[CERPEN] Iblis Datang dan Mengganggu Waktu Tidurku


Malam ini si iblis datang kembali. Seperti biasa, saat malam telah begitu larut. Ketika suasana benar-benar hening dan sepi. Waktu di mana orang-orang tengah tidur dengan lelap dan menjelajah dunia mimpi. Ia muncul dengan tiba-tiba. Entah dari mana datangnya. Entah apa tujuannya. 

Mungkin ia hanya bosan. Mungkin ia kesepian. Atau mungkin hanya sekedar iseng, ingin merecoki waktu istirahatku yang berharga. Meskipun begitu, sepertinya tanpa sadar aku mungkin menantikannya. Menanti hal apa yang akan dilakukannya kali ini. 

Kalau diingat kembali, ini adalah kali ketiga ia mendatangiku. Rasanya sudah begitu banyak waktu berlalu sejak saat itu. 

Berhari-hari… 

Berminggu-minggu… 

Ah, mungkin sudah berbulan-bulan yang lalu. 

Saat itu aku sedang berbaring di tempat tidurku. Waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Aku memejamkan mataku berusaha untuk tidur. Namun sayangnya aku tetap tidak bisa tidur. Meskipun mataku tertutup rapat, telingaku menolak untuk istirahat. Aku bisa mendengar dengan jelas berbagai bunyi-bunyian. Bunyi napasku. Detak jantungku. Irama jarum jam yang bergerak dengan konstan, Juga berbagai jenis binatang malam. Jangkrik yang berderik merdu. Cicak yang berdecak sesekali. Anjing yang melolong kesepian. Burung hantu yang ber-‘uhu-uhu’ di salah satu pohon di luar. Hingga gemerisik daun-daun pohon yang diterpa angin malam. Entah kenapa malam itu terasa begitu ramai.  

Lalu kemudian semuanya tiba-tiba menjadi hening. Sangat hening. Segala bunyi-bunyian tadi seketika menghilang. Lenyap. Tak terdengar sama sekali. Keheningan yang aneh. Begitu ganjil. Begitu dingin. Begitu mencekam. Seakan-akan saat itu waktu seketika terhenti.

Di tengah keheningan yang begitu mencekam itu, aku merasakan kehadiran seseorang (atau sesuatu) di kamarku. Aku memberanikan diri untuk membuka mata. Ternyata benar saja, ada sesuatu disana. Dengan bantuan cahaya bulan yang menerobos jendela kamarku, aku dapat melihat sosok itu. Ia sedang duduk dengan tenang di sudut tempat tidurku. 

 Aku tertegun menatap sosok itu. Meskipun siluetnya tampak seperti manusia, tapi jelas ia bukan manusia. Bukan pula hantu, ataupun arwah penasaran. Karena hanya dengan duduk diam saja di sana ia telah memancarkan suatu aura luar biasa yang tentunya bukan berasal dari dunia ini. 

Wajahnya! Wajah itu benar-benar sulit untuk kudeskripsikan. Wajah yang bukan manusia. Jelas sekali bukan berasal dari dunia ini. Wajah yang benar-benar rupawan. Begitu tampan, namun juga begitu cantik di saat bersamaan. Kulitnya yang seputih pualam tampak begitu pucat diterpa sinar rembulan. Sangat kontras dengan rambutnya yang hitam pekat. Bagaikan tinta hitam yang digoreskan pada kanvas putih. Rambut yang hitam panjang itu tergerai sempurna di belakang kepalanya.  

Tidak ada tanduk ataupun taring panjang yang muncul di antara bibirnya yang tipis. Lalu bagaimana aku bisa menyebutnya sebagai iblis? Bukankah dengan deskripsi seperti itu ia seharusnya tidak cocok disebut iblis, setan atau makhluk mengerikan semacam itu? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Mungkin itu hanya berdasarkan perasaanku saja. Memang tidak adil, tapi mungkin itu muncul akibat perasaan kesal karena ia muncul secara tiba-tiba dan menggangu waktu tidurku. 

