[CERPEN] Penghuni Kamar Ketiga


Seumur hidup tidak pernah sekalipun aku membayangkan kalau kehidupanku akan berakhir seperti ini. Bahkan memimpikannya dalam mimpi terburuk pun tidak pernah. Lagi pula bagaimana bisa aku membayangkan kalau kehidupanku yang selama ini berjalan normal dan aman akan berakhir di tempat ini. Dalam takdir yang begitu kacau ini. 

Jadi, selagi ingatanku masih tersisa aku akan berusaha menceritakan kisahku. Kisah yang akan aku ceritakan ini mungkin akan terasa begitu aneh, kacau dan sulit diterima nalar bagi siapapun yang membacanya. Nemun semua ini benar-benar aku alami. Tentang berbagai peristiwa yang telah aku alami hingga akhirnya semuanya berakhir seperti ini. Bahkan, kalau kuingat kembali, segalanya berawal dari suatu hal yang benar-benar normal. Hanya saja, sepertinya saat itu kebetulan yang mengerikan dari takdir yang kejam sedang menunjuk ke arahku.

Semuanya bermula saat aku diterima bekerja sebagai laboran di laboratorium kimia sebuah universitas yang berada di luar daerah. Tentu saja aku sangat gembira karena akhirnya aku mendapat pekerjaan pertamaku setelah sekitar setahun menganggur. Apalagi kampus tempatku diterima bekerja terletak di kota besar yang jauh dari kota kecil tempatku berasal. Artinya ini menjadi pengalaman pertamaku untuk merantau ke kota besar juga merasakan hidup seorang diri jauh dari rumah.

Melalui seorang kenalan di internet, aku berhasil mendapatkan tempat untuk tinggal di kota ini. Sebuah kontrakan petak dengan harga sewa yang murah. Cukup murah bila dibandingkan dengan harga kontrakan atau kos lainnya. Tentu saja awalnya aku merasa curiga dengan harga kontrakan itu, karena umumnya harga berbanding lurus dengan kualitas. Jadi harga yang murah bisa jadi kualitasnya rendah, mungkin fasilitas atau kondisi bangunannya tidak terlalu baik. Tapi saat itu aku merasa masa bodoh. Setidaknya dengan harga sewa yang murah itu aku bisa menghemat pengeluaran dengan gajiku yang mepet UMR ini. (Siapa sangka ini justru malah menjadi awal mula dari bencana yang menimpaku.

Ternyata tidak seperti dugaanku. Area kontrakan ini cukup besar, memiliki total 15 petak kamar yang terbagi menjadi dua blok bangunan. Blok pertama merupakan bangunan satu lantai dengan dari 5 unit kamar berukuran lebih luas yang dilengkapi dengan ruang tamu kecil, dapur juga kamar mandi/toilet. Yang mana tentunya harga sewanya lebih mahal. Sementara blok kedua, merupakan bangunan bertingkat dua yang terdiri dari 10 unit kamar dengan ukuran lebih kecil. Cukup untuk menampung satu atau dua orang. Selain bangunan, halamannya juga cukup luas. Lengkap dengan tempat parkir dan juga dua buah gazebo kayu untuk tempat beristirahat atau berkumpul. Melihat dari layout bangunannya, aku menyimpulkan kalau sepertinya tempat ini dulunya bekas hostel atau hotel kecil yang kemudian dialih fungsikan menjadi seperti sekarang.  

Aku disambut oleh (sial, aku sudah mulai melupakan namanya. Kusebut saja Pak M) Pak M menuju kamar yang akan kutempati. Pak M adalah orang yang diberi amanat sebagai pengurus tempat ini. Oleh Pak M aku diantarkan menuju kamar ini. Kamar yang akan aku tinggali. 

Kamar yang aku tempati ini terletak di lantai 1 blok kedua, dan merupakan kamar ketiga. Seperti sudah kujelaskan sebelumnya, blok kedua ini merupakan bangunan berlantai dua dengan sepuluh unit kamar, yang artinya pada masing-masing lantai terdapat lima unit kamar. Jadi, secara tidak langsung kamar ketiga ini berada tepat di tengah-tengah, bersebelahan dengan tangga menuju lantai dua, dan diapit oleh dua kamar di sebelah kiri dan kanannya. 

