[CERPEN] Pergi Memancing


“Mak, kepala udangnya nanti jangan dibuang ya. Mau buat umpan mancing,” pesan Yama ketika melihat ibunya tengah membersihkan udang yang akan dimasak untuk lauk makan siang. Sore ini Yama akan pergi memancing lagi. Sejak sepulang sekolah tadi ia sudah sibuk menggali-gali tanah, mencari cacing untuk dijadikannya umpan. Sayangnya hanya sedikit yang berhasil didapat. Untungnya ibunya membeli udang untuk lauk makan siang. Jadi Yama bisa menggunakan kepalanya untuk dijadikan umpan. Siapa tahu dengan umpan kepala udang tangkapannya bisa lebih baik daripada kemarin. Ia ingin membuktikan kepada teman-temannya kalau ia juga bisa menangkap ikan yang besar.

Kemarin ia pergi memancing bersama teman-temannya. Sialnya di antara semua teman-temannya hanya dia seorang yang tidak berhasil mengangkat ikan besar. Hanya beberapa ikan kecil yang mau memakan umpannya. Yama menyalahkan pancing tua kepunyaan bapaknya itu. Tapi apalah daya hanya itu alat pancing yang ia punya. Ia belum punya uang untuk membeli alat pancing baru yang bagus seperti teman-temannya. Minta kepada bapak pun sepertinya bapak juga enggan membelikannya. 

Jadi sore itu dengan bermodalkan umpan kepala udang dan pancing tua legendaris bapaknya Yama kembali menuju sungai itu. Menantang nasib. Mencoba menaklukkan ikan-ikan yang ada disungai. Demi mematahkan gelar pemancing terburuk yang disematkan oleh teman-temannya.

Seperti biasa sudah ada banyak orang yang duduk bercokol di pinggir sungai itu. Ada yang memang memancing, ada juga yang hanya ingin menonton dan mengomentari orang memancing. Beberapa teman Yama juga tampak disitu. Yama tidak ingin memancing di dekat teman-temannya. Ia takut kalau hari ini ia gagal mendapatkan ikan, ia akan menjadi bahan olok-olokan lagi. Jadi Yama memutuskan untuk mencari spot memancing yang lebih sepi. 

Setelah berjalan beberapa menit, Yama akhirnya menemukan tempat yang sesuai dengan keinginannya. Tempat itu cukup sepi. Hanya ada beberapa pemancing yang terlihat tidak jauh dari sana. Bayangan pepohonan yang rimbun juga melindunginya dari teriknya sinar matahari sore itu.

Tanpa membuang waktu ia segera memasang umpan pada kailnya dan melemparkannya ke tengah sungai. Cukup lama ia menunggu tapi umpannya tidak dimakan juga. Yama menjadi kesal. Ia menariknya kembali dan mengganti umpannya. 

“Kalau cemberut begitu mana ada ikan yang berani mendekat,” kata sebuah suara di belakangnya. Yama terkejut. Ia menoleh ke belakang. Ternyata itu adalah suara dari seorang laki-laki berusia sekitar pertengahan tiga puluhan. Orang itu berjalan sambil membawa alat pancing. Ia mengangguk ramah ke arah Yama kemudian dengan santai berjalan melewatinya. Ia memilih tempat yang tidak jauh dari sana lalu tanpa membuang waktu segera melemparkan kailnya ke sungai. Setelah kailnya mencapai tempat yang dituju, orang itu duduk dan menunggu.

Tapi, Yama menyadari ada sesuatu yang aneh dari pemandangan itu. Orang itu tentunya menunggu dengan sia-sia. Mata pancing orang itu pasti tidak akan disambar ikan. Kenapa? Karena, sama sekali tidak ada umpan disana! Orang itu sama sekali tidak memasang umpan di pancingnya. Ia hanya melempar mata kail kosong. Astaga! Mungkinkah orang itu lupa memasang umpannya? Pikir Yama. 

Tapi ternyata dugaannya salah. Karena setelah beberapa menit berlalu, orang itu menarik mata pancingnya kemudian melemparkannya lagi ke tempat yang sama. Seolah-olah hanya iseng, kali ini orang itu lagi-lagi tidak memasang umpan apapun. 

Karena terlalu penasaran ditambah dengan rasa bosan yang memuncak karena umpannya belum kunjung disambar ikan. Yama akhirnya meninggalkan pancingnya di pinggir sungai, dan berjalan mendekati orang itu. 

“Paman, apa yang paman lakukan?”

“Eh? Oh! Sudah jelas memancing kan,” jawab orang itu santai.

“Tapi paman tidak memakai umpan. Memangnya bisa dapat ikan?”

“Bisa dong!” 

“Ah paman pasti bercanda. Aku saja yang sudah menggunakan berbagai jenis umpan cuma bisa dapat sedikit. Itupun kecil-kecil,” balas Yama tidak percaya.

