[CERPEN] Sang Penunggu Pohon Tua

Sang penunggu pohon tua duduk termenung. Matanya menatap jauh ke hiruk pikuk yang sedang terjadi di seberang jalan. Alat-alat berat tampak sibuk bekerja, mengeruk dan meratakan tanah. Beberapa truk besar pengangkut pasir dan tanah juga tampak berlalu lalang tak kalah sibuknya. Entah bangunan macam apa lagi yang akan mereka bangun disana.

Sejak beberapa tahun yang lalu pembangunan mulai marak dilakukan di desa tempat sang penunggu pohon tua tinggal. Bangunan-bangunan villa, hotel, penginapan, café dan restoran mulai banyak bermunculan disana. Belum lagi ruko-ruko yang sekarang telah berjejer rapi di sepanjang jalan utama desa. Hal ini tentunya banyak merubah wajah desa, membuatnya tampak semakin maju dan modern.

“Desa ini sekarang sudah benar-benar berubah. Mungkin ini yang dinamakan perubahan zaman,” renung sang penunggu pohon tua.

Saat sedang asik mengamati kesibukan yang terjadi di seberang jalan, seorang anak perempuan tampak berjalan menuju ke arahnya. Ia sangat mengenal anak itu. tentu saja itu adalah Devi yang sedang membawakan sesajen untuknya. Devi adalah anak dari pemilik warung makan yang tinggal tidak jauh dari sana. Setiap hari keluarga Devi selalu menyempatkan diri untuk memberikan sesajian berupa nasi dan lauk pauk kepada sang penunggu pohon tua sebelum memulai kegiatan mereka sehari-hari. Biasanya orang tua Devi yang bergantian pergi ke sana, namun karena hari ini hari libur, maka Devi yang kali ini bertugas untuk membawakan sesajennya.

Sebelum mempersembahkan sesajennya, Devi berjalan menuju sebuah kolam kecil yang terletak tak jauh dari pohon tua itu untuk mengambil air. Seperti halnya sang pohon tua, kolam itu juga dianggap suci oleh orang-orang yang tinggal di sekitar situ, karena air dari kolam itu berasal dari mata air yang memancar dari dalam tanah. “Kelebutan” orang-orang sekitar menyebutnya. Airnya yang jernih dan segar sering digunakan oleh warga sekitar untuk keperluan upacara keagamaan ataupun untuk air minum sehari-hari.

Setelah meletakkan dan memercikkan air ke sesajennya, Devi mempersilahkan sang penunggu pohon tua untuk menikmati sajiannya. Sang penunggu pohon tua mengucapkan terima kasih kepada Devi, namun seperti biasa ia sama sekali tidak menyentuh sesajen itu. Devi duduk di sebelahnya.

“Dadong (nenek) sedang memikirkan apa?” tanya Devi kepada sang penunggu pohon tua.

“Dadong sedang melihat orang-orang yang sibuk bekerja di seberang sana. Kira-kira apa ya yang mau dibuat disana?” jawab sang Dadong. Orang-orang di sekitar sini menyebutnya begitu. Mungkin itu merupakan panggilan akrab orang-orang itu kepadanya.

“Ooh itu. Kata bapak disana mau dibangun komplek perumahan. Pasti nanti akan semakin ramai disini” balas Devi riang. “Kata ibu kalau disini semakin ramai kita jadi tidak perlu jauh-jauh pergi ke kota untuk membeli sesuatu, Apalagi warung ibu juga nanti bisa jadi lebih ramai.”

“Tapi bukannya disana dulu sawah bapak Devi?”

“Iya, sudah dijual,” Devi mengangguk. “Tapi yang dijual cuma sawah yang di sebelah selatan saja, yang di utara masih ada.”

“Kenapa dijual?”

“Untuk biaya kuliah kakak. Kakak mau lanjut kuliah di luar daerah jadi kata bapak perlu biaya banyak. Juga sebentar lagi Devi mau masuk SMP jadi lagi-lagi bapak perlu keluar biaya.” Jawab Devi, bibirnya masih menyunggingkan senyum. “Bapak juga sekarang sudah semakin tua. Sudah tidak sanggup mengurus sawah seluas itu,” lanjut Devi. “Belum lagi kata bapak sekarang sudah jarang orang yang mau menjadi petani. Soalnya pekerjaannya berat sementara hasilnya tidak seberapa.”

