Posts

Showing posts from March, 2026

[CERPEN] Lorong

Lorong yang panjang ini tampak tak berujung. Seperti akar dari sebuah pohon yang menjalar dalam tanah. Belokan, percabangan, persimpangan, terus muncul tanpa ada habisnya. Tidak ada sorot lampu, hanya cahaya bulan yang berpendar kemerahan satu-satunya sumber penerangan untuk membantu menerangi jalan. Entah sudah berapa lama aku berjalan menyusuri lorong ini. Entah sudah berapa belokan dan persimpangan pula yang telah kulalui. Namun ujung dari lorong ini masih belum juga terlihat. Sejauh mata memandang, di kiri dan kanan yang tampak hanya dinding-dinding rumah. Sesekali diselingi oleh pagar tanaman. Tidak ada satupun petunjuk jalan. Lorong ini benar-benar seperti labirin. Labirin! Ya, itu dia kata yang sejak tadi aku cari untuk menggambarkan tempat ini. Sebuah jalan yang menyesatkan. Penuh cabang dan lika-liku yang membingungkan. Lagi pula memangnya kemana arah yang mau aku tuju? Lalu, apa pula yang sebenarnya aku cari di tempat ini? Semuanya aku sudah tidak tahu lagi. Tidak ingat. Mu...

[CERPEN] Menanti Senja di Tanah Nestapa

Di suatu sudut dari sebuah tanah yang hampir terlupakan. Matahari yang mulai condong ke barat, masih berusaha memberikan sinarnya. Menerobos tirai awan kelabu yang melingkupi tempat ini. Melalui suasana yang muram ini aku melangkahkan kaki dengan perlahan. Langkah demi langkah menuju puncak suatu bukit. Namun ini bukanlah bukit biasa. Bukit ini merupakan bukit yang terbentuk dari sisa-sisa peradaban manusia. Benda-benda yang telah usai digunakan, tidak bernilai dan dilupakan. Limbah. Sampah. Suatu jejak yang ditinggalkan manusia, kepada alam, dan untuk manusia lain di generasi selanjutnya. Dalam sebuah lubang yang luas ini, berbagai jenis sampah dibiarkan menumpuk. Lubang ini dulunya merupakan sebuah bukit, yang kemudian digali karena keserakahan manusia. Setelah habis semua isinya dan tidak dapat dimanfaatkan lagi, kemudian ditinggalkan. Dijadikan tempat untuk membuang sampah-sampah yang mungkin berasal dari seluruh negeri. Karena yang jelas, tempat ini sejatinya tidak akan memprodu...

[CERPEN] Pesta Pora Para Pendusta

Denting suara gelas, piring dan garpu saling beradu, berpadu dengan riuhnya suara tawa, senda gurau, racauan para pendusta bergema memenuhi dinding pualam ruangan besar itu. Makanan dan minuman beraneka ragam, beraneka rupa, beraneka rasa memenuhi meja-meja bundar tempat para pendusta saling duduk bercengkrama menikmati segala kenikmatan dunia. Lampu-lampu kristal menyala terang benderang menyinari seluruh sudut, membuat menara gading itu tampak berkilau agung di tengah negeri yang sedang gelap gulita. Dalam sebuah ruangan di puncak menara gading inilah para pendusta menyelenggarakan pestanya. Tua, muda, pria, wanita berbaur menjadi satu. Masing-masing dari mereka sibuk mencicipi berbagai hidangan yang tersedia. Daging, sayur, kue, manisan, asinan, berbagai macam, berbagai rupa. Segala kenikmatan dunia seolah tersedia disana. Air nira yang manis serta anggur yang memabukkan tak henti-hentinya membasahi kerongkongan mereka. Beberapa pria dan wanita berdansa dengan asiknya, menyanyi dan ...

[CERPEN] Lumbung Terbakar

Desa Sukatani adalah desa yang sangat makmur. Para penduduknya yang kebanyakan petani adalah orang-orang yang sangat giat dan ulet dalam bekerja. Selain itu, tanah pertanian di daerah Desa Sukatani dikatakan merupakan tanah yang paling subur dan produktif di seantero negeri. Daerah mereka juga tidak pernah mengalami kekeringan. Hampir setiap tahun, air melimpah, sumur-sumur pun tidak pernah kering. Karena itulah apapun yang ditanam di lahan pertanian Desa Sukatani selalu tumbuh subur dan akan menghasilkan panen yang berlimpah. Untuk menyimpan dan mengelola hasil panen yang berlimpah tersebut, para penduduk Desa Sukatani membangun sebuah lumbung yang begitu besar. Lumbung itu dapat menampung berton-ton beras juga hasil bumi lain yang dihasilkan oleh seluruh lahan pertanian desa. Karena kemegahannya, lumbung itu menjadi lambang kemakmuran dan kesejahteraan di desa mereka. Semua hasil panen yang disimpan disana tidak semata-mata hanya digunakan untuk kepentingan pribadi warga desa, tetapi...

[CERPEN] Manusia Pohon

“Kalau makan buah pelan-pelan. Jangan sampai bijinya tertelan, nanti bisa tumbuh di dalam perutmu.” Suara neneknya yang merdu dan berwibawa itu terdengar di telinganya. Entah kenapa Taru tiba-tiba mengingat nasihat neneknya itu. Namun terlambat, akibat terlalu rakus ia telah menelan biji buah itu. Yah, tak apalah. Lagipula apa yang dikatakan neneknya dulu itu tentunya hanyalah mitos. Mana mungkin biji buah yang tertelan itu bisa tumbuh dalam perut. Sungguh sangat tidak masuk akal. Walaupun mungkin biji buah itu bisa menyebabkan radang usus buntu, tapi itupun juga belum terbukti secara medis. Biarlah perutnya nanti yang akan mengurus semua itu, pikirnya. Taru tidak tahu apa nama buah yang ia makan, yang jelas buah yang ditemukannya di hutan ini benar-benar sangat nikmat. Meskipun bijinya lumayan banyak, namun rasa manisnya benar-benar membuatnya mengabaikan semua itu. Mungkin itulah sebabnya ia sampai kalap menelan biji buah itu, selain juga karena kelaparan setelah seharian tersesat di...