“Oh itu. Mungkin karena kita mencari jenis ikan yang berbeda,” lagi-lagi orang itu membalas dengan santai. Yama masih menolak untuk percaya.

“Memangnya ikan apa yang paman cari?”

“Pokoknya yang bagus dan cantik. Yah, kalau bisa sih kali ini dapat yang besar juga. Besar dan cantik.”

“Kalau begitu, paman ini sekarang memancing menggunakan teknik apa?” Yama penasaran. Mungkin saja orang ini menggunakan teknik memancing tanpa umpan yang belum diketahuinya. Barangkali kemudian ia bisa mempelajarinya juga.

“Teknik?” balas orang itu bingung. “Waduh, apa ya? Saya juga kurang paham dengan yang seperti itu. Saya ini kan cuma pemancing amatir. Jadi ya, cuma sekedar memancing biasa saja.”  

Mendengar jawaban itu Yama hanya bisa melongo. Ia tidak tau mesti berkata apa lagi. Di kepalanya ia menganggap orang itu agak aneh. Jadi ia pergi menjauh, kembali ke tempatnya meninggalkan pancingan.  

Semakin lama matahari semakin condong ke barat. Selama itu tak satupun ikan yang kunjung menyambar umpan Yama. Ini bahkan lebih buruk dari pada kemarin. Mungkin tempat ini memang kurang cocok untuk memancing. Yama menoleh ke arah orang yang aneh tadi. Orang itu juga masih tampak belum mendapatkan ikan. Tapi meskipun begitu suatu senyum aneh tersungging di wajahnya. Orang itu tampak sangat puas

Tak beberapa lama, orang itu kemudian merapikan peralatannya dan bersiap untuk pulang. Sepertinya paman yang aneh itu akhirnya menyerah, pikir Yama. Tapi ia sendiri belum boleh menyerah. Ia masih ingin membuktikan kepada teman-temannya kalau ia juga bisa mendapat ikan besar.  

“Bagaimana, sudah berhasil mendapat ikan?” tanya orang itu ketika ia melewati Yama.

“Paman sendiri? Memangnya sudah dapat ikan?” balas Yama kesal. 

“Sudah dong! Besar dan cantik,” katanya mengacungkan jempolnya, sembari melenggang pergi. 

Sambil bersungut-sungut, Yama kembali memasang umpan pada kail pancingnya. Tidak habis pikir dirinya kalau hari ini nasibnya bisa begini kurang beruntung. Sudah tidak mendapatkan ikan, kemudian malah bertemu dengan orang aneh, Tentunya paman itu hanya pembual besar. Karena jelas-jelas Yama melihatnya pulang dengan tangan hampa.

Dengan kesal Yama melempar umpannya. Tapi, tak beberapa lama ia kemudian menariknya kembali. Dilepasnya umpan yang terpasang di kailnya kemudian dibuangnya jauh-jauh umpan itu. Entah apa yang sedang merasuki pikirannya, tapi mata pancing yang telah kosong tak berisi umpan itu dilemparkannya kembali ke sungai. Sambil merenung, Yama memandang ke arah sungai. Matanya terpaku pada pelampung pancingnya yang timbul tenggelam dibawa arus sungai yang tenang. 

Langit mulai berpendar kemerahan dari arah barat. Semilir angin berhembus dengan sejuk. Desir angin yang menghembus dedaunan berpadu dengan gemericik aliran air sungai menciptakan simfoni yang indah. Ditambah dengan nyanyian dari para burung yang terbang berputar, bersiap untuk kembali ke peraduan, membuat suasana sore itu terasa begitu syahdu. 

Tiba-tiba Yama merasakan ada sentakan pada pancingnya. Ia segera menariknya kuat-kuat. Ternyata paman yang aneh itu tidak membual. Inilah ikan yang dimaksudnya itu. Yama belum pernah melihat ikan yang sebesar dan secantik ini. Ia tertawa dalam hati. Teman-temannya pasti tidak akan percaya dengan apa yang ia dapat. Bahkan mungkin tidak akan ada orang yang percaya.

Yama segera merapikan alat pancingnya dan bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang, di warung kopi tak jauh dari tempat itu, Yama kembali bertemu dengan paman yang aneh itu. Dengan ramah ia mentraktir Yama minuman.

“Bagaimana, sudah berhasil mendapatkan ikan?” tanyanya melihat ekspresi Yama yang tampak puas dan senang. 

“Sudang dong! Besar dan cantik,” balas Yama sambil mengacungkan jempolnya. 

Comments

Popular posts from this blog

[CERPEN] Menggambar Mimpi

[CERPEN] Sebelum Lilin Padam

Sebuah Renungan Bagi Umat Manusia