Atau…

Mungkin itu karena matanya. Entah kenapa mata itu membuatku bergidik ngeri. Iris matanya merah pekat, semerah darah. Mata itu berkilat-kilat dengan aneh diterpa cahaya bulan. Aku tidak mau memandang mata itu terlalu lama. Mata itu memberi ilusi seolah-olah ia akan menarikmu. Menyedot jiwamu. Membawanya ke suatu alam lain yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

Namun ada sesuatu dari sorot mata itu yang menarik perhatianku. Sorot mata itu tampak begitu sedih. Sedih atau mungkin juga kesepian. 

Di tangannya aku melihatnya memegang sesuatu. Sebuah benda yang kurus dan panjang. Tongkat? Untuk apa dia membawa tongkat? Bukan. Itu bukan tongkat. Itu sebuah alat musik. Tentu saja, yang dibawanya itu adalah seruling!

Untuk beberapa saat ia hanya duduk diam di sana. Menatap bayangan bulan yang terpantul di jendela. Lalu tiba-tiba ia mulai meniup serulingnya. Menghembuskan nada-nada yang sulit untuk kudefinisikan. 

Suara seruling itu mengalun merdu memecah keheningan malam. Melodi yang dilantunkannya terasa begitu menyayat hati. Seperti menggambarkan suatu perasaan sedih, kesepian juga penyesalan yang mendalam. 

Kemudian nada-nadanya menjadi semakin tinggi dan temponya berubah menjadi lebih cepat. Elegi itu kini berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang dipenuhi kemarahan, kebencian, dan dendam. Ia meniupnya dengan begitu kuat. Begitu bertenaga. Sehingga siapapun yang mendengarnya pasti juga dapat merasakan luapan emosinya. 

Melalui tiupan itu ia sepertinya menumpahkan segala emosinya. Kemarahannya, kebenciannya, juga rasa dendamnya. Semuanya ditiupnya habis hingga tak bersisa. Karena kemudian nada-nadanya mulai melunak. Berubah kembali menjadi suatu melodi yang ringan, lebih bebas, indah, dan jauh lebih berwarna. Suatu melodi yang menenangkan pikiran dan jiwa siapapun yang mendengarnya. 

Akhirnya dengan satu tiupan panjang, sang iblis mengakhiri pertunjukannya. 

Aku tertegun, tidak mampu berkata-kata. Rasanya seperti semua rambut yang ada di badanku berdiri serentak. Semua nada-nada itu begitu indah, begitu mengagumkan, begitu luar biasa. Sesuatu yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini. 

Ketika aku tersadar kembali, iblis itu sudah tidak ada disana. Entah kemana perginya. Yang jelas, semuanya sepertinya mulai normal kembali. Bunyi-bunyian malam mulai terdengar lagi. Tapi melodi yang dilantunkan iblis itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. 

Seperti kesetanan, aku melompat dari ranjangku. Membongkar semua barang-barangku. Hingga akhirnya aku menemukan apa yang kucari. Sebuah seruling tua yang sudah lama tidak pernah kumainkan. Entah suatu kebetulan atau bukan iblis itu memainkan sebuah seruling. Satu-satunya alat musik yang bisa kumainkan (meskipun yang kumaksud hanya sebuah melodi sederhana yang pernah kumainkan saat masih sekolah dulu). 

Dengan perasaan yang meluap-luap, aku mencoba mereproduksi melodi yang dimainkan iblis itu. Namun sayangnya yang keluar hanyalah sebuah lolongan menyedihkan. Lebih mirip lolongan anjing yang diinjak ekornya. Aku menolak menyerah dan terus mencoba meniupnya. Sampai akhirnya adik perempuanku menggedor-gedor pintu kamarku dengan gusar. Orang gila mana yang meniup seruling pada jam 3 pagi. 

Di lain kesempatan aku terus mencobanya. Mencoba, mencoba, dan mencobanya lagi. Tapi sayangnya tidak ada satupun nada yang berhasil mendekati nada-nada yang dilantunkan oleh seruling sang iblis. Aku menyerah. Pada akhirnya aku sadar kalau aku bukanlah Tartini. Bahkan seorang maestro yang hebat seperti beliau saja kesulitan untuk mereproduksi apa yang didengarnya dalam mimpinya. Apalagi aku yang hanya orang biasa ini. Dalam mimpi pun sepertinya aku tidak akan bisa mereproduksi musik yang luar biasa seperti itu.