Sekilas tidak ada yang aneh dari kamar ini. Meskipun kecil, ruangannya cukup bersih dan catnya juga tampak baru. Selain itu kamar ini juga dilengkapi dengan kamar mandi/toilet juga ruang kecil yang bisa difungsikan sebagai dapur. Furnitur seperti ranjang, meja dan lemari bahkan sudah tersedia. Jadi bisa kukatakan tempat ini cukup nyaman untuk ditinggali karyawan muda bergaji pas-pasan sepertiku. (Atau setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu. Sebelum segala kenyamanan ini berubah menjadi ancaman bagi kehidupan dan eksistensiku.)

Begitulah awal mulanya aku pindah ke tempat ini dan kemudian berakhir menjadi “penghuni tetap” kamar ini. Tentunya awalnya semuanya biasa saja. Satu keganjilan yang kuingat hanyalah ucapan dari tetangga kamarku. Salah satu tetangga kamarku itu (ah sial, aku juga mulai melupakan namanya!) menyapaku di hari pertama aku tinggal disini. Ia merupakan salah satu penghuni lama tempat ini.

“Wah penghuni baru ya, salam kenal. Semoga betah ya tinggal di kamar ini,” seperti itulah kira-kira kata-katanya. Tentu saja aku sedikit merasa bingung dengan kata “betah” yang diucapkannya. Entah kenapa kata yang diucapkannya itu menimbulkan kesan seolah-olah ada sesuatu yang membuat orang-orang menjadi tidak betah di kamar itu. Jadi aku menanyakan maksud dari perkataannya. Ternyata benar saja, menurut pernyataannya penghuni kamar ke-tiga ini selalu saja merupakan orang-orang yang “datang dan pergi”. Belum ada satupun dari penghuni kamar ini yang berhasil tinggal lama di kamar ini. Mereka hanya tinggal tak lebih dari enam bulan dan kemudian pergi dengan tiba-tiba. 

Saat kutanya mungkinkah itu karena kamar ini berhantu. Ia hanya tertawa sambil mengangkat bahunya, katanya ia sudah tinggal hampir 5 tahun di tempat ini dan selama itu belum pernah mengalami gangguan mistis. Ia sendiri juga bingung kenapa hanya penghuni kamar ketiga itu saja yang selalu merasa tidak betah. 

Aku sebenarnya orang yang tidak begitu percaya ataupun takut dengan hal-hal yang berbau takhayul, mistis atau supranatural. Jadi kalaupun hal-hal seperti itu memang ada di kamar ini, tentunya itu tidak akan terlalu merisaukanku. (Ternyata aku salah. Teror itu nyata dan sekarang ia menghantuiku.)

Minggu-minggu pertama bahkan hingga kurang lebih sebulan aku tinggal di tempat ini segalanya berjalan normal-normal saja. Aku menikmati pekerjaan baruku. Selain karena aku benar-benar mencintai pekerjaan laboratorium, di sini aku mendapatkan rekan kerja juga atasan yang baik dan ramah. Satu-satunya hal yang mungkin menggangguku hanyalah politik yang ada dalam kampus. Sisanya cukup menyenangkan. (Atau begitulah setidaknya sampai memasuki bulan kedua.)

Pada bulan kedua setelah kedatanganku ke tempat ini barulah akhirnya aku merasakan sedikit keanehan. Entah kenapa semakin lama aku merasa semakin terikat dengan kamar ini. Perlahan-lahan aku mulai mengurangi bepergian atau berkegiatan di luar selain untuk bekerja. Sebenarnya aku sama sekali bukan orang yang introvert ataupun anti sosial. Bahkan sebelum pindah ke tempat ini aku aku selalu membayangkan untuk dapat menikmati hingar-bingar kehidupan di kota besar. Oleh karena itu di awal kedatanganku ke tempat ini aku selalu ikut berkumpul bersama rekan-rekan kerjaku. Sekedar menonton film, berolahraga, ataupun nongkrong di café-café estetik yang ada di kota ini. Tentunya untuk mengakrabkan diri, juga untuk lebih mengenal berbagai tempat yang ada di kota ini. Yang mana semuanya saat itu sangat kunikmati. 

