[CERPEN] Sesuatu yang Ada di Dalam Kegelapan Gua
Ada yang mengatakan rasa penasaran bisa membunuhmu. Memang terdengar berlebihan, tapi bisa saja itu benar. Mungkin aku memang seharusnya tidak mengikuti rasa penasaranku. Mungkin sebaiknya aku bersikap masa bodoh dan menerima saja apa yang dikatakan orang-orang. Dengan begitu maka sekarang aku pasti sedang asik bersantai, tidur-tiduran di kamarku yang nyaman menikmati hari libur yang berharga ini. Bukannya malah menelusuri gua yang gelap, lembap, dan sempit ini.
Tapi, seandainya aku tidak memuaskan rasa penasaranku, apakah aku bisa dikatakan hidup? Bukankah itu hakikat hidup manusia? Bukankah itu alasan otak manusia berevolusi? Bukankah itu alasan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat sampai ke titik ini?
Untuk mencari tahu. Untuk menyingkap segala misteri yang ada di alam semesta ini. Untuk mengenal Tuhan. Untuk mengenal diri sendiri.
Oleh karena itu, dari pada bersantai di rumah aku lebih memilih menghabiskan liburanku dengan menelusuri gua ini bersama Yandi. Ia adalah sahabat karibku sejak kecil. Kami lahir dan besar bersama di desa ini. Dan sejak kecil kami juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Itulah yang membuat kami berdua sangat akrab. Selain itu kami juga memiliki ketertarikan yang sama. Rasa penasaran yang mendalam akan sebuah gua.
Ya. Di suatu tempat di desa kami terdapat sebuah gua. Gua itu merupakan salah satu tempat yang terlarang di desa ini. Sejak zaman dahulu tidak ada seorangpun yang diizinkan untuk masuk ataupun mendekati gua itu. Berbagai mitos dan rumor yang aneh melingkupi tempat itu. Ada yang mengatakan bahwa siapapun yang berani mendekati atau bahkan memasuki gua itu maka orang itu akan ditimpa kemalangan, kesialan dan lebih buruk lagi, kematian. Tidak sampai disitu saja, ada juga yang mengatakan bahwa kemalangan itu tidak hanya akan menimpa orang-orang yang melanggar tabu, tetapi juga akan berdampak kepada seluruh desa. Bahkan hal ini pernah tercatat dalam sejarah desa kami.
Pada tahun 19xx seorang pemuda yang pekerjaannya menebang kayu tanpa sengaja melewati gua itu. Entah karena rasa penasaran atau mendengar suatu bisikan jahat dari dalam gua, pemuda itu memasuki gua itu. Meskipun tanpa penerangan, ia tetap tidak ragu menerobos gelapnya gua. Pagi harinya. keluarganya yang merasa panik karena pemuda ini tidak kunjung pulang semalaman, kemudian meminta bantuan warga desa untuk mencarinya. Mereka menemukannya sedang terduduk di depan gua, pandangan matanya menatap kosong ke langit, namun senyum lebar tersungging di wajahnya. Ketika warga desa menghampirinya, ia tertawa begitu keras. Mulutnya tak henti-hentinya meracau. Mengatakan bahwa ia melihat sesuatu yang menakjubkan di dalam sana. Namun warga desa merasa, bahwa pemuda itu sudah bukan dirinya lagi.
Beberapa hari setelah pemuda itu ditemukan, kejadian aneh mulai terjadi di desa. Pertikaian-pertikaian kecil mulai terjadi di beberapa penjuru desa. Pertikaian-pertikaian itu semakin lama semakin membesar dan menenggelamkan desa dalam kekacauan. Kerusuhan besar terjadi di desa ini, dengan ratusan orang menjadi korbannya.
Tidak hanya kejadian mengenai pemuda itu saja. Ada berbagai kejadian lain yang kemudian berakhir dengan kematian misterius bahkan menyebarnya wabah penyakit di seluruh penjuru desa. Yang mana semuanya diduga akibat adanya orang yang melanggar larangan untuk memasuki gua itu. Orang-orang mempercayai bahwa ada sesuatu yang gelap dan jahat hidup dalam gua itu. Oleh karena itu setiap warga desa kemudian mendoktrin anak-anak mereka juga para pendatang untuk tidak mendekati ataupun memasuki gua itu apapun alasannya. Bahkan mereka sampai merahasiakan lokasi gua itu.
Tapi bagiku dan Yandi, semua hal itu justru menjadi pemantik semangat kami. Membuat kami menjadi lebih penasaran untuk menjelajahinya. Untuk mengetahui rahasia yang tersembunyi dalam gelapnya gua. Oleh karena itu selama bertahun-tahun kami menyusun rencana juga mengumpulkan keberanian. Hingga akhirnya hari ini kami berhasil mewujudkannya.