Dadong mengingat kalau dulu Devi dan kakaknya sering bermain dan menerbangkan layangan di tempat itu. sekarang tentunya mereka tidak bisa lagi bermain seperti itu. Selain karena kakak Devi akan pergi kuliah ke luar daerah, sawah itu sekarang toh sudah tidak ada. Berganti dengan rumah-rumah yang akan ditempati oleh entah siapa.

Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam. Hanya riuh suara alat berat dan kendaraan berlalu-lalang yang terdengar. Tak beberapa lama, burung-burung yang sejak tadi hinggap di atas pohon tua mulai turun dan menyerbu nasi yang ada pada sesajen itu. Rombongan semut juga tidak mau kalah dan ikut berebut menikmatinya.

 “Zaman cepat berubah ya,” kata Dadong melanjutkan percakapan. “Dulu orang-orang bertani, berkebun, atau berladang supaya bisa bertahan hidup. Tapi sekarang bertani, berkebun, berladang justru malah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.”

Devi mengangguk. Ia berusaha membayangkan bagaimana orang-orang zaman dahulu bertahan hidup.

“Dadong sudah tinggal di sini berapa lama?” tanyanya tiba-tiba.

“Wah sudah berapa lama ya, Dadong tidak ingat. Mungkin sudah ratusan tahun, seusia dengan pohon ini.”

“Dulu di sini seperti apa?” tanyanya lagi.
“Dulu tempat ini hutan lebat yang penuh dengan pohon-pohon besar. Banyak teman-teman Dadong dulu tinggal di sini. Tapi semenjak kedatangan orang-orang, teman-teman Dadong satu persatu mulai tergusur. Hutan perlahan-lahan berubah menjadi kebun, ladang, sawah, bahkan bangunan-bangunan beton seperti sekarang.”
“Lalu teman-teman Dadong itu pindah kemana?”
“Macam-macam, ada yang ke gunung, ke hutan-hutan lain, bahkan ke laut. Pokoknya ke tempat yang tidak ada manusianya. Dadong termasuk salah satu yang beruntung karena tidak perlu pindah.”

“Kenapa?”

“Mungkin karena pohon tempat Dadong tinggal ini adalah yang paling besar dan paling tua. Lalu karena masih ada orang-orang seperti Devi dan keluarga Devi yang sering memberikan sesajen ke sini. Selain itu juga mungkin karena mata air ini. Kalau mata air ini tidak ada atau suatu saat kering, mungkin Dadong juga akan tergusur seperti teman-teman Dadong yang lain.”

“Memangnya mata air ini bisa kering Dong?” tanya Devi penasaran.

“Mungkin saja. Soalnya seingat Dadong dulu waktu di sini masih hutan lebat, kelebutannya (air yang memancar) ada lima. Sementara sekarang tinggal satu.”

Devi diam termenung mendengarkan penjelasan Dadong, sementara Dadong mengamati eksperesi anak itu. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tiba-tiba Devi bangkit berdiri.

“Kalau nanti Dadong digusur, mungkin dadong bisa pindah ke rumah Devi. Ada pohon jepun (kamboja) besar yang umurnya cukup tua disana,” kata Devi kepada sang Dadong.

“Ya. Mudah-mudahan si penunggu pohon jepun itu mau berbaik hati dan tidak meminta uang sewa kepada Dadong,” balas sang Dadong sambil tertawa. Devi ikut tertawa kemudian berpamitan kepada sang Dadong karena harus membantu ibunya menjaga warung.

Tak beberapa lama, seekor anjing hitam besar datang dan membawa pergi sepotong ayam goreng yang menjadi lauk dalam sesajen. Di belakangnya seekor anjing putih kecil tampak lesu ketika melihat sudah tidak tersisa apa-apa lagi yang bisa dimakannya dari sesajen itu.

“Terlambat selangkah. Besok harus datang lebih pagi lagi ya,” kata sang Dadong sambil menepuk-nepuk kepala anjing putih kecil itu. Anjing putih itu pun duduk dengan setia di sebelah Dadong. Berdua mereka memandang kesibukan di seberang jalan. Menatap perubahan yang terus terjadi di tempat tinggal mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia

[CERPEN] Menggambar Mimpi

[CERPEN] Sebelum Lilin Padam