Namun lama kelamaan hal itu menjadi tidak terasa menyenangkan lagi. Perlahan-lahan aku menjadi sering merasa pusing atau kelelahan saat berkegiatan di luar kamar ini. Itulah sebabnya aku kemudian membatasi kegiatan diluar. Tidak hanya itu saja, hal itu bahkan mulai mengganggu pekerjaanku. Karena itu, atas saran salah satu rekan kerjaku, akhirnya aku mengkonsultasikan kondisi ini kepada dokter. Tentu saja hal itu tidak banyak membantu, karena dokter tidak menemukan ada salah pada kondisi tubuhku, jadi ia hanya memberiku vitamin karena menganggapku kelelahan bekerja. Kondisi itu tidak kunjung membaik jadi aku hanya bisa membiarkan diriku berbaring di kamar ini saat tidak bekerja.

Saat itulah akhirnya aku menyadari bahwa memang ada “sesuatu” yang tidak biasa di kamar ini. Malam itu aku terbangun karena merasa mendengar ada sesuatu yang berisik. Diawali dengan suara berdenging yang mengganggu di telingaku, kemudian diikuti dengan suara-suara lain seperti sesuatu yang berderak dan berdesis dari salah satu sudut kamar. Masih dalam keadaan mengantuk aku berusaha melihat sekeliling kamar, mencoba mencari sesuatu yang menyebabkan suara itu. Kondisi kamar saat itu cukup gelap karena semua lampu aku matikan. Tapi, dengan bantuan cahaya remang-remang yang berasal dari luar, aku berhasil menemukan sumber gangguan itu. 

Di salah satu sudut kamar, tempat suara itu muncul aku melihat sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang tak berbentuk dan gelap menyerupai bayangan tampak bergerak-gerak mengerikan seolah hidup. Seingatku tidak ada satu benda pun di kamar ini yang bisa membuat bayangan di sudut itu. Namun sosok hitam itu benar-benar ada disana. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya sosok itu mengamatiku dari sana. 

Aku ingin memastikan kalau sosok itu benar-benar nyata, tapi mataku terasa terlalu berat untuk membuka sempurna dan badanku seperti enggan beranjak dari ranjang. Mungkin aku hanya mengalami ketindihan. Bukankah seseorang bisa mengalami ketindihan karena kelelahan. Lagi pula salah satu gejala seseorang mengalami ketindihan selain kesulitan menggerakkan badan adalah cenderung melihat ilusi sosok seperti sosok hantu atau bayangan hitam juga mendengar suara-suara aneh yang mengganggu. Kupikir barang kali itulah yang sedang aku alami. Jadi aku tidak terlalu ambil pusing dan segera membalik badanku agar tidak melihat ke arah itu. 

Tapi tentu saja aku salah. Sosok itu sama sekali bukan halusinasi ataupun efek dari ketindihan. Sosok itu nyata, jahat, dan merupakan sumber dari segala kengerian dan nasib buruk yang sekarang aku alami. 

Beberapa hari setelahnya, aku kembali melihat sosok itu. Tapi kali ini bukan saat sedang tidur, melainkan dalam kondisi terjaga penuh, Saat itu aku sedang berbaring di atas ranjang, bersiap untuk tidur. Lampu-lampu sudah kumatikan semua, hanya cahaya remang-remang dari luar yang menerangi kamar. Sayangnya setelah beberapa lama aku berbaring dalam berbagai posisi sambil menutup mata, aku tetap tidak kunjung tidur. Karena bosan, aku mencoba menyalakan dan memainkan gawaiku. Di tengah keasikan bermain gawai, lagi lagi aku mendengar suara itu. Suara berdenging yang tajam di telinga diikuti dengan bunyi berderak dan berdesis. Jadi aku segera menoleh ke arah suara itu. Benar saja, lagi-lagi sesuatu yang hitam pekat dan nampak seperti bayangan itu muncul. Namun kali ini ia sudah mewujud. Bentuknya sekarang menyerupai bayangan manusia yang sedang berdiri. Tegak, diam, namun seolah-oleh bernapas dan mengawasi. 

