Suatu Momen yang Kita Sebut "Sekarang"
“SEKARANG”
Apa yang anda pikirkan ketika mendengar/membaca kata ini? Hampir pasti jawabannya adalah “saat ini”. Karena memang itulah maksud dari kata “sekarang”. Sebuah kata sederhana yang sering kita temukan dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kata yang kita gunakan untuk menunjuk pada suatu waktu. Sebuah momen yang kita sebut dengan “saat ini”. Lebih jauh lagi, kita bisa mendefinisikan “sekarang” atau “saat ini” sebagai sebuah masa yang berada di antara masa lalu dan masa depan.
Tapi, apa sebenarnya yang kita maksud dengan “sekarang” atau “saat ini” itu?
Ketika kita menyebut “sekarang”, apakah itu artinya jam ini, menit ini, atau detik ini? Ataukah sekarang yang kita maksud sebenarnya menunjuk pada suatu rentang waktu. Sebuah momen yang didefinisikan dengan kegiatan yang sedang kita lakukan?
Contohnya ketika saya mengatakan “sekarang”, maka yang saya maksud adalah momen ketika saya sedang membuat tulisan ini. Tapi, sekarang bagi anda tentunya berbeda. Sekarang anda adalah momen ketika anda membaca tulisan ini. Yang artinya momen yang saya maksud dengan “sekarang” tentunya telah berlalu begitu jauh dari momen “sekarang” anda.
Bahkan lebih daripada itu. Kalau saya lebih menspesifikkan lagi momen yang saya sebut “sekarang” adalah momen ketika kata “sekarang” pertama kali muncul dalam tulisan ini atau ketika anda pertama kali membaca kata itu juga pertanyaannya mengenai apa yang anda pikirkan ketika membaca kata itu dalam tulisan ini, maka tentunya momen itu sekarang sudah terlewat cukup jauh. Sudah puluhan kata juga detik yang terlewat sejak saat itu bahkan tanpa kita sadari.
Jadi, apakah momen yang kita sebut sekarang itu benar-benar ada? Karena pada kenyataannya tanpa kita sadari waktu terus berjalan. Bahkan, meskipun kita diam, waktu tidak pernah menunggu. Ia tetap bergerak menuju suatu arah yang kita sebut dengan masa depan. Kemudian hanya dalam sekejap mata, momen yang kita sebut sekarang itu telah menjadi masa lalu.
Kalau begitu, ketika kita menyebut “sekarang”, tidakkah itu artinya sama dengan menunjuk suatu titik yang ada dalam aliran ruang dan waktu? Suatu titik yang akan terus bergerak menjauh menuju apa yang kita sebut masa lalu. Seperti daun gugur yang terjatuh di permukaan air sungai, perlahan ia menjauh, hanyut dibawa aliran sungai.
Lalu bagaimana dengan eksistensi kita? Bukankah kita hidup di masa “sekarang”, pada “saat ini”? Kalau sekarang hanyalah sebuah titik yang ada dalam aliran ruang dan waktu, maka dapatkah kita mengatakan bahwa eksistensi diri kita ini adalah kumpulan dari titik-titik ini? Atau mungkin lebih mudah menganalogikannya sebagai tumpukan kartu. Tidakkah eksistensi kita muncul dari tumpukan yang dibuat dengan menumpuk satu persatu kartu yang kita sebut dengan “sekarang”?
Comments
Post a Comment