Lalu kemudian si iblis datang lagi. Kali ini dia tidak membawa alat musik apapun. Sepertinya ia tahu kalau aku tidak berbakat dengan alat musik. Jadi pada kesempatan itu ia hanya bernyanyi. Melantunkan lagu hanya dengan suaranya.

Dan, Ya Tuhan! Suaranya! Suaranya begitu indah. Begitu merdu. Benar-benar bukan suara manusia. Menurutku tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang memiliki warna suara seperti itu. Suaranya benar-benar menggetarkan seluruh jiwa dan ragaku. 

Seperti sebelumnya, lagu yang dinyanyikannya juga menghasilkan suasana yang sama. Diawali dengan kesedihan, lalu kemarahan dan diakhiri dengan ketenangan. Mendengarnya membuatku merasa seperti dibawa ke alam mimpi. Dan seperti biasa setelah menyelesaikan nyanyiannya iblis itu kemudian menghilang.

Aku benar-benar ingin menyanyikan lagu yang indah itu, tapi aku sadar akan kemampuanku. Setiap kali aku bernyanyi, orang-orang yang mendengarkan nyanyianku selalu mengernyitkan dahinya. Seolah berusaha menebak-nebak lagu apa yang sebenarnya sedang kunyanyikan. Meskipun saat itu aku sedang menyanyikan lagu yang populer. Jadi untuk kali ini sepertinya aku tidak perlu bersusah payah berusaha melakukannya. 

Sekarang si iblis datang lagi. Sepertinya ia sudah menyerah dengan sesuatu yang berhubungan dengan musik. Karena kali ini dia datang hanya untuk bercerita. Dengan suaranya yang merdu itu ia bercerita kepadaku. 

Ia menceritakan tentang berbagai macam hal. Tentang sesuatu yang disebutnya “kebenaran”. Tentang dunia ini. Tentang alam semesta. Tentang awal mula. Hingga akhir dari segalanya. 

Semua yang diceritakannya benar-benar membuatku kagum, tercerahkan, juga ketakutan pada saat yang sama. Cerita-cerita luar biasa yang belum pernah kudengar sebelumnya. Atau mungkin sepertinya pernah kudengar tapi dalam perspektif yang benar-benar berbeda. 

Di akhir ceritanya ia menatapku tajam dengan matanya yang semerah darah. Pandangan matanya seolah-olah menyiratkan sebuah kalimat,    

“Kalau hanya kata-kata kamu bisa menulisnya kan?”

Tentu saja aku bisa menuliskannya. Aku bahkan dapat mengatakan dengan seyakin-yakinnya kalau aku bisa menuliskan semua yang diceritakannya dengan sempurna. Aku hafal setiap kata dari apa yang diceritakannya kepadaku. 

Kalau aku menuliskannya dan membagikannya kepada orang-orang, sudah barang tentu tulisan itu akan sangat menggemparkan dan pastinya akan memberikan ketenaran yang luar biasa kepadaku. Tapi, sayangnya aku orang yang serakah. Aku tidak ingin membagikan cerita ini kepada orang-orang. Cerita yang luar biasa seperti ini hanya boleh aku konsumsi sendiri. Jadi aku tidak akan menulisnya. Aku hanya akan menyimpannya dalam memoriku sendiri. Membiarkannya mengendap dalam otakku sampai maut menjemputku nanti.

(sampai di sini silahkan memilih akhir cerita sesuai dengan preferensimu sendiri ya)

Semoga saja iblis itu mengerti. Semoga saja ia tidak kapok dan berkenan mengunjungiku lagi. Karena aku akan sangat menantikannya. Menantikan saat di mana si iblis akan datang dan mengganggu waktu tidurku lagi. (end 1)

Semoga saja setelah ini ia sudah kapok dan tidak akan datang lagi. Aku tidak ingin si iblis datang dan mengganggu waktu tidurku lagi. (end 2)



Comments

Popular posts from this blog

[CERPEN] Menggambar Mimpi

[CERPEN] Sebelum Lilin Padam

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia