruangannya. Saat itu barulah mereka berani menunjukkan wajah aslinya. “Huh, Ibu Kepala Bagian itu sih pantasnya memang pakai topeng setan atau nenek lampir,” kata salah satu diantaranya. “Kalau itu sih tanpa perlu pakai topeng juga memang sudah mirip,” kata yang lain menimpali, diikuti dengan tawa terkikik dari rekan-rekan lainnya.

 Wah wah wah, betapa cepatnya mereka berubah. Baru beberapa detik yang lalu mereka menunjukan muka yang penuh persahabatan, melemparkan puja puji yang ‘bertaburan gula’ kepada Ibu Kepala Bagian, tapi begitu yang bersangkutan pergi hilang sudah puja-puji itu entah kemana, malah berubah menjadi celaan, hinaan dan cacian. Untuk yang satu ini sepertinya aku harus angkat topi dan banyak belajar dari mereka.

 Di meja tempatku makan lain lagi suasananya. Disini rekan-rekannku yang laki-laki pada berkumpul. Mereka sedang mengeluh bahkan memepertanyakan kebijakan Pak Pimpinan untuk mengadakan pesta topeng.

 “Tahun lalu kan sudah pesta kostum, kenapa pula tahun ini harus pesta topeng? Kenapa tidak seperti dua tahun lalu saja yang cuma menggunakan kostum sepak bola. Aneh betul Pak Pimpinan itu, tak paham aku jalan pikirannya,” kata salah satunya.

 “Waktu itu kan bertepatan dengan piala dunia, sekarang kan lain. Tapi repot juga ya memilih topengnya, apalagi syaratnya harus unik dan sesuai jati diri,” yang lainnya membalas. Disusul dengan berbagai pendapat lain yang juga tidak menyetujui kebijakan Pak Pimpinan.

 Yang lucu dari keadaan ini adalah, orang-orang yang mengeluh dan menyatakan keberatan saat ini justru adalah orang-orang yang paling semangat dan berteriak paling lantang menyetujui ketika Pak Pimpinan mengutarakan idenya dalam rapat. Kalaupun mereka memang berkeberatan kenapa tidak mereka katakan saja pendapatnya pada rapat saat itu, kenapa malah menyetujui sambil bertepuk tangan. Sebegitu takutnyakah mereka kepada Pak Pimpinan sampai-sampai tidak berani menyatakan pendapat yang bertentangan. Atau mereka hanya ingin menjilat muka Pak Pimpinan agar suatu saat dapat lebih mudah naik pangkat atau mungkin hanya sekedar ingin naik gaji.

 Melihat hal-hal ini aku jadi berpikir. Kenapa pula Pak Pimpinan harus repot-repot mengadakan pesta topeng. Bukankan setiap hari, disini, di tempat kerja ini orang-orang pada menggunakan topeng. Bahkan tak terkecuali aku. Penuh kemunafikan, dan orang-orang memang harus pandai menggunakan topengnya untuk bisa bertahan di tempat kerjanya, demi bisa naik gaji, ataupun naik pangkat. Menjilat. Bermuka dua. Bertopeng.

 Bahkan mungkin tanpa kita sadari, dalam kehidupan sehari-hari kita sebenarnya juga sedang menggunakan topeng. Setiap hari ketika sedang memperlihatkan wajah asli kita, ketika orang mengenali siapa diri kita, kita tentunya ingin agar orang lain sebisa mungkin hanya melihat hal-hal baik dari diri kita. Segala keburukan yang kita miliki, kita sembunyikan dalam-dalam. Kita membentuk suatu persona yang ingin kita perlihatkan kepada khalayak umum. Walaupun itu mungkin tidak sesuai dengan jati diri kita, tapi tetap kita lakukan demi dapat diterima dimasyarakat, juga dalam pergaulan sehari-hari. Kita bisa tersenyum dengan ramah ketika berbicara dengan orang yang kita benci, tapi dibelakangnya kita mengutukinya mati-matian. Itu semua normal saja bagi manusia. Bahkan bisa jadi sangat diperlukan dalam pergaulan bermasyarakat saat ini.

Para artis, selebritis, dan orang-orang yang sering kita lihat melalui televisi ataupun internet juga sebenarnya tidak menunjukkan diri aslinya. Mereka hanya memperlihatkan persona yang memang ingin dilihat dan diterima oleh orang banyak. Mereka menggunakan topeng. Pejabat, politikus, apalagi. Mereka sangat fasih bertopeng. Entah sudah berapa macam topeng yang mereka miliki dan kenakan. Bahkan mungkin ada yang sudah sampai menyatu, menempel erat dengan kulit sampai-sampai membuat mukanya menjadi begitu tebal.

 Namun ironisnya adalah ketika kita sedang benar-benar menggunakan topeng, ketika orang lain tidak mengenali siapa kita, Ketika kita sedang terlindung dalam anonimitas. Pada saat itu justru kita bisa dengan mudah memperlihatkan diri kita yang sejati. Diri kita yang sebenarnya. Wajah asli kita.

Salah satu contohnya adalah fenomena yang mungkin sering kita perhatikan di sosial media. Lihatlah bagaimana orang bisa dengan bebasnya mengetikkan kata-kata kasar, ucapan jahat, makian, hujatan, ujaran kebencian, fitnah, iri dan dengki kepada sesamanya dengan sangat vulgar, tanpa sensor. Hal yang mungkin jarang kita lihat dalam dunia nyata. Mereka bisa bebas melakukannya karena merasa identitasnya aman, tidak diketahui, tidak ada yang mengetahui siapa diri mereka di internet. Bahkan mungkin kita juga pernah melakukannya.

 Hal yang sungguh sangat ironi ketika manusia menunjukkan wajah aslinya, saat itu ia sebenarnya sedang bertopeng sementara saat manusia sedang bertopeng, saat itu mungkin dia sedang menunjukkan dirinya yang sebenarnya.

“Kehidupan ini sejatinya adalah pesta topeng, parade orang-orang bertopeng”

 Namun lamunanku ini tiba-tiba saja dibuyarkan oleh pertanyaan dari temanku. Sebuah pertanyaan sederhana yang sedari awal sudah sering aku tanyakan pada diri sendiri.

“Jadi bagaimana, sudah memutuskan mau memakai topeng apa dalam pesta topeng nanti?”

Dimulutku aku menjawab “belum tahu,” tapi jauh didalam hatiku, dipikiranku sebenarnya aku akhirnya menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Jawabannya sangat sederhana. Aku tidak perlu repot-repot memilih topeng, toh sebenarnya aku sudah memiliki topeng yang sempurna, yang sangat menggambarkan diriku. Ya, aku tidak perlu mengenakan topeng apa-apa, aku cukup pergi kesana dengan wajah yang penuh senyuman.


Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia

[CERPEN] “Dunia Aku“

[CERPEN] Lorong