Sebelumnya selama berhari-hari kami telah melakukan survei rahasia untuk menemukan lokasi gua ini. Usaha kami tidak sia-sia. Kami berhasil menemukannya. Ternyata lokasinya jauh di pelosok desa.
Hanya dengan bermodal nekat dan masing-masing sebuah senter kecil, aku dan Yandi menelusuri gua ini. Tentu saja kami tidak mau mengambil resiko rencana kami diketahui orang apabila pergi dengan peralatan lengkap. Lagi pula tujuan kami kesini kali ini bukanlah untuk eksplorasi secara mendalam, melainkan hanya sebagai langkah awal. Langkah untuk membuktikan bahwa apa yang dipercayai warga desa itu hanyalah mitos. Bahwa gua ini hanyalah gua biasa. Tanpa ada sesuatu yang mengerikan di dalamnya. Sehingga di masa depan orang-orang tidak perlu takut dengan gua ini dan penelusuran lebih jauh bisa dilakukan.
Diluar dugaanku, pintu masuk gua ini ternyata sangat kecil dan sempit. Lebarnya hanya bisa dilewati satu orang dewasa, dua mungkin kalau mau berhimpitan dan orang dengan tinggi sekitar 165cm seperti kami harus cukup menunduk untuk bisa melewatinya.
Semakin ke dalam jalannya semakin menurun. Aku harus berusaha memperhatikan setiap langkahku agar tidak terpeleset atau tersandung. Belum lagi harus tetap memperhatikan kepalaku agar tidak terantuk langit langit gua. Dinding karang gua yang sempit itu juga beberapa kali menggores sikuku.
Tapi meskipun dasarnya menurun, untungnya langit-langitnya tetap melandai, sehingga semakin lama aku semakin bisa menegakkan kepalaku. Saat akhirnya aku bisa menegakkan kepalaku, sosok Yandi sudah tidak terlihat. Terhalang oleh jalur gua yang tiba-tiba berbelok dengan tajam. Hanya suara gema langkahnya yang terdengar diselingi dengan sekelebat cahaya senternya.
Aku menelusuri jalur gua yang sempit dan berkelok-kelok berusaha mengikuti jejak Yandi yang jauh di depan. Langkahku terhenti ketika menemukan jalur itu terpecah menjadi dua cabang. Untungnya aku melihat sekelebat cahaya senter Yandi dari jalur sebelah kiri. Jadi tanpa ragu aku membelok ke sebelah kiri.
Baru beberapa langkah aku berjalan, terdengar suara gema langkah kaki dari arah berlawanan. Langkahnya terdengar begitu terburu-buru bahkan hampir seperti berlari.
Apakah itu suara langkah kaki Yandi? Apakah aku mengambil jalan yang salah? Sepertinya tidak, karena beberapa kali aku melihat kilatan cahaya senter Yandi dari jalur di hadapanku. Jadi kalau begitu langkah kaki siapa itu? Apakah ada orang lain selain kami yang juga sedang menelusuri gua ini?
Tubuhku menegang. Dengan cepat aku mematikan senterku. Sayangnya gua ini begitu sempit dan tidak ada tempat untuk bersembunyi. Jadi aku merapatkan tubuhku ke dinding, berharap orang itu tidak melihat ke arah ini.
Suara langkah kaki itu semakin lama semakin cepat dan keras. Cahaya lampu senternya juga mulai terlihat. Jantungku berdetak semakin kencang. Rasa tegang dan penasaran melingkupi diriku. Siapa sebenarnya orang itu? Dalam hati aku berdoa agar orang itu tidak menyorotkan senternya ke arah sini dan aku bisa melihat wajahnya.
Tapi sial, doaku ternyata dijawab sebaliknya. Begitu keluar dari belokan, cahaya senter orang itu langsung mengarah tepat ke wajahku. Karena silau aku tidak bisa melihat wajahnya. Yang terdengar hanyalah jeritan. Sebuah jeritan ketakutan. Dan aku mengenali suara jeritan siapa itu.
“Yandi?!” seruku.
“Siapa kamu?” tanyanya ketakutan.
“Ini aku, siapa lagi! Lagipula harusnya aku yang bertanya begitu. Baru saja aku melihat cahaya sentermu di arah sana (kataku menunjuk ke arah jalanku tadi), tapi kenapa kamu malah bisa datang dari situ?”
