[CERPEN] Seorang Anak dan Orang dengan Lubang di Dadanya
Anak itu berlari dengan riang. Tentu saja, karena ini adalah pertama kalinya ia pergi ke pasar malam. Selama ini ia hanya bisa membayangkan betapa menyenangkannya suasana pasar malam dari dalam kamarnya yang sempit. Membayangkan berbagai macam permainan yang seru, wahana dan atraksi yang menegangkan juga berbagai jenis makanan, minuman, dan barang-barang lain yang dijual disana. Jadi ketika kesempatan itu akhirnya datang, ia tidak mau menyia-nyiakannya.
Ia mencoba berbagai jenis wahana, bianglala, komidi putar, kora-kora. Menonton atraksi tong setan yang mendebarkan dan sulap jalanan yang mengagumkan. Menguji nyalinya dalam rumah hantu yang ternyata hantunya menurutnya lucu bukannya menyeramkan. Memainkan berbagai jenis permainan meskipun hanya memenangkan satu buah gelang kecil. Dan tentunya tidak lupa mencoba berbagai jenis makanan dan minuman yang dijajakan disana. Ia bahkan telah mengantri hingga hampir satu jam hanya demi membeli cumi bakar besar yang menurut orang-orang sangat lezat (sayangnya ternyata rasanya jauh dari apa yang dibayangkannya).
Namun dibandingkan semua itu, yang paling dikaguminya adalah orang-orang. Keramaian orang-orang yang datang dan memenuhi alun-alun tempat pasar malam ini diadakan. Berbagai jenis manusia, dengan berbagai usia, ras dan warna, semuanya berkumpul menjadi satu di tempat ini. Entah dari mana mereka semua berasal, yang jelas mereka semua tampak bahagia, berbaur menjadi satu menikmati berbagai hiburan yang ada.
Di antara berbagai macam orang yang menikmati suasana pasar malam itu, anak itu menyadari ada seseorang yang tampak berbeda dari yang lainnya. Orang itu tampak murung. Ia terlihat tidak begitu antusias menikmati keriuhan yang ada. Ia hanya duduk diam di sebuah bangku. Matanya menatap kosong ke arah kerumunan orang. Pandangannya mengisyaratkan seolah-olah ia sedang memandang jauh ke suatu tempat yang tidak benar-benar ada. Seperti mayat hidup yang terjebak di luasnya belantara manusia.
Selama hidupnya, anak itu tidak pernah mengamati sesuatu yang seperti itu. oleh karena itu melihat keberadaan orang itu membuat rasa penasarannya menyeruak. Ia memberanikan diri mendekati orang itu.
“Kenapa anda begitu murung,” tanyanya.
“Aku juga tidak tahu. Aku berusaha menikmati semua ini tapi tidak bisa. Mungkin semuanya karena ini,” jawab orang itu sambil menunjuk sesuatu yang ada di dadanya.
Anak itu memperhatikannya. Ada sesuatu di dada orang itu. Sebuah lubang. Lubang yang gelap dan dalam.
“Kenapa anda memiliki itu,” tanya anak itu lagi.
“Entahlah. Sudah sejak lama ia seperti ini. Aku juga tidak ingat sejak kapan. Tapi semenjak itu aku selalu merasa hampa.”
Anak itu diam sejenak, lalu ia melanjutkan.
“Mungkin kalau kita mengisinya kita bisa menutup lubang itu.”
“Ya. Aku juga berpikir begitu. Tapi sayangnya aku belum bisa menemukan sesuatu yang bisa mengisi lubang ini. Apakah kamu mau membantu?”
Anak itu mengangguk. “Tunggu di sini aku akan mencarikan sesuatu,” katanya. Lalu ia segera pergi menuju kerumunan orang-orang.
Saat sedang berusaha mencari sesuatu. Seorang badut yang sedang mengendarai sepeda roda satu tanpa sengaja menyenggol seorang penjual gulali keliling. Gulali yang dibawanya jatuh berserakan di tanah. Melihat hal itu, anak itu dengan sigap menolong si penjual gulali mengumpulkan barang dagangannya yang berserakan. Si penjual gulali merasa sangat berterima kasih dan memberikan gulalinya yang paling besar kepada anak itu.