[CERPEN] Babi Ngepet

Di tengah kegelapan malam, hewan itu terus berlari. Menghentakkan kakinya sekuat tenaga menjauhi para pengejarnya. Tidak jauh dibelakangnya terdengar riuh suara derap langkah kaki, sorak-sorakan, juga kilatan lampu senter yang menyilaukan berusaha mengikuti jejak langkahnya. Hewan itu tidak punya pilihan selain terus menggerakkan kakinya, berusaha fokus menghindari halangan serta rintangan yang bisa menghalangi jalannya. Karena sekalinya ia gagal berlari, apalagi sampai tersandung maka para pengejarnya akan berhasil menangkapnya, yang mana berarti tamat sudah riwayatnya. Sambil berlari, matanya awas memperhatikan lingkungan sekitarnya. Berusaha mencari tempat untuk sembunyi karena tentunya ia tidak bisa terus menerus berlari. Ia harus bisa kabur meninggalkan para pengejarnya secepat mungkin, atau mencari tempat untuk bersembunyi menunggu hingga keadaan tenang sebelum akhirnya kembali ke tempat asalnya. Namun sayangnya yang tampak disekitarnya hanyalah bangunan berdinding bata berbalut ...

[CERPEN] Burung Perkutut Pak Dono

Sabtu sore yang cerah itu, Pak Dono memutuskan untuk berkunjung ke rumah Pak Rahman, sahabatnya. Selain karena tidak ada kegiatan yang ia kerjakan saat itu, sudah lama pula ia tidak berkunjung ke rumah Pak Rahman. Ia ingin menantang sahabatnya itu bermain catur. Sesampainya di rumah Pak Rahman, selain disambut oleh sang pemilik rumah, Pak Dono juga disambut oleh merdunya kicauan burung-burung peliharaan Pak Rahman. Sebagaimana diketahui orang-orang, Pak Rahman memang terkenal hobi memelihara burung kicau. “Wah, dilihat-lihat sepertinya bertambah lagi nih koleksinya pak,” komentar Pak Dono kagum melihat koleksi burung sahabatntya. “Yah, cuma nambah tiga ini Pak Don. Tapi yang ini,” Pak Rahman menunjuk salah satu burung koleksi barunya. “Yang ini baru istimewa. Baru menang kontes,” tambah Pak Rahman bangga. Pak Dono hanya bisa berdecak kagum melihatnya. “Kalau boleh tahu, harganya berapa pak?” tanya Pak Dono penasaran. Sebelum menjawab, Pak Rahman melirik dengan waspada kesekitarnya seo...

[CERPEN] Pelajaran dari Laba-laba

Nara menjejakkan kakinya, langkah demi langkah melalui jalan setapak pada suatu taman di tepi danau. Daerah tepian danau itu memang banyak dikunjungi orang untuk berkegiatan. Sekedar melepas penat dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari atau berolahraga demi kebugaran jasmani. Begitu pula keadaannya pada sore itu. Beberapa orang tampak duduk berjejer di pinggir danau – sedang memancing. Beberapa pasangan pemuda pemudi dan juga keluarga duduk bersantai di sebuah tanah lapang menikmati indahnya pemandangan danau. Pedagang asongan hilir mudik menjajakan dagangannya. Sekelompok anak-anak tampak sedang bermain bola, ada juga yang berusaha menerbangkan layang-layang. Bukan hanya di tepi danau, di tengah danaupun tampak beberapa orang sedang mengayuh perahu mengelilingi danau. Namun berbeda dengan keadaan disekelilingnya, Nara tampak terisolasi dari hiruk pikuk orang-orang disekitarnya. Matanya tidak memperhatikan pemandangan disekitarnya, hanya berfokus pada langkah kakinya, pada jalan setapa...

[CERPEN] Pesta Topeng

“Topeng macam apa ya yang harus kupakai?” pikirku dalam hati. Aku berpikir keras dalam kamarku. Benakku tidak tenang memikirkan hal ini. Beberapa hari lalu, pimpinan perusahaan tempatku bekerja memutuskan akan mengadakan pesta topeng untuk memperingati hari jadi perusahaan. Kenapa harus pesta topeng? Akupun tak tahu. Memang ada-ada saja ide dari bapak pimpinan itu. Tahun lalu diadakannya peta kostum yang membuatku mau tidak mau harus mengenakan kostum badut. “Pilihlah kostum yang mencerminkan diri anda sendiri,” katanya, dan entah saran dari siapa yang kuturuti pada saat itu. “Sepertinya kamu cocok kalau memakai kostum badut,” kata salah satu rekan kerjaku itu sambil tertawa. Mungkin saja itu hanya olok-olok belaka, tapi toh pada akhirnya kuturuti juga saran itu. Tak tahu karena sudah terlalu malas berpikir atau memang dalam hati kecilku aku mengakui bahwa kecerobohan, kebodohan dan kekonyolan yang sering kulakukan di tempat kerja itu memang sudah selayaknya badut. Maka begitulah, aku ...