“Tidak… tidak mungkin ini kamu,” ia menggeleng sambil berusaha menunjuk ke arah datangnya tadi dengan tangannya yang gemetar “Tadi kamu ada di dalam sana. Tergeletak. Mati…” nada suaranya yang gemetar, ditambah gema yang dihasilkan dinding gua ini membuat kalimat yang diucapkannya itu terdengar begitu ironis.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung. Baru saja aku mau berjalan mendekatinya, tiba-tiba dari belakangku terdengar suara seseorang berteriak memanggil-manggil namaku.
Lagi-lagi itu suara Yandi!
Mendengar suara itu orang yang ada di hadapanku terbelalak, wajahnya semakin pucat seolah-olah sudah tidak ada lagi darah yang mengalir disana. Tanpa basa basi ia segera berlari sambil menjerit ketakutan menuju jalan keluar.
Aku berusaha mengejarnya, tapi sesosok tangan menangkap bahuku. Aku menoleh. Benar saja, orang itu lagi-lagi Yandi!
“Hei, mau kemana? Kenapa teriak-teriak?” tanyanya.
Aku hanya membisu, tidak mampu menjawab. Otakku masih kesulitan mencerna peristiwa yang sedang terjadi.
“Kamu kelihatan pucat, apa karena kurang oksigen ya? Tapi tenang, petualangan kita tidak akan sia sia di dalam sana ada sesuatu yang menarik. Ayo!” ia melanjutkan sambil menarikku mengikutinya.
Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya, sambil otakku berpikir keras berusaha mencerna apa sebenarnya yang kulihat tadi. Mungkinkah Yandi yang ini benar? Mungkinkah semua yang kulihat tadi hanyalah ilusi karena udara yang lembap dan kurang oksigen?
Semakin dalam berjalan, langit-langit gua ini kembali menjadi semakin rendah. Lagi-lagi aku harus menunduk untuk melewatinya. Tapi untungnya itu tidak berlangsung begitu lama, karena terowongan yang kecil itu ternyata menembus ke sebuah ruangan yang begitu luas dengan langit-langit yang tinggi. Rasanya seperti sedang berada dalam sebuah aula besar yang ada jauh di dalam perut bumi. Di mana segalanya terbentuk dari formasi bebatuan dengan langit-langit dan dasarnya dihiasi stalaktit dan stalagmit yang menjulang.
Dan sekali lagi, seperti sebuah dejavu, ketika akhirnya aku berhasil menegakkan badanku, Yandi tidak ada disana. Aku berteriak memanggil manggil namanya, namun tidak ada jawaban. Hanya gema suaraku dan deru suara air yang terdengar.
Benar. Ada aliran sungai yang mengalir di dalam sini, yang mungkin berasal dari suatu air terjun kecil. Karena aku juga mendengar ada suara gema gemericik air dari dekat situ. Dengan senter kecilku aku berusaha menerangi seluruh bagian ruangan itu. Berusaha melihat dengan lebih jelas sekaligus mencari keberadaan Yandi. Sayangnya cahaya lampu senter kecil ini tidak mampu menjangkau seluruh ruangan.
Jadi aku memutuskan untuk mencoba mengikuti aliran sungai. Mencari dimana sumber air ini berasal. Ternyata tepat seperti dugaanku ada air terjun kecil disana. Airnya mengalir dari sebuah lubang di ujung dinding gua. Tepat di bawahnya ada kolam kecil yang terbentuk dari genangan air yang tertampung sebelum mengalir membentuk sungai. Jaraknya kira-kira 20 meter dari tempatku.
Di tengah kolam itu tampak sesuatu yang tergeletak. Karena tidak terlalu jelas, aku berusaha mendekatinya.
15 meter. Sosok itu tampak mulai semakin jelas.
13 meter. Sosok itu tampak seperti manusia. Ia berbaring menelungkup tak bergerak, kepalanya miring menghadap kanan, tubuhnya tampak kaku. Apakah itu Yandi?
10 meter. Aku mengenali pakaian itu, Itu bukan pakaian yang digunakan Yandi!
5 meter. Perasaanku semakin tidak enak. Aku benar-benar mengenali pakaian itu. Aku bahkan mengenali potongan rambutnya.
1 meter. Haruskah aku melihat wajah orang ini?
Aku memiringkan kepalaku berusaha melihat dengan jelas wajah orang yang terbujur kaku itu. Ketika aku melihatnya, dalam sekejap aku merasa seperti kehilangan pijakan. Seolah-olah kakiku sudah tidak menapak tanah lagi. Ternyata wajah orang yang terbujur kaku itu adalah wajah yang sama dengan wajah orang yang selalu membalas tatapanku dari balik cermin.
Ya, orang yang terbujur kaku itu adalah aku!
Udara di dalam gua itu terasa semakin dingin menusuk. Angin yang menghembus tengkukku terdengar membisikkan sesuatu,
“Jadi, kamu ini sebenarnya siapa?”
Comments
Post a Comment