[CERPEN] Berlatih Hidup Tanpa Kepala
Kira-kira dimana aku harus menaruh kepala ini? Haruskah aku meletakkannya di atas meja ini. Bukankah tempatnya cukup strategis, tepat di tengah ruangan, sangat mencolok dan mudah dijangkau dari mana saja. Jadi seharusnya ini tempat yang cocok. Tapi tunggu dulu… kepala ini kan bukan untuk dijadikan pajangan. Lagi pula kalau dari tengah meja ini bagaimana caraku mengawasi seluruh ruangan? Kan tidak ada sepasang mata lagi di belakang kepalaku. Apalagi kepalaku tentunya tidak bisa memutar dirinya sendiri. Belum lagi kalau si Hitam datang, bisa-bisa kepalaku malah dijadikannya mainan. Dia kan sering naik ke atas meja ini.
Ah, kalau begitu digantung saja di gantungan lampu di atas! Tidak, tidak, itu ide yang bodoh. Memang gerakan akan jadi lebih bebas dan sudut pandang akan jadi lebih luas. Tapi dengan keadaan digantung seperti itu pasti akan sangat tidak nyaman dan kepalaku akan cepat pusing karena mudah berputar-putar atau bergoyang-goyang tanpa terkendali.
Bagaimana dengan bufet itu? Bufet itu ada di salah satu sisi ruangan dan menempel dengan dinding. Jadi aku tidak perlu khawatir dengan apa yang ada di belakang kepalaku. Aku bisa meletakkannya di sebelah TV. Sebentar…. Kalau begitu kan aku jadi tidak bisa menonton TV, dan lagi-lagi si Hitam juga bisa lompat ke sana.
Berarti aku harus mencari tempat lain. Tempat yang cukup tinggi dan berada di salah satu sisi ruangan pastinya adalah tempat yang tepat. Oh iya, tempatnya juga harus bebas dari debu. Aku tidak mau mataku tiba-tiba keliliipan atau hidungku gatal dan bersin-bersin tidak jelas sementara badanku bergerak dengan bebas tanpa bisa kukendalikan.
Sekarang yang tersisa hanya tinggal rak buku ini…
Tapi, kalau dipikir-pikir, bukannya rak buku ini memang tempat yang paling pas. Aku bisa meletakkannya di rak paling atas, di antara buku-buku koleksiku. Hanya tinggal memindahkan beberapa buku ini ke atas meja. Aku kan tidak perlu membaca buku-buku ini lagi. Begitu isi kepalaku sudah dirapikan, aku akan bebas membaca buku-buku ini dalam kepalaku. Dan juga si Hitam tidak akan mau repot-repot naik ke atas rak buku ini untuk menjangkau kepalaku. Dia benci buku. Rak buku ini juga tentunya bebas dari debu karena sudah ku bersihkan setiap hari. Benar-benar tempat yang pas. Bodohnya aku. Kenapa baru terpikirkan ya?
Nah, sekarang kepalaku sudah berada di tempatnya. Bersih, aman, dan nyaman.
Waah! Rasanya aneh sekali melihat badan tidak pada tempatnya. Tapi. bagaimanapun aku harus membiasakannya. Kalau ini berhasil maka hidupku akan lebih sehat, menyenangkan dan yang pasti jauh lebih efisien. Jadi ketika badanku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang membosankan itu, di sini aku bisa merapikan isi kepalaku. Mengistirahatkan otakku dari hal-hal rumit dan membosankan di luar sana. Dari kebisingan-kebisingan tidak penting yang mau tidak mau harus kuterima setiap hari. Kemudian aku bisa bebas menjelajah dunia yang selama ini tidak pernah bisa kujamah. Benar-benar ide yang cemerlang. Memikirkannya saja sudah membuatku tidak sabar.
Jadi tanpa berbasa-basi lagi, saatnya memulai eksperimen.
Tentunya agar semua rencana ini berjalan dengan lancar tanpa halangan, maka badanku harus terbiasa dulu. Aku harus membiasakannya bergerak tanpa kepala. Tapi, bagaimana aku harus melakukannya? Mungkin sebaiknya dimulai dengan gerakan-gerakan yang mudah. Seperti menggerakkan satu persatu anggota badan. Ya, ya, seperti dalam olahraga. Semuanya harus dimulai dengan pemanasan dulu.
Pertama-tama aku akan mencoba menggerakkan jari-jari tanganku. Hmm… mudah saja. Pergelangan tangan. Aman. Siku, bahu. Juga aman. Lengan. Ke atas, ke bawah, berputar. Tidak ada masalah. Hoho, ternyata ini lebih mudah dari dugaanku. Bagaimana dengan Gerakan yang lebih sulit. Meninju! Menangkis! Bertepuk tangan. Menggaruk. Mengupil… Bagaimana sih!? Kan kepalaku sudah tidak ada disana. Ah sudahlah. Yang penting tanganku sudah aman terkendali.
Sekarang bagaimana dengan kaki. Jari-jari. Aman. Pergelangan kaki. Aman. Lutut. Juga aman. Berjongkok. Berdiri. Lompat-lompat kecil. Tidak ada masalah. Menendang!