Karena aku masih sadar, aku segera menyalakan lampu untuk memastikan sosok itu bukan ilusi. Ternyata benar, bahkan dalam kondisi kamar terang benderang sosok itu masih ada dan semakin nyata. Dengan segera kunyalakan kamera gawaiku, berusaha menangkap sosok makhluk itu. Sayangnya usahaku sia-sia, tidak ada apapun yang tertangkap oleh lensa kamera gawaiku. Yang tampak hanyalah foto dinding kosong kamar ini. Padahal jelas-jelas aku sadar dan tengah menatap sosok itu.   

Aku memang pernah mengatakan kalau aku tidak percaya ataupun takut dengan hal-hal mistis, hantu atau sejenisnya. Sepertinya itu hanyalah reaksi karena aku belum pernah melihat atau mengalami secara langsung hal-hal semacam itu. Ketika akhirnya aku melihatnya dengan mata kepala sendiri (meskipun aku tidak yakin apa sebenarnya sosok itu), ternyata aku gentar juga. Jadi aku segera merebahkan diriku kembali di atas ranjang, mengerubungi tubuhku dengan selimut dan berusaha untuk tidur. Berharap sosok itu akan segera menghilang dan tidak muncul lagi.

Tapi keesokan paginya sosok itu tetap disana. Bahkan ketika aku pergi dan kembali dari bekerja pun dia tetap ada disana. Bahkan semakin lama sosok itu menjadi semakin nyata. Karena setelahnya ia tidak hanya berdiri diam di sudut ruangan melainkan mulai menjelajah ke seluruh ruangan ini. 

Sejak saat itu sosok itu benar-benar menghantuiku. Ia terus membuntuti setiap gerak gerikku. Juga mengamati apapun yang aku lakukan. Apa yang aku kerjakan dengan laptopku, apa yang kutulis dalam jurnal harianku, juga apa yang kumainkan dengan gawaiku. Suatu malam aku bahkan pernah mengamatinya sedang mengutak-atik gawaiku. Tapi sayangnya badanku terasa terlalu berat untuk melakukan sesuatu.

Dia juga memperhatikan kegiatanku sehari-hari, pukul berapa aku biasanya bangun, waktu berangkat dan pulang kerjaku, makanan apa saja yang biasa aku makan, bahkan berbagai kebiasaan-kebiasaan kecilku. Hal ini tentunya agak mengganggu keseharianku. Tapi aku tidak ingin pindah. Aku tidak mau repot-repot mencari kontrakan baru lagi. Karena belum tentu aku akan menemukan kontrakan yang sesuai dan pas dengan kondisiku sekarang ini. Lagi pula, aku pikir semua ini hanyalah ilusi atau halusinasi semata dan akan menghilang suatu saat kalau aku bisa menyibukkan dan menenangkan pikiranku. Jadi di tengah kondisiku yang mulai membaik aku berusaha kembali berkegiatan di luar. Setidaknya hal itu akan membatasi kegiatanku di dalam kamar ini.

Tapi semuanya tidak tidak berjalan sesuai harapan. Sosok itu kemudian mulai mengikutiku kemanapun aku pergi. Sayangnya tidak ada seorang pun yang bisa melihat sosok itu kecuali aku. Dia memperhatikan bagaimana aku bekerja, dengan siapa saja aku berinteraksi, bagaimana aku berinteraksi dengan orang lain, apa yang aku lakukan bersama teman-temanku. Intinya segala detail kecil yang kulakukan dalam hidupku tak luput dari perhatiannya. Perlahan-lahan kehidupanku yang tenang mulai direnggut oleh sosok hitam itu.

Lalu munculah keanehan-keanehan selanjutnya. Mulai ada waktu-waktu yang hilang dari ingatanku. Kejadian-kejadian yang sepertinya telah kulakukan tapi aku tak ingat pernah melakukannya. Seperti ketika aku terbangun di tengah malam, tiba-tiba ada bekas makanan di atas meja yang aku tidak ingat pernah membeli atau memakannya. Chat atau e-mail yang tiba-tiba terbalas. Bahkan pekerjaan sampinganku yang sudah lama tertunda tiba-tiba selesai dengan sempurna. Serta berbagai peristiwa semacam itu yang sama sekali tidak ingat pernah aku lakukan. Satu-satunya yang aku ingat sebelum peristiwa-peristiwa itu terjadi hanyalah kepalaku terasa begitu berat dan aku terbaring di atas ranjang. 

Belakangan aku menyadari bahwa kejadian-kejadian itu memang bukan perbuatanku. Melainkan ada seseorang atau sesuatu yang melakukannya menggantikan aku. 

Suatu pagi aku terbangun dengan kepala terasa begitu berat juga badan yang terasa sangat lemas. Karena merasa tidak kuat untuk pergi bekerja, aku memutuskan untuk tetap berbaring saja di atas ranjang. Entah sejak kapan, tapi kemudian aku tertidur kembali. 

Aku terbangun keesokan harinya dengan kondisi yang lebih segar. Jadi hari itu aku pergi bekerja seperti biasa. Semuanya terasa normal-normal saja. Aku mengerjakan semua pekerjaanku dengan baik. Sampai kemudian rekan kerja seniorku datang menghampiriku.

“Wi, gunting dan selotip yang kemarin kamu taruh dimana?” tanyanya.

Tentu saja aku bingung mendengar pertanyaannya. Karena aku merasa tidak pernah menggunakan gunting dan selotip. Lagi pula aku kan tidak masuk kerja kemarin. Jadi aku mengatakan yang sejujurnya kepadanya. Mendengar jawabanku seniorku itu menjadi agak bingung.

“Jangan bercanda deh wi. Kan kamu yang pakai gunting dan selotip buat pasang pengumuman kemarin. Si Awi masuk kan kemarin Jo?” tanyanya kepada rekan kerjaku yang lain, berusaha memastikan.

“Masuk kok. Masa lupa sih, kan kamu yang catat nama mahasiswa yang memecahkan alat kemarin. Tuh, catatannya masih ada di logbook,” katanya kepadaku.

Aku segera membuka logbook itu. ternyata benar saja di dalamnya ada nama mahasiswa yang memecahkan alat, bertanggal hari sebelumnya, lengkap dengan catatan dan paraf. Yang mana tulisan tangan serta paraf dari orang yang menulisnya benar-benar persis seperti punyaku. 

Tapi tentu saja ini mustahil, karena aku benar-benar merasa tidak masuk kerja kemarin.

Kecuali… 

Ada seseorang atau sesuatu yang menyerupai aku datang dan menggantikanku bekerja kemarin. Kemudian seperti sudah kuduga, ketika aku membuka laci meja kerjaku, gunting dan selotip itu benar-benar ada disana.

Kejadian-kejadian itu tidak berhenti sampai disana. Malah semakin parah. Semakin lama aku merasa semakin banyak waktu yang hilang dari ingatanku. Aku sering merasa hanya tertidur semalam padahal sebenarnya sudah lewat tiga hari atau bahkan empat hari. Dan selalu saja ada seseorang atau sesuatu yang menyerupaiku menggantikan peranku selama waktu-waktu kosong itu, sehingga orang-orang di sekitarku sama sekali tidak merasa aneh,

Hingga akhirnya semua teror dan keanehan itu kini mencapai puncaknya. 

Malam itu aku tertidur. Entah berapa lama aku tertidur aku tidak ingat, tapi dalam tidurku itu aku bermimpi. Aku terbangun di kamar ini. Semuanya tampak seperti biasanya. Juga kondisi kamar yang gelap dengan cahaya remang-remang dari luar. Tapi kemudian aku menyadari ada seseorang yang berdiri di luar kamar, memperhatikanku dari balik jendela. Jadi aku bangkit dari ranjangku dan berjalan mendekati jendela. Berusaha melihat siapa orang itu. 

Ketika aku sudah mendekati jendela, betapa terkejutnya aku karena orang yang sedang berdiri dan mengintip dari luar kamar itu ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah…

AKU! 

Tentu saja aku tidak mungkin salah mengenali wajahku. Karena wajah itu merupakan wajah yang selalu aku lihat di cermin. Tidak! Itu bukan pantulanku. Melainkan benar-benar aku. Atau mungkin sosok yang menyerupai aku. 