Anak itu sangat bahagia. Namun ia mengingat janjinya kepada orang dengan lubang di dadanya itu. Jadi ia segera berlari kembali ke tempat orang itu.
Anak itu memberikan gulalinya kepada orang itu. “Mungkin ini bisa mengisi lubangnya,” ujarnya.
Orang itu menerima gulali itu dan melemparkannya ke dalam lubang di dadanya. Gulali itu masuk ditelan kegelapan namun lubang itu masih tetap ada.
Orang itu menggeleng. “Bukan ini,” katanya kecewa.
Jadi anak itu sekali lagi berlari menuju kerumunan mencari sesuatu. Di sana ia melihat seseorang yang sedang membagi-bagikan bunga. Bunga-bunga itu sangat indah. setiap orang yang menerimanya tampak sangat bahagia. Ia segera mendekati si pembawa bunga dan meminta satu.
Kemudian ia kembali lagi membawakan bunga itu kepada orang dengan lubang di dadanya. Orang itu menerima bunga itu dan melemparkannya ke dalam lubang. Namun seperti halnya gulali, bunga itu hanya ditelan gelapnya lubang dan tidak dapat mengisinya.
Oleh karena itu, ia lagi-lagi kembali ke kerumunan. Berusaha mencari sesuatu yang kira-kira bisa mengisi lubang yang ada di dada orang itu. Berbagai jenis barang yang bisa ditemukannya ia coba. Mulai dari makanan yang lezat, minuman yang menyegarkan, pakaian yang bagus, mainan yang menarik, namun semuanya sama. Hanya habis ditelan kegelapan tanpa bisa mengisi ataupun menutupnya. Satu hal yang tidak disadarinya adalah semakin banyak yang diberikannya semakin besar pula lubang itu menganga.
Tapi anak itu belum menyerah. Sekali lagi ia menuju kerumunan. Sayangnya kali ia tidak bisa lagi menemukan sesuatu yang menurutnya bisa mengisi lubang itu. Jadi ia hanya berjalan berputar-putar diantara kerumunan orang-orang yang menikmati pasar malam.
Di salah satu sudut pasar malam, ia melihat seorang pengemis terduduk lesu. Tubuhnya kurus kering, pakaiannya lusuh, compang-camping dan kotor. Pandangan mata pengemis itu mengingatkannya dengan pandangan mata orang yang memiliki lubang di dadanya itu. Si pengemis berusaha meminta sedikit uang kepada orang-orang yang lewat di depannya. Salah satu pengunjung yang merasa iba membagikan sedikit rezekinya kepadanya. Pengemis itu mengucapkan terima kasih berkali-kali. Melihat uang pemberian itu, matanya kembali bersinar, semangatnya tampak kembali bangkit.
“Ah! mungkin itu juga yang diperlukan orang itu,” pikir anak itu dalam hati.
Dengan segera ia berlari kembali menuju orang dengan lubang di dadanya itu. Ia merogoh kantongnya mengeluarkan semua uang yang ia punya.
“Coba ini! Coba ini!” serunya sambil menyerahkan semua uangnya kepada orang itu.
Dengan ragu orang itu menerimanya dan mencoba melemparkan semuanya ke dalam lubang di dadanya. Lagi-lagi semua itu tampak tidak berguna, uang itu lenyap ditelan kegelapan namun lubang itu justru malah semakin besar. Tapi anak itu menolak menyerah, ia melemparkan semua barang berharga yang ia punya ke sana, sayangnya tidak ada hasilnya juga. Melihat ini, anak itu tampak begitu kecewa.
“Maaf sepertinya aku tidak bisa menemukan sesuatu yang bisa mengisi lubang ini,” kata anak itu sedih.
Orang itu menggeleng. Ia tersenyum sambil menggenggam tangan anak itu.
“Terima kasih karena sudah mau membantu. Tapi sebenarnya sejak dulu aku sudah tahu apa yang bisa mengisi lubang ini,” balasnya. Senyum di wajahnya berubah menjadi seringai.
Mendengar perkataannya anak itu terkejut. Ia menatap orang itu dengan pandangan bingung.
Belum sempat ia membuka mulutnya untuk bertanya, tanpa ragu orang itu segera menariknya. Membiarkannya jatuh ke lubang yang dalam. Hingga perlahan kegelapan yang pekat menelan dunianya.
Comments
Post a Comment