AKH!! Aku lupa badanku masih menghadap rak buku ini. Ternyata sakit juga. Untung saja kepalaku tidak sampai terjatuh,
Baiklah, karena gerakan dasar sudah dapat aku lakukan dengan mudah, bagaimana kalau sekarang aku mencoba berjalan-jalan mengitari ruangan ini. Putar badan ke kiri. Eh salah. Oh iya, aku lupa badan dan kepalaku tidak menghadap ke arah yang sama. Yah sudahlah, yang penting ia menghadap ke salah satu arah yang benar. Kemudian perlahan-lahan mulai dengan satu langkah kecil, Oke. Langkah kedua. Ketiga. Keempat. Wah jalanku tampak sempoyongan. Ternyata canggung juga menggerakkan badan dari tempat yang berbeda.
Nah sekarang belok kanan.
Ugh! Kelingking kakiku!
Ternyata sama saja, mau dengan kepala atau tidak hobinya memang tetap mencium sudut kaki meja.
Oke, oke. Sekarang perlahan-lahan ayo lanjutkan lagi. Santai saja, hanya tinggal berjalan lurus. Lurus. Lurus terus. Yak begitu. Bagus sekali. Sekarang belok kanan lagi. Tidak. Tunggu! Hei! Kanan yang satunya!
Hmphh!
Malah menabrak tembok…
Ternyata ini lebih sulit dari dugaanku.
Yah biarlah. Walaupun menggerakkannya sulit dan agak canggung, setidaknya aku bisa melakukannya sedikit-sedikit.
Lalu sekarang gerakan apa lagi yang harus kucoba?
Mungkin sebaiknya aku mencoba mengambil sesuatu. Coba kuambil buku yang ada di atas meja itu. Lho!? Eh!? Kok begini? Lho kok malah kesana? Padahal buku itu ada di depan, tapi waduh susah sekali menggapainya. Tanganku malah bergerak kesana kemari. Waduh, koordinasi mata dengan gerakkan tanganku kacau. Ternyata susah juga kalau mata tidak pada tempatnya.
Kalau begini sepertinya akan lama untuk membiasakan diri. Kepalaku juga mulai pusing karena mataku bergerak kesana-kemari. Lebih baik aku istirahat dulu sebentar. Mengistirahatkan mata sejenak sepertinya bukan ide yang buruk.
Tunggu…
Bagaimana kalau aku tidak mengontrolnya? Mungkin saja gerakan yang kacau itu karena aku terlalu memaksakan untuk mengontrol badan dengan menggunakan kepalaku. Bagaimana kalau kubiarkan saja dia bergerak sendiri? Lagi pula aku sudah hafal mati letak dari semua benda yang ada di kamar ini. Bahkan dengan mata tertutup pun biasanya aku masih bisa bergerak dengan lancar di ruangan ini. Ya, lebih baik begitu. Akan kubiarkan badan itu bergerak bebas hanya mengandalkan ingatan dari otot-ototnya. Bukankah memang begitu ide awalnya.
Sekarang aku tinggal menutup mataku, dan biarkan ingatan dari badanku menggerakkan dirinya sendiri.
…
“Ya ampun! Sekarang ide gila apa lagi yang kamu kerjakan?”
… Eh!? Astaga, aku ketiduran. Sepertinya aku mengenal suara itu. Benar. Siapa lagi kalau bukan kakak perempuanku yang cerewet. Nah benar kan dia sedang berdiri di depan pintu. Wah, ekspresinya mengerikan.
“Apa yang sedang kamu lakukan? Meniru kecoa!? Jangan bilang kamu dapat ide gila ini karena ceritaku tentang kecoa yang bisa bertahan hidup tanpa kepala. Itu gila! Memangnya kamu kecoa hah! Lalu sekarang di mana badanmu?”
Dia masuk dengan tiba-tiba dan langsung mengomel tanpa jeda. Entah apa yang dia kicaukan. Aku bahkan belum mengumpulkan kesadaranku.
Tapi… benar juga dia. Di mana badanku?
“Entahlah,” jawabku gugup. “tadi dia ada disini.”
“Apa? Jadi kamu membiarkan badanmu berkeliaran bebas tanpa kepala? Astaga. Bagaimana kalau terjadi apa-apa?”
“Mau bagaimana lagi. Aku juga tidak menyangka dia bisa keluar dari ruangan ini. Lagi pula sepertinya dia masih baik-baik saja. Aku tidak merasakan sakit atau sejenisnya.”
“Memangnya kamu tidak bisa menyuruhnya kembali ke sini?”
“Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu sekarang dia ada di mana.”
“Dasar. Ya sudah kalau begitu, itu semua urusanmu. Kalau ada apa-apa aku tidak mau ikut campur ya,” katanya angkat tangan.
Aku melongo melihatnya berjalan ke luar ruangan. Jahatnya dia. Padahal kan dia bisa membantu mencarikan badanku.
Si Hitam buru-buru menyelinap masuk sebelum pintu itu ditutup. Dengan matanya yang kuning berkilat ia menatapku yang sedang kesal. Sepertinya ia sedang mempertimbangkan apakah akan melompat meraih kepalaku atau tidak. Tapi akhirnya ia mengurungkan niatnya, ia melompat ke atas sofa dan menggulung dirinya. Sudah kuduga dia memang benci buku.
Lalu bagaimana dengan badanku? Bagaimana caraku membawanya kembali?
…
Yah sudahlah, nanti kalau lapar juga dia akan kembali.
Itupun kalau dia bisa pulang dengan selamat…

Comments
Post a Comment