Aku berusaha keluar, tapi pintu itu tidak mau terbuka, begitu pula dengan jendelanya, Aku berusaha mendobrak pintu itu namun pintu itu tidak bergeming. Kemudian aku mencoba memecahkan kaca jendela, namun itu juga sia-sia. Senyum licik tersungging di bibirnya ketika melihat usahaku. Lalu ia mulai tertawa dan pergi menjauh dari tempat itu. Suara tawanya benar-benar mengerikan. Tawa yang begitu lepas dan jahat. Seolah-olah telah terbebas dari sesuatu. 

Aku terbangun. Kali ini bukan mimpi. Aku sadar. Aku benar-benar terbangun di kamar ini. Keringat dingin membasahi tubuhku. Suara tawa sosok itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Tapi aku merasa lega karena semua itu hanya mimpi. 

Tapi, tunggu…

Ada sesuatu yang aneh dengan kamar ini…

Terlalu kosong! 

Tidak ada apapun di kamar ini. Kamar ini terlalu kosong! Semua barangku sudah tidak ada! 

Pikiranku kosong. Aku merasa seolah kakiku tidak menginjak tanah. Keringat dingin kembali membasahi punggungku. Aku merasa sakit. Seperti ada sesuatu yang menjijikkan bergerak menggeliat menggerayangi perutku. Suatu firasat buruk. 

Sosok hitam itu menghilang, begitu pula dengan semua barang-barangku!

Panik. Aku segera membuka pintu. Berusaha keluar dari kamar ini. 

Seolah-olah mimpi buruk itu terulang kembali, pintu itu tidak mau terbuka. Begitu pula jendelanya. Meskipun semua kunci dan gerendelnya sudah tidak terpasang namun pintu dan jendela itu tetap tidak terbuka. Kaca jendela yang seharusnya ringkih itu pun tidak mau pecah meskipun aku memukulnya sekuat tenaga dengan kursi yang ada disana. Seolah-olah kaca itu sudah diganti menggunakan kaca anti peluru yang begitu tebal dan kuat. 

Aku mencoba menggedor-gedor pintu, jendela, juga semua dinding, berusaha membuat keributan sebisa mungkin. Meskipun di luar tampak penghuni lain yang berlalu lalang, Tapi sayangnya tidak ada satu orang pun yang mendengar keributan yang aku buat. Bahkan penghuni kamar di sebelahku juga sepertinya tidak mendengar atau mungkin mengabaikan dinding kamarnya yang kugedor keras-keras.

Di depan kamar kulihat pak M berbincang-bincang dengan salah satu tetanggaku. Aku berusaha memanggil mereka tapi mereka tidak mendengar. 

“Penghuni kamar ini pindah lagi ya pak?” kata tetanggaku itu menunjuk ke arah kamar ini. 

“Iya, kemarin malam. Katanya harus balik ke kampungnya. Entah urusan apa tapi sepertinya penting,” jawab pak M.

“Tidak sampai enam bulan ya kali ini,”

Pak M hanya mengangguk.

Jadi… Yang aku lihat sebelumnya itu ternyata bukan mimpi! Sosok hitam itu benar-benar telah mengambil alih kehidupanku! Tapi, kalau begitu berarti…

Aku segera berlari menuju cermin. 

Ternyata apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Aku tidak melihat sosok diriku di cermin. Sebaliknya yang tampak hanya sosok menyerupai manusia dengan tubuh yang hitam legam bagaikan bayangan. 

Semakin lama terjebak di kamar ini ingatanku perlahan semakin memudar. Sepertinya semakin jauh sosok itu pergi, semakin menghilang pula ingatan serta kesadaranku. Untungnya aku menemukan sebuah pensil yang terselip di sela-sela lemari, juga sebuah kalender tua dengan banyak lembar kosong di baliknya tertinggal di kamar itu. Jadi dengan sisa-sisa memori dan kesadaranku ini aku berusaha menuliskan kisahku. Sebelum semua ingatan dan kesadaranku menghilang. Melebur bersama kamar ini. Menunggu hingga ada orang lain yang datang dan kemudian menggantikanku menjadi penghuni kamar ini.


Comments

Popular posts from this blog

[CERPEN] Menggambar Mimpi

[CERPEN] Sebelum Lilin Padam

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia